Teknologi Selamatkan Umat Manusia Dari Mitos Ramalan Cuaca dari Marmut

TEKNOLOGI | 12 Februari 2019 15:00 Reporter : Indra Cahya

Merdeka.com - Tak sampai setengah abad lalu, kita tak tahu apa yang akan terjadi pada cuaca. Jika sekarang kita hanya tinggal melongok aplikasi berbasis satelit untuk tahu prakiraan cuaca, ketika belum ada televisi, tak ada yang bisa kita lakukan untuk tahu ramalan cuaca.

Berdasarkan sejarah, masyarakat Babylon dulu melihat formasi awan untuk memprediksi cuaca. Tentu bukan sesuatu yang akurat. Masyarakat China kuno juga memiliki kalender lengkap dengan pola cuaca dan deretan festival untuk memperingatinya, namun tentu tidak pula akurat.

Sebelum era televisi yang meayangkan ramalan cuaca, masyarakat di beberapa penjuru Bumi memiliki mitos tertentu. Seperti yang dilakukan di negara bagian Pennsylvania AS, di mana jika seekor groundhog (spesies sepupu dari marmut) yang bangun dari hibernasi di bulan Februari lalu ia melihat bayangan dirinya sendiri (langit sedang cerah), maka musim dingin masih akan jalan selama 6 minggu mendatang. Jika tidak ada bayangan (langit gelap), cuaca hangat atau musim semi akan datang sesegera mungkin.

Tentu hal yang sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sebuah media Pennsylvania yakni Pennlive bahkan menyebut rasio keakuratan sang marmut hanya 64,4 persen saja.

Hal ini berdasar dari mitos Eropa yang dibawa ke AS. Di Eropa, sudah sejak zaman dahulu masyarakatnya megasumsikan bahwa musim dingin berhubungan erat dengan perilaku hewan berhibernasi seperti beruang, marmut dan lainnya. Kemunculan mereka dari sarangnya-lah yang jadi prediksi cuaca.

Hal ini diperburuk oleh media surat kabar yang pada akhir 1800-an juga ikut mengabarkan prediksi cuaca hanya dengan mengamati marmut. Bahkan satu surat kabar di tahun 1887, melansir Mental Floss, menyebut hal ini sebagai "keajaiban meteorologis."

Melihat marmut untuk memprediksi cuaca masih dilakukan sampai saat ini, namun sekedar seremonial saja. Meski demikian, orang masih percaya akan hal ini.

Untungnya kini kita sudah bergantung pada teknologi. Prediksi cuaca bisa kita ketahui secara langsung berkat perekaman perubahan cuaca yang diproses langsung di mikroprosesor canggih dan tersimpan di data logger, lalu datanya dijadikan acuan para peneliti untuk memberi prakiraan.

Saat ini, bahkan ada 10.000 lebih titik pengamatan cuaca di seluruh penjuru dunia sehingga cuaca 'real time' bisa kita ketahui dengan baik. tentu dengan ini, marmut sudah tidak lagi dibutuhkan dalam prediksi cuaca.

Terlebih lagi, perubahan iklim saat ini membuat cuaca makin tak menentu. Terkadang prakiraan cuaca jadi tak sesuai dengan kenyataan meskipun akurasinya tetap tepat secara keseluruhan.

Pada 2017 si marmut juga akhirnya terbentur perubahan iklim. Ketika pada Februari marmut melihat bayangan, sehingga diprediksi ada 6 minggu musim dingin lagi, ternyata Februari 2017 jadi Februari terpanas kedua sepanjang sejarah. Di 2018, prediksi serupa terulang dan kali ini jadi Februari terpanas sepanjang sejarah.

Jadi, ketika berdekade lalu umat manusia mengandalkan mitos untuk mengetahui cuaca, kini, bahkan teknologi canggih pun akhirnya sulit memprediksi cuaca yang terpapar perubahan iklim.

Baca juga:
Penjelasan Ilmiah Soal Sedikitnya Batasan Jumlah Sahabat yang Ideal
Penjelasan Ilmiah Mengapa Makan Serangga Bisa Cegah Pemanasan Global
Penjelasan Ilmiah Soal Kecanduan Media Sosial yang Serupa Narkoba, Berbahaya?
Ini Alasan Mengapa Kita Suka Membuka Banyak Tab di Browser PC atau Smartphone
Bagaimana Keadaan Tubuh Jika Kita Meninggal di Luar Angkasa?
Planet Luar Tata Surya ini Punya 3 Matahari, Seperti Apa?
Lucunya Bayi Monyet Hasil Kloningan China

(mdk/idc)

TOPIK TERKAIT