Seluk Beluk Budidaya Cacing Tanah, Menjijikkan Tapi Cuan

Seluk Beluk Budidaya Cacing Tanah, Menjijikkan Tapi Cuan
Budidaya Cacing Tanah©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo
TRAVEL | 13 Juli 2021 15:30 Reporter : Ibrahim Hasan

Merdeka.com - Melihat wujud cacing saja sudah terbayang ngeri, apalagi menjumpainya langsung. Cacing tanah bagi sebagian besar orang memang menjadi hewan menjijikkan. Tubuhnya memanjang bertekstur kenyal, gerak-geriknya menggeliat kesana-kemari. Namun berbeda dengan mereka para penyayang cacing. Setiap hari, merawat dan membesarkan cacing dengan teliti. Cacing-cacing tahan mereka budidayakan pada bak-bak kayu yang berjajar rapi.

Siapa sangka, hewan tanpa tulang belakang ini dapat menjadi komoditas jual yang cuan di pasaran. Kandungan nutrisi yang melimpah membuat mereka beternak cacing tanah. Meskipun terlihat menjijikkan, menggelikan, atau menakutkan, kita tidak bisa lari dari manfaatnya yang beragam. Mulai dari bahan baku obat, kosmetik, industri, hingga konsumsi.

Limbah organik menjadi sumber makanan cacing tanah yang mudah didapatkan. Merawat cacing tanah juga terbilang mudah, namun tetap butuh perhatian.

budidaya cacing tanah

Budidaya Cacing Tanah©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Itulah keseharian yang dilakukan Wagimin, peternak cacing tanah asal desa Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah. Merawat dan membesarkan cacing-cacing tanah. Tak kurang dari 10 tahun ia mengadu nasib pada hewan tak bertulang ini. Alhasil pundi-pundi rejeki ia peroleh dengan menjualnya kepada perusahaan.

Cacing tanah berwarna merah inilah yang punya beragam manfaat. Memiliki nama ilmiah Lumbricus rubellus, menggeliat dan berusaha masuk ke dalam tanah. Satu cacing tanah setidaknya punya Protein 64-76, Lemak 7-10 %, Asam glutamat 8.98 %, Treonin 3.28%, Lisin 5.16%, Glycine 3.54, Energi 900-4100 kal, Mineral, Air, dan Asam amino paling lengkap.

budidaya cacing tanah

Budidaya Cacing Tanah©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Yang harus disiapkan ialah media hidup cacing beserta makanan yang rutin diberikan. Limbah hasil budidaya jamur dan tanah organik ( tanah dengan serbuk gergaji, atau batang pisang yang dicacah). Ayak semua bahan untuk kemudian dicampurkan pada palet kayu. Tak lupa menambahkan air agar rumah cacing tetap memiliki kelembaban yang cukup.

Setelah 4 minggu, masukkan limbah organik 70% dan 30% kotoran hewan. Media siap dihuni cacing tanah apabila memiliki tingkat kelembaban 15 – 25ºC dan pH 6,0 – 7,2. Perbandingan cacing dan media tanah 1:1 jika tanah beratnya 2 kg mampu menampung cacing tanah 2 kg

budidaya cacing tanah

Budidaya Cacing Tanah©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Ratusan bahkan ribuan cacing tanah ia pelihara dalam kayu palet yang bertumpuk secara vertikal. Hal yang paling mudah dan hemat budidaya cacing tanah ialah membuat cacing beranak pinak di media tanah. Bukan membesarkan, tapi melipat gandakan. Bibitnya bisa didapatkan di alam, tanah subur pasti selalu menyimpan cacing tanah di dalamnya.

Namun tidak menutup kemungkinan dengan cara membesarkan cacing yang sudah ada. Biasanya cara ini dilakukan untuk mengejar pesanan untuk kebutuhan komersil.

Pakan harus rutin diberikan tiap minggu. Jika satu kotak menampung cacing 2 kg, maka pakan yang dibutuhkan harus sesuai dengan jumlah cacing yang ada. Selain limbah organik, sesekali cacing harus diberi pakan yang sudah difermentasi. Begitupula perlindungan dari hama semut, kumbang, burung, kelabang, lipan, lalat, tikus, katak, tupai, ayam, itik, ular, angsa, lintah, dan kutu yang sewaktu-waktu menyerang.

budidaya cacing tanah

Budidaya Cacing Tanah©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Selama 14 hingga 21 hari kokon atau telur cacing akan menetas. Setiap kokon akan menghasilkan 2-20 ekor. Diperkirakan 100 ekor cacing bisa menghasilkan sekitar 100.000 cacing dalam waktu 1 tahun. Padahal cacing tanah dapat dipanen pada bulan ke 2 hingga 4 dari menetasnya telur. Sebaiknya jangan dipanen secara keseluruhan. Yang dapat diambil 25% hingga 75% dari populasi satu kotak cacing tanah.Tujuannya ialah agar proses regenerasi terus berjalan.

Sebelum panen cacing-cacing tersebut telah dipesan oleh pengusaha obat tradisional, perusahaan kosmetik dan para pedagang ikan hias sebagai pakan. Harga untuk 1 Kg cacing berkisar antara Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu tergantung musim.

Jika musim kemarau, harganya akan lebih mahal, karena diperlukan perawatan tanah yang ekstra. Hanya butuh kotoran, limbah organik, dan media tanah subur yang tak mengeluarkan biaya. Cacing-cacing mampu tumbuh dan menjadi ladang uang yang menjanjikan

(mdk/Ibr)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami