Serunya Ritual Sisemba, Duel Kaki Pasca Panen Padi di Toraja

Serunya Ritual Sisemba, Duel Kaki Pasca Panen Padi di Toraja
Serunya Ritual Sisemba, Duel Kaki Pasca Panen Padi di Toraja. ©2021 Merdeka.com/Allako Pasanggang
TRAVEL | 7 April 2021 13:15 Reporter : Ibrahim Hasan

Merdeka.com - Padi bagi masyarakat Tana Toraja tak hanya sebagai makanan pokok dan sumber mata pencaharian saja. Namun juga memiliki nilai budaya. Salah satunya saat panen padi. Hasil kerja keras panen menjadi momen penuh syukur dan doa bagi masyarakat Toraja. Mereka melaksanakan ritual Sisemba,tradisi adu kaki seusai panen padi. Sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas panen melimpah.

Uniknya, tradisi adu kaki di Toraja ini bak duel maut. Setiap pemuda berkerumun adu kuat atas tendangan mereka. Tanpa rasa ragu, mereka melaksanakannya dengan rasa senang atas keseruan Sisemba. Mereka melompat, mengayunkan kaki setinggi mungkin untuk menjatuhkan lawan.

Tak jarang, peserta Sisemba mengalami cidera. Keseleo hingga patah tulang jadi resiko terburuknya. Resiko yang diterima masyarakat Toraja bukan sebagai bibit permusuhan. Ritual Sisemba mengajarkan persaudaraan dan kemampuan menjalani kerasnya kehidupan.

serunya ritual sisemba duel kaki pasca panen padi di toraja

©2021 Merdeka.com/Allako Pasanggang

Ritual Sisemba dimulai dari berdoa, tarian Ma'gallu, makan bersama, dan ditutup dengan duel kaki. Tua, muda berkumpul memupuk kebersamaan. Ratusan warga desa berkumpul di lapangan. Pesertanya berasal dari dua desa dengan satu tuan rumah penyelenggara. Mereka berkumpul, menerima petuah dari para leluhur. Ucap syukur dan doa mereka panjatkan atas hasil panen yang telah didapatkan.

Seusai mendapat petuah, dihadirkan dalam acara tarian Ma'gallu. Sebuah tari khas Toraja yang mengungkapkan suka cita. Tabuhan gendang membuat irama khas mengiringi acara Sisemba. Liuk tarian Ma'gallu menjadi hiburan warga. Tarian ini juga punya nilai syukur atas panen yang melimpah.

serunya ritual sisemba duel kaki pasca panen padi di toraja

©2021 Merdeka.com/Allako Pasanggang

Hidangan khas Toraja tak lupa dihadirkan dalam acara Sisemba. Pa'piong atau nasi bambu menjadi santapan masyarakat Toraja selama Sisemba. Beras dengan aneka lauk dimasukkan ke dalam bambu. Pembakaran menjadikan Pa'piong matang. Hangatnya Pa'piong melengkapi kebersamaan warga Toraja pada Sisemba.

Seusai makan bersama dengan tarian Ma'gallu, giliran ritual adu kaki. Adu kaki menjadi puncak ritual Sisemba. Pesertanya ialah para pemuda dan dewasa. Pematang sawah yang telah dipanen adalah arena pertarungan mereka. Tekstur tanah yang empuk hingga berlumpur menambah keseruan Sisemba.

serunya ritual sisemba duel kaki pasca panen padi di toraja

©2021 Merdeka.com/Allako Pasanggang

Riuh, pria berbagai usia bertanding di arenanya. Sisemba terdiri dari dua kubu desa yang saling serang. Simanuk berarti satu lawan satu, Siduanan, dua lawan dua, serta Sikambanan yakni antar kelompok. Duel antar kelompok menjadi ritual paling seru dalam Sisemba.

Terkesan brutal layaknya tawuran, mereka saling menjatuhkan dengan adu kekuatan. Setiap kubu bergiliran menyerang dan bertahan. Kunci ritual Sisemba adalah kaki. Para peserta dilarang menggunakan tangan. Memukul, menampar tidak diperbolehkan selama permainan. Mereka selalu menjunjung tinggi sportivitas dan rasa kekeluargaan saat ritual Sisemba.

serunya ritual sisemba duel kaki pasca panen padi di toraja

©2021 Merdeka.com/Allako Pasanggang

Meskipun saling serang, tiada rasa dendam dalam hati pemain Sisemba. Bukan soal menang dan kalah. Saling menerima dan memupuk kebersamaan menjadi kunci permainan. Seusai ritual sisemba, para pemain beriringan pulang dengan perasaan gembira.

Ritual Sisemba menjadi ajang tahunan seusai panen padi. Ritual ungkapan rasa syukur dan harap lebih baik atas panen selanjutnya. Mereka yakin, jika tidak menggelar Sisemba, padi mereka akan terkena musibah dan gagal panen. Sampai saat ini, Masyarakat Toraja dengan baik mempertahankan tradisi Sisemba. (mdk/Ibr)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami