Misteri Teriakan Istri Irjen Ferdy Sambo Sebelum Brigadir J Tewas, Penuh Tanda Tanya

Misteri Teriakan Istri Irjen Ferdy Sambo Sebelum Brigadir J Tewas, Penuh Tanda Tanya
Bharada E Usai Menjalani Pemeriksaaan Komnas HAM. ©2022 Liputan6.com/Johan Tallo
TRENDING | 4 Agustus 2022 08:08 Reporter : Tantiya Nimas Nuraini

Merdeka.com - Kasus meninggalkan Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J dalam baku tembak dengan Bharada E masih terus berlanjut. Sebelumnya, polisi yang menyebutkan Brigadir J berusaha melecehkan istri Irjen Sambo.

Kemudian Bharada E muncul hendak menolong namun justru terjadi insiden adu tembak antara Brigadir J dan Bharada E.

Insiden tersebut meninggalkan banyak kejanggalan. Terlebih menurut Kombes Leonardo, ada teriakan yang memanggil sosok Ricard dan Riki yang terdengar dari Putri Candrawathi, istri Irjen Ferdy Sambo.

"Teriakan ibu memanggil Riki, Richard, tolong seperti itu," imbuhnya.

Belakangan diketahui sosok Bharada E diduga adalah Richard Eliezer Pudihang Lumiu.

2 dari 5 halaman

Teriakan Istri Irjen Ferdy Sambo

Kombes Leonardo membeberkan kronologi kasus meninggalkan Brigadir J di TKP. Menurutnya, terdapat teriakan yang terdengar dari Putri Candrawathi, istri Irjen Ferdy Sambo memanggil sosok Ricard dan Riki.

"Duduk kronologi fakta di TKP. Apa yang disampaikan kepada Reza dan kepada saya waktu itu. Disampaikan bahwa di TKP itu ada teriakan ibu," terang Leonardo

Bharada E yang diduga adalah Ricard disebutkan oleh Kombes Leonardo lantas bertanya kepada Brigadir J. Almarhum disebutkan lebih dulu menodongkan senjata dan terjadilah adu tembak.

"Richard lantas pertama datang, turun ke bawah dari tangga ketemu sama almarhum yang sudah keluar dari kamar menenteng senjata," ujar Leonardo.

"Ada apa bang, seperti itu pertanyaannya dan almarhum langsung mengacungkan senjata. Kebetulan si Richard ini memegang senjata juga," paparnya.

"Begitu ditembak dia langsung mengelak dan terjadilah tembak menembak. Itu yang kami dengar untuk kronologis fakta sementara di TKP. Dan dari Polres Jakarta Selatan datang dan dokter untuk dilakukan autopsi. Itulah kronologis awal di TKP," pungkasnya.

3 dari 5 halaman

Dengar Teriakan Tanpa Tahu Sebabnya

Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik mengatakan ajudan mendengar istri Irjen Ferdy Sambo berteriak adalah Bharada E dan Riki.

Akan tetapi, Komnas HAM mengatakan Bharada E dan Riki tidak mengetahui sebab dari teriakan tersebut meski mendengarnya.

"Bharada E dan Ricky dia hanya mendengar teriakan. Dia tidak tahu mengapa terjadi teriakan itu. Di situ miss link yang harus kita cari dengan alat-alat bukti yang lain untuk bisa memastikan apa sesungguhnya yang terjadi," katanya di Komnas HAM, Rabu (3/8).

Namun, Damanik melanjutkan, setelah keterangan tersebut masih dari satu pihak yaitu para ajudan. Komnas HAM pun tak ingin percaya begitu saja dan harus kroscek dengan bukti-bukti lain.

Diketahui, polisi menyebutkan Brigadir J melakukan pelecehan seksual terhadap istri Irjen Ferdy Sambo. Hingga berakhir terjadi baku tembak yang menewaskan Brigadir J oleh Bharada E.

"Soal peristiwa pelecehan seksual itu yang bisa memberikan keterangan Ibu P, Yosua sudah meninggal," katanya.

Untuk itu, Damanik meminta jangan dikembangkan dengan spekulasi macam-macam. "Ini saja fokus untuk mencari kebenaran material itu di sini," katanya.

4 dari 5 halaman

Tetapkan Bharada E Sebagai Tersangka

Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Djajadi menggelar konferensi pers terkait perkembangan kasus Brigadir J di Gedung Bareskrim Polri. Brigjen Andi Rian mengungkapkan penyidik telah menetapkan Bharada E sebagai tersangka kasus penembakan di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo.

"Penyidik menetapkan Bharada E sebagai tersangka dengan sangkaan Pasal 338 KUHP jo 55 dan 56 KUHP," ujar Brigjen Andi Rian di Gedung Bareskrim Polri, Rabu (3/8).

Dari hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan, Komisioner Komnas HAM Choirul Anam mengakui jika terjadi insiden baku tembak yang menewaskan Brigadir J di rumah tersebut. Hal itu diketahui dari pengakuan Bharada E saat diperiksa Komnas HAM.

"Sepanjang yang kami periksa, Bharada E menjelaskan banyak hal. Salah satunya adalah soal menembak," kata Anam saat jumpa pers di gedung Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat.

5 dari 5 halaman

Laporan Dugaan Penganiayaan

Sebelumnya, kuasa hukum Brigadir J, Kamarudin Simanjutak mendatangi Bareskrim pada Senin (18/7) pagi. Kehadirannya guna membuat laporan terkait dugaan penganiayaan terhadap almarhum Brigadir J.

"Kuasa hukum daripada keluarga almarhum Yoshua untuk membuat laporan polisi tentang dugaan tindak pidana, pembunuhan terencana," tutur Kamarudin.

"Sebagaimana dimaksud dalam pasal 340 KUHP Jo pembunuhan sebagaimana 338 KUHP Jo penganiayaan yang menyebabkan kematian orang lain Jo pasal 351 KUHP, kemudian dugaan pencurian atau penggelapan handphone Jo pasal 372 374, kemudian dugaan tindak pidana meretas dan atau penyadapan atau tindak pidana telekomunikasi," katanya.

(mdk/tan)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini