Rusdy Rukmarata: Penjelajah Ruang Digital demi Berkesenian dan Kolaborasi

Rusdy Rukmarata: Penjelajah Ruang Digital demi Berkesenian dan Kolaborasi
Rusdy Rukmarata, koreografer dan direktur artistik EKI Dance Company. ©2021 Merdeka.com
TEKNOLOGI | 22 Juni 2021 21:04 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - Sudah dua tahun pandemi Covid-19 berdampak terhadap semua lini kehidupan termasuk seni. Pementasan yang mengundang penonton dihentikan, gedung pertunjukan dan tempat pentas lain mendadak sepi. Namun, seni tidak boleh mati.

Adaptasi, itulah yang dilakukan di berbagai bidang agar tetap hidup, termasuk seni yang beradaptasi dengan menjelajah ruang virtual di dunia internet.

Adalah Rusdy Rukmarata (59), koreografer dan direktur artistik EKI (Eksotika Karmawibhangga Indonesia) Dance Company melakukan jelajah itu sejak pertengahan 2020.

Terkait hal itu, Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) mengundang Rusdy menjadi dosen tamu memberikan materi “Surfing along the way of time” atau bagaimana terus-menerus membuat adaptasi menyiasati berbagai tantangan termasuk saat pandemi.

“Kolaborasi, bisa jadi kunci yang dibutuhkan seni untuk dapat beradaptasi dalam situasi seperti apa pun,” kata Rusdy dalam keterangannya, Selasa (22/6).

Di awal pandemi, bersama Yola Yulfianti, Rusdy saat menjabat anggota Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta, menggagas platform panggung virtual di Youtube dengan nama Indonesia Dance Network (IDN).

Salah satu programnya adalah Saweran Online, yang bekerja sama dengan platform OVO, sehingga memungkinkan penonton di mana saja, mengapresiasi karya-karya tari di IDN dengan cara menyawer.

Kemudian bersama dengan sutradara film Nia Dinata, penulis skenario film Titien Wattimena, musisi Oni Krisnerwinto dan sejumlah seniman lainnya, Rusdy menggarap film musikal Lutung Kasarung #musikalDiRumahSaja. Program ini diselenggarakan oleh IndonesiaKaya dan Boowlive.

Secara pencapaian jumlah penonton, musikal Lutung Kasarung mencapai lebih dari 500.000 viewers dalam waktu seminggu.

“Hal ini sangat fantastis, karena kalau dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta yang berkapasitas 500 tempat duduk, butuh berapa lama untuk mencapai angka ini,” kata Rusdy.

Selama 2020, Rusdy juga berkesempatan menggarap dua film musikal lain, yaitu Jaka Tarub dan Calon Arang. Kedua film ini ditayangkan di TVRI. Proyek yang baru diselesaikan alumnus London Contemporary Dance School, adalah menggarap pertunjukan Milenium Pancasila untuk sekolah Santa Ursula BSD, bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila 1 Juni.

Pertunjukan ini ditampilkan di kanal youtube SMA St. Ursula dan EKI Dance Company. Untuk ke depannya, juga ada penggarapan Konser Musikal ‘Mimpi’ yang diprakarsai oleh Karya Musik Indonesia dan Benih Baik, berkolaborasi dengan MetroTV.

Kolaborasi serta pentas masih akan terus digelar dengan berbagai kreasi yang ada. Rusdy Rukmarata, bisa jadi satu di antara sedikit seniman yang terus berupaya dan tetap punya daya untuk berkarya.


EKI Dance Company

Sekitar 25 tahun lalu, sebelum EKI Dance Company terbentuk, setiap kali menggelar produksi pertunjukan, Rusdy dan penari lain dipusingkan urusan jadwal, karena penari yang tergabung dalam produksinya juga sedang terlibat produksi lain. Proses latihan jadi tidak maksimal dan tidak jarang harus batal karena penari yang tergabung dalam produksi tidak banyak jumlahnya.

Untuk mengatasi hal ini, Rusdy putar otak, tenaga dan dana untuk kemudian merekrut sejumlah remaja yang bisa jadi tidak memiliki bakat seni baik. Sepanjang mereka mau dilatih dan kerja keras untuk jadi penari, sudah cukup buat Rusdy.

“Saya mengajak sejumlah teman dan rekan senior untuk mau jadi guru mereka, bukan saja kelas teknik menari juga sastra, etika, bahkan filsafat,” ujar Rusdy mengenang langkahnya mendirikan EKI Dance Company.

Para remaja yang belum memiliki kemampuan menari dilatih dan berproses. Untuk menjadikan mereka penari profesional adalah pekerjaan yang lain lagi. Beberapa di antara remaja yang direkrutnya sempat terlibat urusan yang tidak ringan, seperti produk keluarga yang berantakan, pemakai narkoba, hingga keterikatan pada seks.

“EKI, menjadi dance company juga bengkel, buat remaja yang ingin memperbaiki hidupnya melalui seni. Dengan kerja keras dan kolaborasi dengan banyak pihak, kami bisa terus ada hingga 25 tahun,” ujarnya. (mdk/sya)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami