Perubahan Iklim, Ilmuwan Sebut 10 Kota ini Akan 'Hancur' Dalam 80 Tahun

TEKNOLOGI | 18 Oktober 2019 00:01 Reporter : Indra Cahya

Merdeka.com - Perubahan iklim adalah hal yang nyata, dengan berbagai penelitian dan bukti nyata yang kita rasakan juga nyata pula. Belum lagi bencana seperti badai ekstrem, banjir, gelombang panas, serta kekeringan, yang makin parah karena pemanasan global.

Bahkan menurut prediksi dari The Intergovernmental Panel, disebut bahwa temperatur global akan naik 1,5 derajat Celcius di tahun 2040. Dalam pergantian abad 80 tahun nanti, suhu bisa naik lebih gila lagi, dan bencana bisa menelan sebuah kota.

Di masa depan, kota-kota besar bahkan punya risiko dan potensi untuk fatal dalam menghadapi perubahan iklim ini. Diperkirakan di tahun 2100 nanti, banyak hal yang akan berubah di kota-kota besar, karena dampak buruk perubahan iklim.

Berikut deretan kota yang hilang dalam 80 tahun ditelah perubahan iklim. Melansir Business Insider,

1 dari 10 halaman

Miami

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan tahun 2016 di Nature Climate Change, seorang ilmuwan bernama Mathew Hauer melihat adanya risiko kenaikan permukaan laut di pesisir AS.

Dari prediksi yang ia hitung, dari 2010 hingga 20100 nanti, akan ada lebih dari 13 juta orang terpapar kenaikan permukaan laut hingga hampir 2 meter. Daerah pesisir yang paling rentan terkena adalah Miami dan Broward yang keduanya ada di negara bagian Florida.

Sang ilmuwan menyebut bahwa tinggi hampir dua meter tentu mengerikan, karena itu lebih tinggi dari rata-rata manusia. Jadi, Miami bahkan belum dianggap memadai untuk mengantisipasi datangnya bencana itu.

2 dari 10 halaman

New Orleans

Hauer juga menyebut bahwa New Orleans adalah salah satu yang rentan tenggelam. Pasalnya jika permikaan air laut naik 900 centimeter saja, ada 100.000 penduduk kota yang ada di negara bagian Louisiana yang tergenang. Ini adalah sepertiga dari total penduduk kota itu.

3 dari 10 halaman

Chicago

Menurut ilmuwan iklim di University of Michigan bernama Richard Rood, Chicago jadi salah satu zona panas terparah di AS.

Chicago sendiri pernah dilanda gelombang panas berbahaya yang menewaskan lebih dari 700 orang di 1995 lalu. Kala itu, suhu luar mencapai 41 derajat Celcius. Sementara, temperatur bola basah (tempeatur panas dan kelembaban) mencapai 30 derajat Celcius.

Studi telah menemukan bahwa paparan suhu bola basah yang lebih dari 35 derajat Celcius akan fatal. Hal ini dikarenakan tubuh manusia tidak dapat lagi mendinginkan dirinya sendiri.

Berita buruknya, Rood menyebut bahwa gelombang panas semacam ini bisa menghantam Chicago kapan saja. Hal ini mengingat perubahan iklim sudah mengacaukan tingkat kelembaban dan temperatur kontinental, terutama di musim panas.

4 dari 10 halaman

Dubai

Berdasarkan sebuah studi di tahun 2015 lalu, para ilmuwan dari MIT menyebut teluk Persia sebagai "hotspot" di mana perubahan iklim akan punya dampak paling mengancam kehidupan.

Studi yang sama menemukan bahwa kota-kota di teluk Persia seperti Dubai, akan memiliki suhu setinggi 45 derajat di 2070 mendatang.

Warga Dubai sendiri kini makin malas keluar rumah di musim panas, yakni Juni hingga September. Dideskripsikan, keluar dari rumah ber-AC menuju panasnya Dubai seperti "membuka pintu oven terlalu dekat."

Tak cuma itu, bahkan di Abu Dhabi secara keseluruhan, di 2070 akan menemui temperatur paling tinggi hingga 52 derajat Celcius.

5 dari 10 halaman

Jakarta

Selama lebih dari satu dekade ke belakang, Jakarta sudah menemui masalah banjir. Bencana ini menemui keparahannya pada 2007 dan 2013 silam, di mana banjir menelan korban jiwa, dan kerugian yang tak terhitung.

Jakarta sendiri memang punya separuh area yang ketinggiannya berada di bawah permukaan laut, dipadu dengan tenggelamnya permukaan tanah hingga 17 centimeter tiap tahunnya.

Dari penelitian yang dilansir BBC, 95 persen dari daerah Jakarta Utara akan berada di bawah genangan air di tahun 2050 mendatang.

6 dari 10 halaman

Shanghai

Daratan Tiongkok Utara yang merupakan rumah bagi sekitar 400 juta penduduk, disebut akan menemui gelombang panas yang luar biasa di akhir-akhir abad ini.

Dalam sebuah studi tahun 2018 yang dipublikasikan di Nature Communications, disebut bahwa tahun 2070 hingga 2100 akan jadi tahun yang buruk-buruknya untuk temperatur di sana. Kota yang paling para terkena dampaknya adalah Shanghai, yang dihuni oleh 25 juta penduduk.

Disebut, dalam 30 tahun mendatang, Shanghai akan mengalami setidaknya lima kali temperatur panas dan lembab yang ekstrem.

7 dari 10 halaman

Beijing

Beijing adalah bagian dari Dataran Tiongkok Utara, yang tentunya juga rentan terhadap gelombang panas ekstrem.

Parahnya, Beijing adalah penghasil gas rumah kaca yang merupakan kontribusi dari polusi udara. Saat ini saja, kabut asap sudah menyelimuti Beijing setiap saat. Hal ini memaksa penduduk untuk mengenakan masker tiap keluar rumah.

Polusi sendiri merupakan sesuatu yang lebih mematikan dari merokok, karena berdasarkan statistik, polusi telah merenggut 15 kali lebih banyak orang ketimbang perang dan kekerasan.

Berdasarkan studi, dalam estimasi beberapa dekade mendatang akan ada 9 juta orang di Beijing yang meninggal sebelum waktunya karena terserang penyakit yang berhubungan dengan polusi.

8 dari 10 halaman

New Delhi

Temperatur ekstrem di Delhi, India, adalah sesuatu yang serupa dengan yang ada di Shanghai dan Beijing.

Dalam sebuah analisis yang dipublikasikan tahun 2017 lalu, suhu bila basah di deretan kota di Asia Selatan seperti Delhi, bisa mencapai 35 derajat Cekcius, di mana ini adalah titik fatal. Skenario ini akan terjadi tiap 25 tahun sekali.

9 dari 10 halaman

Bangladesh

Bangladesh memang bukanlah kota. Namun jika berbicara dampak, ini adalah negara yang dampak perubahan iklimnya paling terasa nyata.

Negara di Asia Selatan ini rentan terhadap gelombang panas, dan sudah sering dilanda banjir bandang yang mematikan. Bahkan di 2017 lalu, terdapat banjir yang dialami lebih ari 8 juta orang dan menewaskan 140 orang.

Erosi tepi sungai pun menggusur 200.000 orang tiap tahunnya.

Menurut data dari Intergovernmental Panel on Climate Change, Bangladesh akan kehilangan 20 persen daratannya, jika air laut naik 900 centimeter saja.

Parahnya, kenaikan air laut sudah terjadi saat ini, dan apa yang disebut sebagai "pengungsi iklim" sudah banyak melarikan diri dari tempat-tempat yang tergenang.

10 dari 10 halaman

Lagos

Lagos adalah kota terbesar di Nigeria. Pertumbuhan populasi penduduk makin tinggi, yang juga menambah risiko naiknya permukaan laut. Hauser menyebut bahwa Lagos sendiri dari awal sudah rentan banjir, karena berada di dataran rendah dan ada di delta sungai.

Pada 2026 diperkirakan Lagos akan dilanda banjir yang akan merugikan jutaan orang hingga merenggut nyawa ratusan ribu orang lainnya.

Lebih buruk lagi, frekuensi banjir akan meningkat pesat dari tahun ke tahun dipadu cuaca ekstrem, yang akan membuat Lagos sulit pulih dari tiap peristiwa ini.

Meski demikian, hal ini masih bisa diselamatkan dengan perencanaan infrastruktur yang tepat. Tentu dengan dukungan regulasi dari Pemerintah. (mdk/idc)

Baca juga:
Wapres JK Bahas Kekagumannya Pada Greta Thunberg di Pertemuan SDG's 2019
Begini Kondisi Pecahan Gunung Es di Antartika
Greta Thunberg Raih Penghargaan
Presiden Trump Ejek Aktivis Iklim Greta Thunberg di Twitter
Ketika Suara Belia Paksa Pemimpin Dunia untuk Bertindak Bagi Bumi
Greta Thunberg Berpidato Emosional di Hadapan Para Pemimpin Dunia di KTT Iklim PBB
PlayStation 5 Diklaim Lebih Hemat Energi

TOPIK TERKAIT