Selesai Refarming, Kemkominfo Sebut Layanan 4G Operator Bisa Merata

TEKNOLOGI » BANYUWANGI | 8 April 2019 14:44 Reporter : Fauzan Jamaludin

Merdeka.com - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menyatakan telah selesai menginstruksikan operator untuk menyelesaikan penataan ulang atau refarming pita frekuensi radio 800 MHz dan 900 MHz.

Penyelesaian refarming memungkinkan operator telekomunikasi jaringan bergerak seluler mengefisiensikan dan optimasi layanan sehingga membuka peluang lebih besar bagi masyarakat yang belum dapat menikmati 4G menjadi dapat menikmati layanan 4G.

Berdasarkan data dari Direktorat Pengendalian Ditjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kemkominfo, sampai awal tahun 2019 cakupan sinyal 4G di Indonesia sudah mengcover 63.862 desa dan kelurahan di seluruh Indonesia atau sekitar 76,74 persen.

"Pemerintah terus berupaya menyediakan akses informasi secara universal bagi masyarakat di seluruh Nusantara dengan peningkatan dan perluasan konektivitas nasional melalui program peningkatan jangkauan layanan telekomunikasi. Guna menyediakan layanan mobile broadband (4G) yang berkualitas, ketersediaan spektrum frekuensi radio yang memadai menjadi keharusan," kata Plt Kepala Biro Humas Kemkominfo, Ferdinandus Setu dalam keterangan persnya, Senin (8/4).

Sebelum refarming, dari seluruh pita frekuensi radio yang digunakan oleh penyelenggara jaringan bergerak seluler, masih terdapat penetapan pita feekuensi radio yang belum berdampingan (not contiguous), yaitu pita frekuensi radio 800 MHz dan 900 MHz yang digunakan Telkomsel.

Jika pita frekuensi yang dikelola operator telekomunikasi terpecah ke dalam beberapa blok terpisah dalam satu pita frekuensi, maka akan menjadi penghambat bagi operator telekomunikasi dalam menyediakan layanan broadband seperti 3G/4G atau bahkan 5G.

Oleh karena itu, dengan refarming akan didapatkan penetapan pita frekuensi radio yang berdampingan (contiguous) untuk seluruh operator seluler sehingga setiap operator seluler dapat lebih leluasa dan fleksibel dalam meningkatkan teknologi seluler yang diimplementasikannya.

Sebelum penataan pita frekuensi radio 800 MHz dan 900 MHz, pemerintah pernah melakukan penataan ulang pita frekuensi radio. Pertama pada tahun 2015 untuk pita frekuensi radio 1800 MHz. Kemudian penataan pita frekuensi radio 2.1 GHz yang berlangsung pada tahun 2010, 2013, 2014, dan 2017-2018.

"Dengan penataan itu, operator seluler juga bisa memilih jenis pengkanalan jaringan yang paling sesuai dengan kondisi traffic layanan selulernya pada suatu wilayah. Pada akhirnya, masyarakat pengguna layanan seluler akan dapat menikmati kualitas yang lebih baik dan lebih stabil," kata pria yang karib disapa Nando ini.

Dengan penataan frekuensi yang contiguos, operator seluler dapat meningkatkan teknologi yang digunakan saat ini, dari semula 2G menjadi 3G atau 4G. Atau dari semula kapasitas 3G/4G yang terbatas menjadi lebih besar lagi kapasitasnya.

Bahkan, dengan pelaksanaan refarming, Kemkominfo mendorong operator seluler untuk percepatan perluasan cakupan wilayah mobile broadband 4G (LTE) ke daerah-daerah yang belum dapat menikmati layanan 4G sehingga dapat menjadi akselerator pertumbuhan ekonomi masyarakat luas.

Baca juga:
Perlu Aturan Khusus Permudah Penyelenggara Jaringan Berikan Layanan di Ruang Publik
XL Sosialisasikan Aplikasi Laut Nusantara di Banyuwangi
Operator Tri Indonesia Ujicoba Teknologi LAA, Apa itu?
Satelit Nusantara Satu Disebut Siap Beroperasi
Soal Jaringan di MRT, Menkominfo sebut Ruang Publik Jangan Terlalu Dikomersilkan
MRT Tak Ada Sinyal, Perang Tarif Operator Seluler Penyebabnya
Surya Citra Media Raih Awarding Top IT dan Top Telco 2019

(mdk/idc)

TOPIK TERKAIT