97 Tahun Kampung Cirendeu Tak Bergantung Nasi

97 Tahun Kampung Cirendeu Tak Bergantung Nasi
97 Tahun Kampung Cirendeu Tak Bergantung Nasi. ©2021 Merdeka.com/Fajri ANF
TRAVEL | 7 April 2021 18:00 Reporter : Tyas Titi Kinapti

Merdeka.com - Di mata warga Kampung Cirendeu singkong berharga. Berbeda dari warga Indonesia lainnya, mereka tak memilih beras dari padi sebagai makanan pokok. Melainkan rasi, olahan singkong menjadi beras.

Bermukim di lahan seluas 64 hektare di lembah Gunung Kunci, Gunung Cimenteng dan Gunung Gajahlangu ketela ini tumbuh subur. Lahan tanaman singkong terlihat menghampar, ditanam, dijaga, diolah oleh warga Kampung Cirendeu. Mengolah bulir-bulir rasi sebagai makanan pokok.

Bukan berarti warga Kampung Cirendeu mengharamkan beras, mereka dengan penuh kesadaran menjaga adat dan budaya yang diwariskan nenek moyang. Mengikuti amanah para sesepuh mengganti nasi sebagai makanan pokok.

Terbukti, berkat konsistennya mereka tak mengonsumsi nasi selama hampir 97 tahun. Lebih dari olahan makanan, rasi menjadi sebuah warisan yang terus dilestarikan oleh warga Kampung Cireundeu.

97 tahun kampung cirendeu tak bergantung nasi
©2021 Merdeka.com/Fajri ANF

Omah Asnamah, wanita berjasa di warga Kampung Cireundeu. Ia menemukan cara untuk mengolah singkong menjadi beras singkong (rasi). Cara mengolahnya diawali dengan mengupas kulit singkong. Singkong yang telah dikupas tersebut dicuci, diparut atau digiling, lalu disaring men­jadi aci atau sagu.

Ampas dari olahan sagu yang dikeringkan juga dibuat men­jadi rasi atau beras singkong. Tak berhenti sampai di situ, rasi dijemur selama 2-3 hari untuk menghilangkan kandungan sianida. Singkong yang telah diolah menjadi rasi mentah dapat bertahan selama tiga bulan. Memang cukup lama, namun hasilnya tak sia-sia.

Sebuah penelitian menunjukkan kadar gula pada rasi sangat rendah bahkan mencapai 0,0%. Secara kesehatan rasi lebih sehat dikonsumsi ketimbang beras padi yang berpotensi menyebabkan diabetes karena memiliki kadar gula yang cukup tinggi.

97 tahun kampung cirendeu tak bergantung nasi
©2021 Merdeka.com/Fajri ANF

Awal mula tak mengonsumsi nasi dimulai sekitar tahun 1918. Kala itu, komoditas beras padi dikuasai oleh penjajah. Kondisi sawah sedang tak baik dilanda kekeringan. Bermula dari situ, Aki Ali atau Mama Ali seorang warga Kampung Cireundeu terbesit pemikiran bahwa masyarakat harus mengganti beras sebagai makanan pokok. Sebagai langkah awal melawan penjajah.

Beberapa makanan yang ada di kebun dicoba untuk menggantikan nasi, seperti jagung dan bunut. Singkong yang direbus atau dibakar. Hingga pada 1924, Omah Asnamah mengembangkan makanan pokok non beras ini menjadi beras singkong. Sejak itulah warga meninggalkan nasi.

97 tahun kampung cirendeu tak bergantung nasi
©2021 Merdeka.com/Fajri ANF

Menurut warga, dengan makan singkong, warga tidak bergantung harga beras. Di saat harga beras terus naik, singkong yang ditanam sendiri harganya tetap lebih murah, apalagi menanam sendiri.

Meski hampir setiap berjibaku dengan singkong, kampung ini tidak hanya mengolah singkong menjadi rasi. Mereka juga mengolah singkong menjadi tepung tapioka dan opak. Mengkreasikan menjadi berbagai camilan manis yang dijual sebagai oleh-oleh. Warga yang bertani juga menanam jagung, kacang merah dan umbi-umbian.

97 tahun kampung cirendeu tak bergantung nasi
©2021 Merdeka.com/Fajri ANF

Bagi masyarakat adat Cireundeu, rasi tak beda dengan nasi beras. Mereka mengonsumsi rasi bersama lauk pauk dan sayur seperti halnya orang yang makan nasi beras. Setiap harinya, mereka cukup makan dua kali sehari. Pasalnya, rasa kenyang dari konsumsi ketela lebih lama dibandingkan dengan padi.

97 tahun dan terus berlanjut warga Kampung Cindeu terus melestarikan mengonsumsi rasi sebagai makanan pokok. Memegang amanah para sesepuh. (mdk/Tys)

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami