Kerbau Bule Keraton Surakarta, Pusaka Keraton yang Dianggap Keramat

Kerbau Bule Keraton Surakarta, Pusaka Keraton yang Dianggap Keramat
Kebo Bule Keraton Surakarta. ©2021 Merdeka.com/Fajar Bagas Prakoso
TRAVEL | 10 Agustus 2021 05:00 Reporter : Tyas Titi Kinapti

Merdeka.com - Sebuah kandang kerbau berada di kawasan Alun-Alun Selatan Solo. Dilihat sekilas kerbau di kandang tersebut nampak sama dengan kerbau pada umumnya, namun kerbau milik Keraton Surakarta ini bermakna bagi warga Solo dan Keraton Surakarta. Pasalnya hewan mamalia ini dianggap keramat, bahkan Keraton Surakarta menjadikan kerbau ini sebagai salah satu pusakanya.

Kebo Bule atau Kerbau Bule itu lah julukan hewan mamalia bertanduk ini. Kerbau ini mendapat julukan bule karena warna kulit yang berbeda dengan kerbau lainnya, yaitu warna putih dan kemerah-merahan.

Kebo Bule erat kaitannya dengan perayaan malam 1 Muharram, tahun baru islam atau yang biasa disebut 1 Suro. Dalam tradisi di Solo, kebo bule akan menempati barisan terdepan sebagai cucuk lampah pemimpin barisan kirab. Kirab bahkan tidak akan terlaksana jika kerbau bule tidak keluar dari kandangnya.

kebo bule keraton surakarta
©2021 Merdeka.com/Fajar Bagas Prakoso

Kebo bule merupakan hewan klangenan atau kesayangan Paku Buwono II sejak istananya masih di Kartasura, sekitar 10 kilometer arah barat keraton yang sekarang.

Dilansir dari petabudaya.belajar.kemdikbud.go.id hal ini tertulis dalam buku Babad Solo karya Raden Mas (RM) Said. Menurut seorang pujangga kenamaan Keraton Kasunanan Surakarta, Yosodipuro, leluhur kerbau dengan warna kulit yang khas itu merupakan hadiah dari Kyai Hasan Beshari Tegalsari Ponorogo kepada Pakubuwono II.

Kerbau itu diperuntukkan sebagai cucuk lampah (pengawal) dari sebuah pusaka keraton yang bernama Kyai Slamet. Saat Pakubuwono II mengungsi di Pondok Tegalsari Ponorogo dan terjadi pemberontakan pecinan yang membakar Istana Kartasura di tahun 1742. Kebo bule pun juga sering disebut Kebo Bule Kyai Slamet.

kebo bule keraton surakarta
©2021 Merdeka.com/Fajar Bagas Prakoso

Bahkan konon katanya, kebo bule juga turut andil dalam menentukan lokasi baru untuk keraton. Kebo Bule Kyai Slamet dilepas kemudian diikuti oleh abdi dalem. Kebo bule berhenti di lokasi dimana Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berdiri saat ini.

Menjadi pusaka Keraton Surakarta tentu saja ada perlakuan yang berbeda. Seperti saat Nyai Manis Sepuh, kerbau keturunan Kyai Slamet tertua mati pada November 2020. Kabarnya hewan ini dimakamkan, dimandikan, diberi kain kafan dan didoakan layaknya memakamkan manusia yang meninggal dunia. Usai pemakaman, ada pembacaan doa yang dilakukan Ulama Keraton.

Matinya Nyai Manis Sepuh membuat jumlah kerbau bule milik Keraton Kasunanan Surakarta tinggal tersisa 21 ekor. Puluhan kerbau tersebut dirawat di tiga kandang kawasan alun-alun selatan.

kebo bule keraton surakarta
©2021 Merdeka.com/Fajar Bagas Prakoso

Tepat malam 1 Suro, kawanan kerbau ini akan keluar dari kandangnya. Nantinya, kawanan keturunan Kerbau Pusaka Keraton Kyai Slamet membuka jalan bagi rombongan Kirab Peringatan Malam 1 Suro Keraton Surakarta.

Di belakang kerbau diikuti para pembesar keraton, kerabat dan jajaran keraton lengkap dengan pakaian adat Jawa dan masyarakat. Benda pusaka peninggalan Dinasti Mataram, seperti tombak, keris, dan sebagainya, diarak sembari dikawal oleh Kebo Bule.

kebo bule keraton surakarta
©2021 Merdeka.com/Fajar Bagas Prakoso

Sebelum kirab, akan ada dua ember yang masing-masing berisi air putih dan kopi. Kerbau yang akan dikirabkan biasanya akan meminum air putih dan kopi yang sudah siapkan tersebut. Setelah kerbau minum, biasanya masyarakat akan berebut sisa minuman air putih dan kopi yang ada di ember.

Sebagian warga memercayai bahwa sisa minuman kerbau bule tersebut mendatangkan berkah. Tak hanya sisa minuman saja, kotoran kerbau yang keluar saat kirab, biasanya juga jadi rebutan.

Pandemi Covid-19 yang belum usai membuat Keraton Surakarta meniadakan Kirab Pusaka Malam 1 Suro. Meski tak ada kirab pusaka, namun Keraton Surakarta tetap akan menggelar rangkaian doa bersama agar pandemi segera berlalu. Semuanya dilakukan secara internal tanpa mengundang tamu untuk menghindari kerumunan.


(mdk/Tys)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami