Kekayaan Tradisional Pasar Terapung Lok Baintan Banjarmasin

Kekayaan Tradisional Pasar Terapung Lok Baintan Banjarmasin
. ©2021 Merdeka.com/Octav Andy
TRAVEL | 5 April 2021 14:15 Reporter : Tyas Titi Kinapti

Merdeka.com - Dari arah timur sang surya belum muncul, namun para pedagang sudah harus bersiap. Dalam kondisi hampir gelap gulita mereka berangkat sejak pagi. Berpatokan pada waktu, setelah azan Subuh berkumandang. Melaju membelah Sungai Martapura menuju Pasar Lok Baintan, salah satu pasar terapung di kota Seribu Sungai, Banjarmasin yang masih bertahan sejak 18 abad lalu.

Dalam Jukung sebutan untuk perahu khas Banjar, para pedagang sudah membawa buah-buah segar yang langsung dipetik dari hasil kebun sendiri atau pertanian. Pisang, mangga dan buah-buahan lainnya disusun cantik di tempat khusus, menarik hati para calon pembeli. Tak hanya hasil kebun, beberapa ada yang menjual makanan khas daerah sampai cinderamata.

Jukung-Jukung terlihat memenuhi sepanjang pesisir aliran Sungai Martapura. Meski berdesakan namun kebersamaan di desa Sungai Pinang (Lok Baintan), kecamatan Sungai Tabuk, kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan ini terasa kental.

005 tyas titi kinapti
©2021 Merdeka.com/Octav Andy

Suara riuh pedagang mulai terdengar sejak pukul 6 pagi. Di atas perahu dayung, mereka menjajakan dagangannya kepada warga setempat dan wisatawan. Pedagang dan pembelinya tidak terpaku di suatu tempat, tetapi terus bergerak mengikuti arus sungai yang memiliki panjang 600 kilometer ini. Tenang dan membiarkan perahu-perahunya berjalan menyusuri arus.

Sebagian besar perahu pedagang di pasar ini bisa dinaiki pengunjung. Syaratnya penumpang berkenan mengikuti arah pedagang berkeliling menjajakan dagangannya. Uang tak selalu menjadi transaksi utama di pasar ini, mereka masih memberlakukan barter antar pedagang bak zaman baheula.

Hari beringsut siang, riuh rendah teriakan penjual menjajakan dagangannya sayup terdengar makin hilang. Menandakan transaksi di pasar terapung segera usai. Datang saat matahari belum bersinar, para pedagang pulang sekitar pukul 9.

005 tyas titi kinapti
©2021 Merdeka.com/Octav Andy

Ratusan perahu berada di Sungai Martapura. Sejauh mata memandang, kebanyakan pedagang di Lok Baintan adalah wanita. Penampilan mereka terlihat berbeda dengan memakai tutup kepala (tanggui). Beberapa wanita ada juga yang menggunakan pupur beras di wajahnya. Diyakini bedak yang terbuat dari olahan beras ini bisa membuat wajah para pedagang wanita ini menjadi lebih dingin.

Pedagang di Lok Baintan memang didominasi oleh wanita. Bukan tanpa alasan, menurut warga setempat para pria sudah bertugas untuk mempersiapkan barang yang akan dijual. Seperti menanam dan memanen buah-buahan, sehingga saling berbagi tugas.

Waktu terbaik mengunjungi Lok Baintain saat hari Jum’at. Pasalnya, hari Jum’at merupakan hari pasaran terapung tradisional ini, sehingga pasar ini jauh lebih ramai dari hari biasanya.

001 tyas titi kinapti
©2021 Merdeka.com/Octav Andy

Lok Baintain menjadi pengalaman yang menarik untuk para pelancong Tempat ini seolah menjawab kekayaan tradisional lewat pasar terapungnya. Para pedagang menyambut ramah setiap pembeli dan pengunjung yang dating. Pasar ini sangat berwarna, unik, berisik namun menyenangkan.

Sejarah panjang memang menyertai pasar apung ini, tak heran keberadaannya dicatat menjadi warisan budaya tak benda Indonesia oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Untuk mengunjungi pasar Lok Baintain, para wisatawan cukup menempuh waktu 30 menit dari Kota Banjarmasin ke Sungai Martapura. Menuju ke pasar, pengunjung dapat menyewa klotok (perahu motor khas Kalimantan) dari dermaga di sekitar Sungai Martapura. (mdk/Tys)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami