Penjelasan Ilmiah Mengapa Setiap Orang Punya 'Ritual'

TEKNOLOGI » MAKASSAR | 12 Januari 2019 04:00 Reporter : Indra Cahya

Merdeka.com - Apakah Anda memiliki ritual keberuntungan? Seperti cium tangan orang tua sebelum menghadapi peristiwa besar atau penting, atau menggunakan parfum tertentu untuk menjalani rapat penting, atau berbagai ritual keberuntungan semacamnya.

Hal ini tak disangka sangat populer, terutama bagi para seniman serta atlet. Jika ditanya, setiap penampil dan atlet pasti memiliki ritual keberuntungan tertentu yang pasti dilakukan sebelum mereka tampil atau bertanding. Secara tak disadari, hal ini akan memberi sugesti keberuntungan pada mereka.

Rafael Nadal, salah satu petenis terbaik dunia, memiliki ritual antara lain mandi tepat 45 menit sebelum pertandingan, mengarahkan label botol minum ke arah lawan, serta mengusap wajah dengan handuk tiap mendapatkan poin.

Jadi, hal ini sangan lazim dilakukan setiap orang, mungkin termasuk Anda.

Tentu, hal ini diasosiasikan sebagai takhayul dan tidak memiliki dasar ilmiah. Namun hal ini sedikit dibahas di ranah psikologi. Ritual untuk mengurangi tingkat kecemasan adalah salah satu cara untuk meredam gejala OCD atau obsesive-compulsive disorder.

Meski demikian ritual ini tak cuma untuk orang dengan OCD. Seorang psikolog dari University of Chicago, Jane Risen, seperti dikutip dari Medical Daily, menyebut bahwa orang dewasa yang cerdas, berpendidikan, serta stabil secara emosional pun memiliki ritual yang tak bisa dirasionalkan.

Hal ini muncul berkat perasaan yang terkoneksi antara dua peristiwa yang sebenarnya tak terkait. Contoh kecil adalah ketika Anda mengerjakan ujian dengan hasil yang gemilang, dan ketika itu Anda mengenakan kemeja putih. Anda secara sadar atau tidak sadar akan bertanya pada diri Anda sendiri, apakah harus menggunakan kemeja putih ini lagi agar kembali sukses.

Fenomena ini dijelaskan oleh Tom Gilovich, seorang profesor psikologi dari Cornell University.

"Hal tersebut tidak ada kaitannya dengan rasional. Namun entah bagaimana Anda merasa seperti mengadu nasib dan Anda suka memiliki rasa kontrol terhadap hasil kehidupan yang tak terduga," ungkap sang profesor.

Jadi, jika misalnya kita berhasil mengerjakan ujian dengan mengenakan kemeja putih, itu sebenarnya hanya ilusi. Namun ketika kita berhasil melakukan sesuatu setelah sebelumnya melakukan ritual, tubuh kita merasakan perasaan senang karena seakan memiliki 'kontrol' terhadap hasil akhir.

Meski demikian, hal yang bukan merupakan ilusi adalah efek relaksasi yang bisa terjadi pada kondisi mental kita ketika melakukan ritual tersebut. Para psikolog menunjukkan bahwa melewatkan ritual bisa meningkatkan kecemasan dan menurunkan kepercayaan diri selama peristiwa penting.

Jadi, penyebab besar dari semua hal ini adalah kesiapan kita dalam menghadapi kenyataan. Kita gelisah untuk menghadapi hasil akhir dari peristiwa yang harus dijalani, dan ritual ini membuat kita tenang menghadapinya.

Ini sama halnya dengan kita menekan tombol lift berulang kali meskipun itu tidak berguna, hanya karena kita cemas dan tidak akan tenang sebelum lift terbuka.

Baca juga:
5 Fenomena Antariksa yang Layak Dinanti di Tahun 2019
Ilmuwan: Manusia Rata-rata Mampu Kenal 5.000 Wajah Berbeda
Deretan Fakta Soal Awan Cumulonimbus yang Selimuti Makassar, Bentuknya Mirip Tsunami!
Penjelasan Ilmiah Soal Nikmatnya Mendengarkan Musik Sebelum Tidur
4 Ramalan 2019 Nostradamus, Pemanasan Global Hingga Perang Dunia III!
Meski Kurang Dikenal, 7 Dinosaurus ini Jauh Lebih Seram Dari T-Rex!
7 Fakta Mencengangkan Soal Megahnya Teknologi Gedung Pencakar Langit

(mdk/idc)