Merasakan Sensasi Zaman Batu di Kampung Bena Flores NTT

Merasakan Sensasi Zaman Batu di Kampung Bena Flores NTT
Kampung Bena NTT. ©2021 Merdeka.com/Gebyar Adisukmo
TRAVEL | 1 April 2021 14:00 Reporter : Tyas Titi Kinapti

Merdeka.com - Tanah Flores memang khas dengan keindahan alam yang menawan. Dari gradasi air laut pantai sampai padang savana yang elok. Tak hanya memiliki keindahan alam, Flores menjadi rumah bagi suku-suku di Indonesia. Salah satunya Kampung Bena di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Kampung yang berada sekitar 19 km selatan Bajawa ini seolah membuat kamu menelusuri lorong waktu dan terjebak di zaman batu. Pasalnya, bangunan di sekeliling kampung Bena didominasi oleh batuan bak zaman Megalitikum. Setiap bangunan memiliki makna penting di kampung ini.

Ciri khas kampung ini adalah kepercayaan terhadap leluhur. Mereka menyakini bahwa leluhur masih berkomunikasi dengan mereka. Tak heran, meski diperkirakan sudah ada sejak 1200 tahun yang lalu, masyarakat masih menjaga tradisi leluhurnya hingga kini.

kampung bena ntt
©2021 Merdeka.com/Gebyar Adisukmo

Berada di kaki Gunung Inerie, penduduk Bena meyakini gunung yang bertengger di sisi barat ini adalah gunung suci tempat bersemayam Dewa Yeta. Dewa yang melindungi kampung mereka.

Pemandangan di Kampung Bena semakin unik dengan susunan rumah beratap ijuk yang melingkar membentuk huruf U, rapi seperti umpak-umpak tersusun. Pada teras rumah terdapat tanduk kerbau, rahang dan taring babi yang dipajang menggantung berderet di depan rumah sebagai lambang status sosial orang Bena.

Salah satunya bangunan yang penting bagi mereka ialah Bhaga dan Ngadu. Bhaga adalah miniatur rumah beratap ijuk yang menjadi simbol leluhur dari nenek moyang wanita. Serta Ngadhu merupakan simbol leluhur laki-laki dengan bangunan bertiang tunggal dan beratap serat ijuk. Kedua bangunan ini berada di halaman Kisanatapat, tempat upacara adat digelar untuk berkomunikasi dengan leluhur mereka.

kampung bena ntt
©2021 Merdeka.com/Gebyar Adisukmo

Bena menjadi rumah bagi 9 suku, yakni Dizi, Dizi Azi, Wahto, Der Lalulewa, Deru Solamae, Ngada, Khopa, dan Ago. Pembeda dari suku-suku tersebut, yakni tanah sebanyak 9 tingkat di mana masing-masing suku menghuni satu undakan.

Jumlah rumah adatnya secara total sekitar ada 45. Berdiri di atas tanah yang berundak-undak karena menyesuaikan dengan kontur alaminya. Arsitektur bangunannya masih sangat sederhana yang hanya memiliki satu pintu gerbang untuk masuk dan keluar.

Saat menjelajah di pedalaman Indonesia Timur ini terasa lebih intim. Masyarakat lokalnya begitu ramah, mereka tak sungkan menyapa setiap pengunjung dengan memperlihatkan gigi merah akibat sirih yang dikunyah.

kampung bena ntt
©2021 Merdeka.com/Gebyar Adisukmo

Para wanita yang tinggal di sana diwajibkan memiliki keahlian menenun. Keahlian ini sudah diwariskan dari nenek moyang. Setiap harinya para wanita ini menenun kain menggunakan teknik tradisional. Mereka duduk santai di teras sambil sibuk bermain dengan alat penenun. Motif khas dari tenunan wanita Kampung Bane adalah motif kuda.

Nantinya, hasil tenunan dengan corak yang cantik ini akan digantungkan di depan rumah dan dijual kisaran harga mencapai Rp 300 ribu. Harganya yang ditawarkan sangat wajar jika menilik proses pengerjaannya yang masih handmade dan memakan waktu lama.

kampung bena ntt
©2021 Merdeka.com/Gebyar Adisukmo

Pada puncak bukit di kampung Bena terdapat Patung Bunda Maria. Meski menjalankan kepercayaan leluhur termasuk adat dan tradisinya, hampir seluruh warga Kampung Bena memeluk agama Katolik.

Cukup membeli tiket masuk seharga Rp 20 ribu kamu bisa merasakan sensasi berada di zaman Megalitikum. Pengunjung nantinya membeli tiket masuknya seharga Rp 20.000. Uang ini digunakan sebagai donasi untuk warga setempat dan juga pemeliharaan kampung.

Kampung Bena setidaknya jadi satu agenda wajib untuk dilakoni minimal sekali seumur hidup. Kampung adat dengan segala kearifan lokalnya membuat kamu jatuh cinta pada Tanah Flores. (mdk/Tys)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami