Pasar Tradisional Semerawut, Dedi Mulyadi Ngamuk Sambil Tunjuk-tunjuk

Pasar Tradisional Semerawut, Dedi Mulyadi Ngamuk Sambil Tunjuk-tunjuk
Pasar Tradisional Semerawut, Dedi Mulyadi Ngamuk. Kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel ©2021 Merdeka.com
TRENDING | 11 Oktober 2021 12:15 Reporter : Kurnia Azizah

Merdeka.com - Anggota DPR RI Dedi Mulyadi kembali naik pitam. Sebabnya pasar yang telah dibangun pemerintah justru menjadi semrawut dan tampak kumuh. Pasar itu yakni Pasar Leuwipanjang, Kota Bandung, Jawa Barat.

Ia melontarkan kekecewaannya terhadap para pejabat yang terlibat, serta para pedagang yang mengganggu akses jalan yang mengakibatkan kemacetan di sekitar pasar tradisional tak terelakkan.

Begitu emosi, bahkan Kang Dedi sampai menunjuk-nunjuk. Ia mengambil kayu untuk memukul kios. Kemudian menghubungi pejabat terkait untuk segera datang saat itu juga.

Simak ulasan selengkapnya berikut ini, seperti dihimpun dari kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel, Senin (11/10).

2 dari 4 halaman

Berdagang di Jalan Bikin Macet

Kang Dedi seakan tengah melakukan sidak ke pasar tradisional Leuwipanjang. Tapi ia dikejutkan dengan kondisi yang tidak rapi dan macet.

Lantaran banyak pedagang yang berjualan di jalan dan trotoar. Padahal sudah disediakan kios gratis dari pemerintah.

"Hai geser-geser. Enggak bisa kie, enggak kedemenan, sudah dibangun-bangun miliaran kok gini. Kenapa jualan di jalan? Pasar sudah ada di dalam, kan gratis. Buka-buka, paksa dibuka," kata Dedi.

pasar tradisional semerawut dedi mulyadi ngamuk
Kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel ©2021 Merdeka.com

Kang Dedi memaksa mereka untuk membongkar dan pindah ke dalam. Emosinya memuncak kala sejumlah pedagang mengabaikan dan tetap melakukan transaksi.

"Geser-geser, lain tempat dagangnya. Ibu geser di dalam. Itu pagar itu batas. Menteri pasarnya siapa? Kalian dibangunkan pasar gratis tena naon. Ayo ini mau naik nurut atau didorong langsung, bandel," tegasnya.

3 dari 4 halaman

Pejabat Setempat Dipaksa Datang

pasar tradisional semerawut dedi mulyadi ngamukKanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel ©2021 Merdeka.com

Segera Kang Dedi menghubungi kepala dinas dan kepala pasar untuk datang ke lokasi. Ia kecewa pasarnya terlihat berantakan, tak sesuai harapan.

"Bos ke pasar. Gimana ini, sudah halus-halus dibangun tapi malah awut-awutan ini. Kumaha ini malah dijual kiosnya. Molor ae, dateng ka die'," ujar Dedi.

Jalanan menjadi macet, karena mereka berdagang di lokasi parkir dan akses jalan kaki. Satpol PP yang mendampingi Kang Dedi pun diminta untuk membantu mengangkat meja dagangan ke dalam pasar.

"Hei ibu kabeh, jangan dagang di jalan. Ayo mundur, diangkat-diangkat. Ayo cepat diangkatin. Tempat parkir dipakai dagang. Parkir jadi pindah ke jalan, jadi macet," terangnya.

4 dari 4 halaman

Pukul Kios dan Marahi Pejabat di Depan Banyak Orang

pasar tradisional semerawut dedi mulyadi ngamukKanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel ©2021 Merdeka.com

Tak berhenti di situ, Kang Dedi berkeliling sembari membawa kayu untuk memukul beberapa kios. Bentaknya kian keras, seiring pedagang yang memilih diam tak segera menggubris.

Setelah dipaksa pindah, jalanan menjadi lebih rapi dan nyaman. Pejabat setempat yang datang ke Pasar Leuwipanjang langsung kena teguran.

"Ini nyaho pejabatnya. Ini bikin bangunan sejak Kepala Dinas, Kepala Bidang, kasi, kepala pasar, Satpol PP, Camat, Lurah, RT, RW, molor ae sia teh. Saya mah ngambek, capek. Tunjangan, kinerja daerahnya gimana ini? Padahal pejabatnya digaji," tegas Dedi.

pasar tradisional semerawut dedi mulyadi ngamukKanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel ©2021 Merdeka.com

Bahkan keluhan seorang pemulung dengan semrawutnya pasar, didengar langsung oleh Dedi. Lalu ditemani mengeluh ke Kepala Dinas dan Kepala Pasar.

Hal ini dilakukan Dedi dengan upaya menertibkan masyarakat dan pedagang supaya mendapatkan kenyamanan dalam bertransaksi. Sekaligus mengurai kemacetan dan mencegah kecurangan fasilitas dari pemerintah.

"Bu, besok ini ditertibkan. Ini serius bu. Ini akses jalan milik Pemda, bukan untuk berdagang. Ini tanah bapak bukan? Bongkar. Semua yang melanggar harus ditertibkan. Kalau setiap orang bertindak sendiri-sendiri, negara sedikit-sedikit bisa kacau. Setiap orang punya ego," tandasnya.

(mdk/kur)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami