Terkenal Paling Aman, Telegram Punya Celah Keamanan?

TEKNOLOGI | 14 November 2019 14:52 Reporter : Indra Cahya

Merdeka.com - Aplikasi WhatsApp belakangan sedang diterpa berbagai permasalahan keamanan siber. Salah satu yang paling ramai adalah berhasilnya peretasan aplikasi perpesanan tersebut menggunakan spyware Pegasus besutan NSO Group yang berbasis di Israel.

Menurut informasi, ada sekitar 1.400 pengguna yang merupakan tokoh publik, jurnalis, dan akademisi yang menjadi korban peretasan WhatsApp. Karena hal ini, mungkin sebagian orang memilih untuk memakai aplikasi perpesanan lainnya yang dinilai lebih aman dengan enkripsi tambahan seperti Telegram dan Signal.

Namun, kehadiran enkripsi tak bisa seratus persen menjamin aplikasi itu aman dari ulah peretas. Ketika ada kerentanan di enkripsi dan peretas berhasil mengetahui dan mengaksesnya, peretas dapat menyelinap ke sistem operasi smartphone dan data pribadi pengguna.

Adapun Telegram menerapkan enkripsi untuk fitur Secret Chat mereka. Fitur ini dienkripsi dengan lapisan keamanan ekstra, meski tidak seratus persen aman.

1 dari 1 halaman

Hasil Penelitian Tim MIT

Celah keamanan Telegram ini muncul berdasarkan pada sebuah laporan riset dari peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Sebagaimana dikutip dari LiveMint via Tekno Liputan6.com, peneliti tersebut menemukan Telegram menggunakan protokol keamanan bernama MTProto yang tidak diawasi oleh kriptografer dari luar.

Telegram selanjutnya menggunakan penyimpanan berbasis komputasi awan untuk data mereka.

"Artinya, jika ada pihak yang bisa mendapatkan akses ke sistem peladen Telegram, mereka bisa mengakses pesan yang tidak terenkripsi dan seluruh metadata," tutur peneliti MIT Hayk Saribekyan dan Akaki Margvelashvili.

Bisa Akses Data Pengguna

Telegram sendiri meminta izin ke pengguna untuk mengakses daftar kontak di smartphone dan menyimpannya di peladen.

"Hal ini memberikan informasi jaringan sosial yang dapat diserang di peladen mereka dan dapat dijual ke otoritas tanpa persetujuan pengguna," kata peneliti.

Menurut keduanya, ketika pengguna memakai fitur Secret Chat Telegram untuk berkomunikasi, aplikasi mobile Telegram memungkinkan bagi pihak ketiga untuk melihat informasi metadata.

"Misalnya, peretas bisa mempelajari, kapan pengguna online atau offline. Telegram tidak menerapkan persetujuan dari kedua pihak untuk mengatur komunikasi. Karena alasan ini, penyerang bisa terhubung ke pengguna dan mendapatkan informasi metadata tanpa diketahui pengguna," ungkap tim peneliti MIT.

Sumber: Liputan6.com
Reporter: Agustin Setyo Wardani (mdk/idc)

Baca juga:
Facebook Pay Resmi Jadi Metode Pembayaran Baru
Facebook Kini Izinkan Pengguna Matikan Tanda Notifikasi Merah
Menkominfo Telusuri Konten Ajaran Terorisme di Media Sosial
Waspadai Maraknya Info Hoaks dan Intoleransi di Media Sosial
Kutip Data BNPT, Menag Sebut Banyak Orang Indonesia Belajar Agama di Internet
Pemerintah Pantau Medsos Peserta CPNS Tangkal Radikalisme
Ini Penampakan Instagram Tanpa Fitur Like, Menurut Kamu?

TOPIK TERKAIT