Pasar Data Center di Indonesia Tumbuh 30 Persen Setiap Tahun

TEKNOLOGI | 13 November 2019 16:41 Reporter : Fauzan Jamaludin

Merdeka.com - Pertumbuhan pasar data center dari tahun ke tahun tumbuh semakin baik. Kenaikan ini, tidak lepas dari jumlah penetrasi pengguna internet di Indonesia.

Kini jumlah pengguna internet di Republik ini berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2018 mencapai 171,17 juta jiwa.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Data Center Indonesia (IDPRO), Hendra Suryakusuma, pasar data center tumbuh 30 persen setiap tahunnya sejak 2014. Saat ini saja, market size data center di Indonesia telah mencapai 50 MW. Angka itu berasal dari survei CBRE Asia Pacific Data Center Trends.

"Berdasarkan data tersebut, dipredikasikan tahun 2021 mencapai 70 MW. Jadi kalau kita lihat, dari sisi perkembangan digital ekonomi ada korelasinya dengan perkembangan data center," ujar Hendra saat diskusi di kantor DCI Indonesia, Jakarta, Rabu (13/11).

Dilanjutkannya, di tahun ini saja sudah ada tiga perusahaan data center baru yang beroperasi. Salah satunya adalah Amazon Web Services (AWS). AWS, kata Hendra, telah melakukan investasi sebesar Rp 14 Triliun dalam waktu 10 tahun. Data center pertama mereka pun telah dibangun.

"Mereka pasti akan bangun data center lagi. Jadi gak hanya satu saja," jelasnya.

1 dari 1 halaman

Masih Tertinggal

Meski menunjukkan pertumbuhan pasar yang cukup baik, namun pada dasarnya jika dibandingkan dengan Singapura, market size data center negeri ini kalah jauh.

Berdasarkan data dari CBRE-Asia Pacific Data Center Trends (Q12019), market size Indonesia untuk data center baru mencapai 50 MW. Sementara tingkat okupansinya pun masih rendah. Berkisar di angka 30 MW.

Sedangkan Singapura, market size-nya telah mencapai 359,8 MW dan tingkat keterisiannya sekitar 251 MW.

"Pertama, pastinya melihat angka itu sedih. Kenapa? Indonesia itu dengan penduduk 264 juta jiwa dan jumlah pengguna internetnya telah mencapai 64,8 persen harusnya bisa melebihi Singapura," ujar CEO PT Data Center Indonesia, Toto Sugiri.

Toto melanjutkan, besarnya market size di Singapura dibandingkan di Indonesia, diduga lantaran banyak perusahaan-perusahaan asing yang meletakan data center-nya di sana. Termasuk, perusahaan-perusahaan yang melakukan operasionalnya di Indonesia.

"Seperti Facebook dan lain-lain meletakan data center-nya di sana," kata dia.

Ia pun mengatakan, harusnya perusahaan-perusahaan asing yang melakukan operasionalnya di Indonesia, memiliki juga data center di negeri ini. Akan ada banyak manfaat yang bisa didapatkan jika mau memaksa mereka menaruh data center-nya di Indonesia. Salah satunya pajak.

(mdk/faz)

TOPIK TERKAIT