Ritual Ma'nene, Suka Duka Mengganti Pakaian Mayat di Toraja

Ritual Ma'nene, Suka Duka Mengganti Pakaian Mayat di Toraja
. ©2021 Merdeka.com/Allako Pasanggang
TRAVEL | 6 April 2021 14:00 Reporter : Ibrahim Hasan

Merdeka.com - Tanah Toraja punya pesona alam dan budaya. Daerah pemilik rumah adat Tongkonan ini punya berbagai ritual kebudayaan. Rambu Solo dan Rambu Tuka' menjadi ritual yang populer. Namun ada ritual di Toraja yang mendunia berkat keunikannya yaitu Ma'nene. Ritual adat ini mengganti pakaian jasad leluhur di desa Pangala,Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Ritual Ma'nene merupakan lanjutan dari upacara Rambu Solo'. Jika Rambu Solo' identik dengan duka, Rambu Tuka menggambarkan suka dan kegembiraan. Bagi masyarakat Toraja, ritual Ma'nene merupakan simbol pertengahan antara Rambu Solo' dan Rambu Tuka. Perasaan suka duka tergambarkan saat menjalani ritual Ma'nene.

Ma'nene merupakan wujud ritual yang mencerminkan pentingnya hubungan kekeluargaan. Masyarakat Toraja yakin, ritual Ma'nene dapat memberikan ketentraman dan kesejahteraan bagi keluarga yang ditinggalkan.

005 ibrahim hasan

©2021 Merdeka.com/Allako Pasanggang

Berbondong-bondong tiap keluarga mengangkat jasad leluhur mereka. Layaknya orang yang masih hidup. Keluarga yang sudah meninggal dibersihkan dengan teliti dan rapi. Kebersamaan mereka tergambar dengan hangat. Tanpa kesan takut sedikitpun, tiap keluarga bersuka ria saat menjalani ritual Ma'nene. Kamu bisa turut menyaksikan kebersamaan mereka selama ritual Ma'nene.

Anggota keluarga akan menuju ke Patane, rumah kubur orang Toraja. Bersama sama mereka mengeluarkan jasad dari liang kubur. Berbagai jasad berumur puluhan hingga ratusan tahun ada di sana. Mereka kemudian membersihkan jasad dan mengganti pakaiannya. Pakaian baru akan menggantikan pakaian lama. Lengkap dengan kaca mata, ikat rambut bahkan ikat pinggang. Pakaiannya sama seperti yang dikenakan kala masih hidup.

005 ibrahim hasan

©2021 Merdeka.com/Allako Pasanggang

Berjajar, jasad yang sudah dibersihkan dan dikenakan pakaian. Seluruh jasad anggota keluarga diberdirikan layaknya orang hidup. Masyarakat Toraja melakukannya sebagai bentuk penghormatan leluhur. Ma'nene menjadi momen suka dan duka para anggota keluarga.

Uniknya, selain mengenang dan memberikan penghormatan, anggota keluarga bahkan berfoto bersama jasad leluhur mereka. Kamu juga bisa berfoto bersama dengan jasad dan keluarga mereka. Tentunya menjadi pengalaman mendebarkan dan unik yang tak boleh kamu lewatkan.

Selepasnya, jasad yang sudah bersih dan rapi dimasukkan kembali ke dalam peti. Perbedaan liang jenazah menjadi penanda status sosial di Toraja. Kubur batu di bukit mengindikasikan ia adalah orang bangsawan. Sedangkan masyarakat beradada di kompleks perumahan kuburan Patane.

005 ibrahim hasan

©2021 Merdeka.com/Allako Pasanggang

Ritual Ma'nene kemudian dilanjutkan dengan Sisemba. Prosesi makan bersama anggota keluarga. Kehangatan mereka menjadi terasa setelah lelah melakukan ritual Ma'nene. Setiap keturunan memberikan makanan khusus dari keluarga mereka. Sebuah ritual yang unik dan fenomenal yang patut kamu lihat secara langsung.

Meskipun puluhan hingga ratusan tahun, jasad keluarga mereka masih baik. Masyarakat Toraja punya ramuan khusus untuk mengawetkan mayat. Selepas jasad mengering akan di simpan di dalam peti. Peti jenazah kemudian dimasukkan ke dalam Patane dan liang bukit berbatu. Cara pemakaman khas masyarakat Toraja.

005 ibrahim hasan

©2021 Merdeka.com/Allako Pasanggang

Ritual Ma'nene telah dilakukan selama ratusan tahun lamanya. Bermula saat seorang pemburu binatang, Pong Rumasek menemukan jasad di tengah jalan. Ia kemudian merawati jasad yang tinggal tulang itu. Ia memakaikan baju yang ia kenakan. Konon saat berburu ia mudah mendapatkan hewan. Bahkan hasil panennya melimpah ruah. Saat itulah ritual Ma`nene diselenggarakan setiap 3 tahun sekali.

Kamu dapat lebih dekat mengenal ritual Ma'nene dengan berkendara 9 jam dari Makassar. Alamnya yang asri dan budayanya yang kental menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Kekayaan budaya Toraja akan selalu dipertahankan meskipun berada di tengah perkembangan zaman.
(mdk/Ibr)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami