Telkom Jangan Terlena

Telkom Jangan Terlena
TEKNOLOGI | 27 Februari 2020 16:06 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Setyanto P. Santosa adalah orang di balik kesuksesan Telkom Indonesia melantai di bursa saham internasional New York Stock Exchange (NYSE) dan Bursa Efek Jakarta (BEJ) - kala itu belum menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI) – pada 14 November 1995.

Veteran Telkom Indonesia ini juga yang mencetuskan lahirnya Telkomsel di tahun 1994. Anak usaha yang memberikan kontribusi paling besar terhadap pendapatan Telkom Indonesia.

Merdeka.com berjumpa dengan Direktur Utama Telkom periode 1992-1996 ini di kantornya kawasan Epicentrum, Jakarta Selatan. Kepada kami, Setyanto bercerita banyak mengenai bisnis Telkom saat ini dan pengalamannya sebagai Direktur Utama. Pernyataan Erick Thohir, Menteri BUMN tentang Telkom menjadi pemicu awal perbincangan kami.

Dia menyebut, apa yang diungkapkan Erick kepada Telkom, merupakan sentilan yang baik untuk perusahaan agar mau berinovasi lebih cepat seiring dengan perkembangan zaman.

"Kita ambil dari sisi positifnya karena memang apa yang beliau lihat selintas, Telkom ini sangat tergantung pada Telkomsel," kata dia.

Jika menilik laporan tahunan 2018 Telkom Indonesia, Telkomsel memang memberikan kontribusi pendapatan Telkom yang paling besar dari sisi segmen bisnis mobile. Sebanyak 65 persen kontribusi pendapatan Telkomsel yang disumbangkan ke induk usaha.

setyanto p santosa

©2020 Merdeka.com

Kontribusi pendapatan Telkomsel kepada Telkom yang mendominasi ini sudah mulai dirasakan oleh Setyanto sejak dirinya tak menjabat lagi sebagai Direktur Utama Telkom. Kala itu ia pun mulai khawatir.

Kekhawatirannya itu bukan tanpa sebab. Saat pendirian Telkomsel, anak usaha ini tidak direncanakan sebagai penyumbang terbesar bagi Telkom. Tetapi justru sebagai penyelamat Telkom ketika terjadi sesuatu.

"Dulu saya dirikan Telkomsel memang untuk dijadikan sekoci. Kalau ada masalah sesuatu, Telkomsel jadi penyelamat. Namun setelah tahun 1995, Telkom tidak banyak berubah. Harusnya Telkom sibuk membangun jaringan fiber optic yang banyak lebih awal. Tetapi itu mungkin ya tidak dilakukan. Baru belakangan ini mulai digencarkan," kenangnya.

Pembangunan jaringan fiber optic dilakukan lebih awal, dimaksudkannya agar di masa mendatang Telkom tidak akan tergantung dari pendapatan Telkomsel dan berpengaruh terhadap induk usaha untuk mencari sumber pendapatan baru lebih dahulu. Dari sisi teknis, pembangunan jaringan fiber optic pun lebih sulit dibandingkan dengan tower Base Transceiver Station (BTS) untuk seluler.

"Kalau bangun kabel kan susah, minta izin ke Pemda, gali kabel dan lainya harus menggunakan perencanaan yang matang. Berbeda dengan bangun seluler," ungkap dia.

Konsep yang tertata manis itu merupakan roadmap jangka panjangnya melihat Telkom di masa mendatang jika hal itu dilakukan secara betul-betul tertib. Kalau itu dilakukan, maka bisa jadi Telkom akan menjadi perusahaan yang lebih besar lagi.

"Seharusnya baik Telkom maupun Telkomsel dua-duanya bisa jadi perusahaan yang lebih besar lagi. Apalagi Telkom sebagai induk bisa lebih besar dari anak usahanya. Itu konsep semula zaman saya. Makanya jelas fakta pendapatan 70 persen Telkom dari Telkomsel, itu yang harusnya betul-betul jadi pukulan," jelas Setyanto.

1 dari 2 halaman

Telkomsel Disapih

Seiring berjalannya waktu, semenjak meninggalkan perusahaan plat merah itu beberapa tahun, tak sedikit dia melihat Telkom berubah. Terutama dari sisi penyumbang pendapatannya. Dia pun merasa gregetan dengan hal itu.

Sebab, Telkomsel diciptakan bukan semata-mata untuk dijadikan mesin utama pendulang untung Telkom.

Akhirnya suatu kali, antara tahun 2004 sampai dengan 2007, Setyanto memberanikan diri untuk mengusulkan agar Telkomsel disapih kepada Menteri BUMN. Kala itu Menteri BUMN adalah Soegiharto. Masa pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Meski tak lagi menjabat sebagai Direktur Utama, ia masih memiliki tanggung jawab moral dan ikatan batin melihat bisnis Telkom yang terus mengandalkan Telkomsel. Namun ia sadar, tak lagi punya kuasa.

"Saya jujur saja, zaman Menteri BUMN-nya Pak Soegiharto saya sudah sarankan (untuk disapih-red). Karena waktu itu sudah di atas 50 hampir 60 persen sumbangan pendapatannya Telkomsel kepada Telkom. Kalau saya punya kuasa, saya sapih. Masalahnya saya enggak punya kuasa," ungkapnya.

Kepada Soegiharto, dia menyampaikan, ikhwal saran ini agar Telkom makin dewasa. Sederhananya, tak lagi mengandalkan Telkomsel sebagai kontribusi utama pendapatannya. Namun, saran yang ia sampaikan tak disambut baik. Kata dia, pemerintah punya alasan sendiri.

"Alasannya takut kalau saham Telkom ini itu. Iyalah harga saham Telkom tergantung Telkomsel. Tapi menurut pandangan saya, kalau Telkomsel nya itu go public juga, itu kan duitnya juga masuk ke Telkom. Telkomnya gede juga. Jadi impian saya Telkomsel juga bisa melantai di bursa saham New York. Tapi itu tentu itu dilakukan oleh pengganti saya," katanya.

2 dari 2 halaman

Zaman Berubah

Blak-blakan Setyanto mengatakan, jika Telkom terus-terusan mengandalkan pendapatan dari Telkomsel, maka kemungkinan 5 sampai 10 tahun lagi pendapatan Telkomsel juga tidak akan bisa menjadi tulang punggung Telkom.

Pernyataannya ini dilandasi oleh perubahan zaman. Boleh saja, Telkom sampai saat ini masih mengandalkan bisnis connectivity-nya. Namun, di masa mendatang bisnis ini apa masih menjadi unggulan atau tidak.

"Makanya, sekarang Telkom harus mampu menjadi smart pipe provider. Sekarang provider terluas di Indonesia siapa? Telkom. Tapi kalau yang punya IndiHome saja, berapa sih sewanya. Sekarang kan baru ada 8 juta di seluruh Indonesia. Untuk itu Telkom harus cepat berubah," jelasnya.

Menurutnya, Telkom harus segera serius untuk bergeser ke wilayah platform. Modelnya seperti Google, Amazon, Facebook, Apple, Microsoft, Netflix, dan Spotify (GAFAM NS). Ini, kata dia, adalah masa depan.

"Dunia yang akan datang adalah itu," ungkapnya.

Saat ini memang Telkom sudah memiliki platform-platform digital itu. Di antaranya seperti platform untuk musik digital, Melon; Blanja.com, e-commerce; dan lain sebagainya. Namun, menurut Setyanto apa yang dimiliki saat ini masih kurang optimal. Hal itu seperti Melon yang kalah saing dengan Spotify.

"Blanja.com juga kan ketinggalan jauh," tuturnya.

Di samping itu, Telkom harus berani mengubah mindset para karyawannya. Mindset SDM Telkom masih terjebak dalam zona nyaman. Dia pun memberikan tantangan kepada Telkom untuk membesarkan platform digitalnya. Mencari SDM yang tepat untuk bisa memimpin platform digital.

Terlepas dari itu, pernyataan CEO Xerox Ursula Burns dapat menjadi landasan Telkom untuk lebih cepat bertransformasi menyesuaikan zaman. 'If you don't transform your company, you're stuck.'

(mdk/faz)

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami