Telkomsel pamerkan 'produk masa depan' di IdeaFest 2018

TEKNOLOGI | 9 Oktober 2018 19:54 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - Telkomsel menyiapkan pameran 'produk masa depan' selama kegiatan IdeaFest 2018 yang akan digelar pada 26-27 Oktober di JCC, Senayan, Jakarta Selatan. Sebagai salah satu pendukung utama festival industri kreatif terbesar di Indonesia, operator seluler nomor satu di Indonesia ini menyiapkan banyak kejutan di Telkomsel Experience Zone IdeaFest tahun ini.

Apa saja kejutan itu?

Steve Saerang, The NextDev Project Lead Telkomsel, menjelaskan di Telkomsel Experience Zone, operator dengan pelanggan sekitar 200 juta pengguna ini bakal menghadirkan produk masa depan yang baru pertama kali ditampilkan ke publik di event IdeaFest tahun ini. Telkomsel Experience Zone jelas tidak membawa produk konvensional, seperti produk internet of things (IoT), kecerdasan buatan atau artificial intelligent (AI), dan sebagainya.

"Konsep di Telkomsel Experience Zone adalah living in balance between life and bussines atau Yin and Yang. Keseimbangan antara gaya hidup dan bisnis. Jadi kalau penasaran dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan life style, pilih jalur atau tempat yang membahas segala sesuatunya tentang lifestyle. Sebaliknya, pilih jalur seputar bisnis, jika memang ingin tahu lebih dalam tentang dunia bisnis," ujar Steve Saerang dalam jumpa pers IdeaFest di Jakarta, Selasa (9/10).

Bahkan, kata Steve, Telkomsel juga akan menampilkan platform atau aplikasi yang menarik dari para finalis program The NextDev 2018 yang digelar sejak Apri lalu di tujuh kota di Indonesia. Sedikit memberikan bocoran, lanjut dia, ada dua platform yang bakal bikin takjub para pengunjung IdeaFest tahun ini.

"Ada startup dari Surabaya yang berhasil mengoneksikan banyak CCTV di kota Surabaya dan mengendalikan atau mengontrol dari satu pusat dengan platform bernama Artificial Neural Network (ANN) yang pertama di Indonesia. Kemudian ada aplikasi laboratorium digital dari Yogyakarta yang bisa dikoneksikan dari mana saja. Awalnya temuan ini bermula patologi untuk deteksi kanker dan lainnya, tapi kemudian bisa dikembangkan sehingga menjadi lab digital yang bisa diakses dari mana saja," pungkasnya.

(mdk/sya)