TopJek halalkan pengemudi ojek online gabung tanpa lepas keanggotaan

TEKNOLOGI | 9 Oktober 2015 11:05 Reporter : Fauzan Jamaludin

Merdeka.com - Persaingan bisnis aplikasi transportasi salah satunya ojek online, membuat perusahaan seperti Go-Jek, GrabBike, Blu-Jek, bahkan TopJek, ramai-ramai merekrut pengemudi ojek onlinenya. Tak jarang, pengemudi ojek yang sudah menjadi anggota salah satu perusahaan aplikasi transportasi tersebut, digiring untuk berpindah keanggotaan. Di dalam dunia bisnis, hal itu wajar.

Namun, Co-Founder sekaligus Direktur TopJek, Cempaka Adinda Devi, berpikir berbeda soal isu tersebut. Seperti yang akan dilakukan oleh perusahaannya, semua pengemudi baik yang sudah menjadi member perusahaan ojek online dipersilakan bergabung dengan TopJek tanpa harus melepas keanggotaannya di tempat lain.

"Boleh, boleh dualisme. Karena undang-undangnya soal itu masih grey area juga soal ini. Terlebih mereka itu kan freelance. Jadi silakan saja bergabung di TopJek tanpa melepas keanggotaan di ojek online lainnya," ujarnya kepada Merdeka.com di kantornya, kawasan Pasar Minggu, Jakarta, belum lama ini.

Meskipun begitu, dirinya tetap menekankan kepada para pengemudinya yang notabene memiliki keanggotaan di tempat lain, kelak ketika sedang beroperasi dan mendapatkan orderan dari TopJek, mereka diharuskan menggunakan perlengkapan dari TopJek sebagai identitas. Menurut pandangannya, dengan cara tersebut tak masalah dan tak akan berujung anggapan tak baik. Terlebih, kata dia, sedari awal pihak perusahaan ojek online lainnya, seperti Go-Jek, juga tak pernah mewanti-wanti para pengemudinya agar tak ‘mendua’ di tempat lain.

"Kalau pihak Go-Jek udah ngomong dari awal ke pengemudi Go-Jek gak boleh mendua, mereka pasti tak akan mendua. Apalagi, dari awal hingga saat ini kan gak ada Undang-undangnya. Di sini kan sistem online jasa transportasi belum ada aturannya. Di sisi lain juga, saking banyaknya pengemudi, mereka terkadang tak mendapatkan order. Itu bukan salah dari pengemudi ojeknya, tapi sistemnya," kata dia.

Perempuan jebolan London School of Public Relation (LSPR) ini pun tak takut jika dibilang merusak sistem yang sudah ada. Bahkan, dia mengatakan jika wajar akan ada kompetisi sengit semacam ini yang mungkin berujung ‘kematian’ salah satu perusahaan yang ikut berkompetisi.

"Namanya usaha, kompitisi, semua baik perusahaan sabun aja, pasti akan ada yang kolaps ketika berkompetisi. Tapi, saya yakin perusahaan aplikasi transportasi ojek yang lain juga mengerti dengan kondisi persaingan yang semakin sengit seperti ini," tuturnya.

Baca juga:
Bos TopJek: Bangun TopJek, investasi kami cuma puluhan miliar rupiah
Di awal operasional, TopJek tak akan merugi
TopJek klaim keberadaannya tak bakal ganggu privasi konsumen
Menengok ramainya antrean pendaftaran pengemudi TopJek

(mdk/bbo)