Terungkap Penyebab Bulan Semakin Menyusut

TEKNOLOGI | 16 Mei 2019 06:20 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta

Merdeka.com - Semakin lama bentuk bulan semakin menyusut. Hal ini diketahui oleh Badan Luar Angkasa AS NASA sejak 2010 lalu. Sekilas jika dilihat dengan mata telanjang, bentuk bulan memang tak berubah. Namun jika dilihat melalui alat bantu seperti teropong, maka akan terlihat jelas perubahan itu.

Ada banyak penyebab menyusutnya Bulan. Salah satunya karena aktivitas Bumi. Berikut beberapa penyebab menyusutnya bulan:

1 dari 3 halaman

Adanya Tarik Gravitasi Bumi

Menyusutnya bulan dipengaruhi oleh daya tarik gravitasi Bumi. Perlu diketahui, bulan sebagai satelit alami Bumi. Penyusutan bulan terlihat dari banyaknya retakan-retakan di kerak bulan.

Menurut studi di jurnal Geology, tim ilmuwan yang dipimpin oleh Thomas R. Watters dari Smithsonian National Air and Space Museum mengambil gambar retakan Bulan tersebut dari pesawat robotik Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) milik NASA.

Dari foto itu ditemukan 14 lereng curam sepanjang 9,6 kilometer yang sudah membeku. Lereng curam ini terbentuk dari kerak panas yang retak dan mencair, kemudian membeku.

Kontraksi dari proses pendinginan kerak Bulan memaksa mantel dan permukaannya seperti melebur, sehingga muncul penyimpangan yang mengakibatkan Bulan menyusut.

2 dari 3 halaman

Adanya Guncangan Gempa

Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) milik NASA menyebut penyusutan bentuk bulan karena adanya guncangan gempa. Analisis ini berdasarkan survei terhadap lebih dari 12.000 gambar. Semua gambar itu menunjukkan bahwa cekungan bulan Mare Frigoris di dekat kutub utara Bulan retak dan bergeser.

Para astronot Apollo pertama mulai mengukur aktivitas seismik di Bulan pada 1960an dan 1970an. Mereka menemukan aktivitas seismik sebagian besar terjadi di bagian perut bulan, dan hanya sejumlah kecil yang terjadi di permukaannya.

Bulan tak memiliki lempeng tektonik seperti Bumi. Aktivitas tektonik di bulan terjadi secara perlahan, karena bulan sudah kehilangan panas sejak terbentuk 4,5 miliar tahun lalu.

Aktivitas tektonik bulan membuat permukaan bulan menyusut. Selain itu, bulan memiliki kerak yang rapuh. Saat gempa dan bagian dalam bulan menyusut, permukaannya mudah pecah dan menjadi patahan dorong. Artinya, satu bagian kerak didorong ke atas ke bagian yang berdekatan.

3 dari 3 halaman

Inti Bulan Semakin Mendingin

Menurut penelitian yang disponsori oleh NASA, saat bagian inti Bulan mendingin, maka ukuran massa menyusut. Hal itu menyebabkan permukaannya yang keras retak dan membentuk garis patahan.

Permukaan Bulan menjadi lebih rendah 150 kaki (setara 45 meter) dalam beberapa ratus juta tahun terakhir. Sebagai bukti, NASA memposting video di Twitter yang menunjukkan garis patahan di permukaan Bulan. Para astronot telah menempatkan seismometer di Bulan pada serangkaian misi sebelumnya.

Sementara pada ilmuwan, yang menduga gempa Bulan cukup dekat dengan garis patahan sebagai hubungan sebab akibat, mempublikasikan analisis mereka dalam sebuah studi di jurnal Nature Geoscience, pada Senin 13 Mei.

Analisis oleh ilmuwan memberikan bukti pertama bahwa penyusutan Bulan masih aktif terjadi, sehingga memungkinkan potensi gempa di era modern sekarang.

Menurut Thomas Watters, penulis utama penelitian dan ilmuwan senior di Pusat Studi Bumi dan Planet di Museum Dirgantara dan Luar Angkasa Smithsonian, gempa di Bulan bisa menjadi kuat, sekitar lima pada skala Richter. (mdk/has)

Baca juga:
Fenomena El Nino Keringkan Danau Besar di Kosta Rika
Usai Tarawih, Warga Probolinggo Dikejutkan Penampakan Bola Api Melayang
Penyebab Lubang-Lubang Raksasa Muncul di Berbagai Belahan Dunia
Diawali Gemuruh & Dentuman, Muncul Lubang Raksasa Sedalam 12 Meter di Sukabumi
Awan Vega Berwarna Merah, Kuning, Biru dan Hitam Gegerkan Warga Muara Teweh
Fenomena Alam Unik, Danau di Melbourne Berubah Warna Jadi Pink