NASA dan ESA Bergabung Untuk Belokkan Asteroid yang Akan Tabrak Bumi

TEKNOLOGI | 5 September 2019 14:43 Reporter : Indra Cahya

Merdeka.com - Deretan peneliti asterois serta insinyur pesawat ruang angkasa dari Amerika Serikat, Eropa, dan dari seluruh penjuru dunia akan berkumpul.

Bukan sembarangan, mereka berkumpul di Roma untuk tujuan ambisius, yakni membelokkan asteroid di antariksa.

Misi gabungan dari deretan agensi antariksa dunia seperti ESA dan NASA ini, dikenal dengan Asteroid Impact Deflection Assessment, atau AIDA. AIDA merupakan teknik pembelokan orbit asteroid bernama Didymos yang akan melintasi Bumi dan Mars.

Pembelokan ini dilakukan dengan cara menabrakkannya dengan sebuah pesawat ruang angkasa.

Tujuan dari perkumpulan ini tentu, untuk menguji apakah teknik ini layak. Pasalnya beberapa hal memang harus dibicarakan, mulai dari survei lokasi penabrakan asteroid, hingga dampak pasca pembelokan dengan teknik menabrak ini.

1 dari 3 halaman

Dihelat September Ini

Workshop AIDA ini akan dilakukan tiga hari, yakni dari 11 hingga 13 September di Roma. Dalam pertemuan ini, berbagai pihak akan membicarakan kesiapan pesawat AIDA.

Sebelumnya memang pesawat untuk menabrak asteroid ini telah disiapkan, yakni dua buah pesawat besar serta satu buah pesawat nano yang lebih kecil, yang diletakkan di atas pesawat yang lebihbesar.

Dalam pertemuan ini akan dibahas pula soal kampanye astronomi global yang dilakukan untuk mempelajari lebih lanjut soal asteroid Didymos yang merupakan salah satu asteroid yang terdekat dengan Bumi.

2 dari 3 halaman

Kontribusi NASA dan ESA

Dalam misi AIDA, NASA mengembangkan DART yakni sebuah pesawat ruang angkasa yang akan ditabrakkan dengan asteroid. Saat ini sendiri, pesawat ini telah masuk ke tahap konstruksi.

Rencananya, pesawat ini akan diluncurkan pada pertengahan tahun 2021 mendatang, untuk bertabrakan dengan targetnya pada September 2022.

Akan terbang bersama DART adalah sebuah satelit miniatur buatan Italia bernama CubeSat dan LICIACube, untuk merekam semua momen tabrakan asteroid ini.

Sementara untuk ESA, agensi antariksa Eropa ini akan melancarkan misi bernama Hera, yang melakukan survei close-up kepada asteroid pasca tabrakan. Hal ini berupa pengukuran massa asteroid, pengecekan bentuk kawah, dan sebagainya.

Hera ini juga akan membawa satelit mini CubeSat untuk melakukan penyelidikan radar.

Hasil dari penelitian Hera digunakan para ilmuwan untuk membuat tabrakan dengan efisiensi lebih baik. Tentu, ini adalah persiapan jika ada asteroid yang orbitnya jauh lebih mengancam Bumi untuk dihantam.

3 dari 3 halaman

Tentang Asteroid Didymos

Didymos adalah sebuah sistem asteroid yang dekat Bumi, berukutan 780 meter. Jika dibandingkan, ukurannya mirip dengan Piramida Mesir. Asteroid ini punya sebuah bulan kecil dengan diameter 160 meter, sehingga diberi nama Didymos yang dalam bahasa Yunani berarti kambar.

Asteroid yang ditemukan pertama kali tahun 1996 ini, diklasifikasikan sebagai yang berpotensi berbahaya untuk menghantam Bumi.

Didymos dipilih karena massa dan gravitasi yang kecil dari tubuh asteroidnya. Hal ini membuat orbitnya paling mungkin untuk dibelokkan dengan cara tabrakan. (mdk/idc)

Baca juga:
5 Benda Teraneh yang Ada di Luar Angkasa, Mulai Planet Donat Hingga Lubang Putih!
Deret Fakta Soal Asteroid yang Disebut Hantam Bumi 9 September Mendatang
7 Bencana Luar Angkasa Yang Mungkin Bisa Hancurkan Bumi
Asteroid Besar Akan Lewat Dekat Bumi, Tidak Bahaya
5 Fakta Luar Biasa Tentang Ruang Angkasa
Starman dan Roadster Besutan SpaceX Akhirnya Berhasil Kelilingi Matahari
Asteroid Sebesar Menara Eiffel Lewat Dekat Bumi, Astronom Gelisah