Potret Mencekam Razia Preman Tahun 1979, Cikal Bakal Petrus

Potret Mencekam Razia Preman Tahun 1979, Cikal Bakal Petrus
Operasi Razia Preman. ©2022 Merdeka.com/tiktok/@katadoji
TRENDING | 25 September 2022 09:52 Reporter : Muhammad Farih Fanani

Merdeka.com - Indonesia pernah mengalami masa ketika premanisme diberantas dengan cara keras dan sadis. Pada tahun 1980-an, terjadi penembakan misterius alias petrus terhadap orang yang diduga preman di Indonesia.

Pembunuhan tersebut bukanlah tindakan yang merupakan ujung dari sebuah proses hukum. Penembakan terhadap orang-orang yang diduga preman itu dilakukan secara misterius dengan bermodalkan identifikasi dari penampilan saja.

Ini tentu salah satu kisah yang memilukan. Namun, sebelum tragedi Petrus, pada tahun 1979 pernah terjadi sebuah razia preman yang dilakukan di Jakarta. Kondisi mencekam itu terekam dan diunggah oleh akun Tiktok @katadoji. Simak ulasannya.

2 dari 5 halaman

Razia Preman

operasi razia preman

©2022 Merdeka.com/tiktok/@katadoji

Pada tahun 1979, pemerintah memutuskan untuk melakukan razia preman di Jakarta. Razia ini dilakukan karena masyarakat sudah sangat resah dengan tindakan para preman yang merugikan.

Razia tersebut menjaring orang-orang yang berpenampilan mencurigakan dan terlihat seperti seorang preman. Jika ada orang yang memenuhi kriteria tersebut, maka akan diangkut dan dibawa oleh aparat keamanan.

Selain itu, para aparat juga menjaring orang-orang yang tidak memiliki identitas resmi. razia itu dilakukan di jalan-jalan protokol dan beberapa terminal yang rentan akan tindakan kejahatan.

3 dari 5 halaman

Masyarakat Resah

operasi razia preman
©2022 Merdeka.com/tiktok/@katadoji

Razia tersebut dilakukan oleh pemerintah untuk menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat Indonesia, terutama di Jakarta. Keberadaan preman yang sudah merajalela saat itu dinilai cukup merugikan.

Sebab, tindakan kriminal yang dilakukan oleh preman marak terjadi di berbagai tempat umum. Tindakan-tindakan kriminal tersebut antara lain pencopetan, pemalakan, pencurian, dan lain sebagainya.

Hal ini membuat pemerintah melalui Pangkokamtib (Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) yang saat itu dijabat oleh Laksamana TNI Sudomo melakukan penangkapan terhadap orang-orang yang diduga preman untuk mengatasi masalah yang berkepanjangan tersebut.

4 dari 5 halaman

Cikal Bakal Petrus

operasi razia preman
©2022 Merdeka.com/tiktok/@katadoji

Operasi razia preman yang dilakukan pada tahun 1979 tersebut merupakan cikal bakal Petrus (penembakan misterius) yang terjadi pada sekitar tahun 1983-1984.

Petrus merupakan respons pemerintah atas maraknya kasus premanisme. Penembakan misterius tersebut merupakan rentetan dari penembakan yang terjadi di Yogyakarta pada April 1983.

Penembakan tersebut dilakukan secara sadis terhadap orang yang diidentifikasi sebagai preman. Selama bulan Mei 1983, tidak kurang ada 22 orang yang tewas tertembak di Jakarta.

Dikatakan bahwa peristiwa kelam tersebut menelan angka 3 ribu orang. Hal ini tentu merupakan angka yang cukup besar.

5 dari 5 halaman

Pernyataan Soeharto

operasi razia preman

©2022 Merdeka.com/tiktok/@katadoji

Penembakan terhadap para preman itu beberapa tahun kemudian menjadi tak lagi misterius. Saat itu Presiden Soeharto menyatakan tindakan keamanan itu terpaksa dilakukan karena aksi kejahatan semakin brutal dan meluas.

Menurut Soeharto, tindakan tegas dengan cara kekerasan harus dilakukan terhadap para penjahat sebagai sebuah treatment therapy. "Tetapi kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan, dor! dor! begitu saja. Bukan! Tetapi yang melawan, ya mau tidak mau harus ditembak. Karena melawan maka mereka ditembak," kata penguasa Orde Baru itu.

"Lalu ada yang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Itu untuk shock therapy, terapi goncangan. Supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya. Tindakan itu dilakukan supaya bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampaui batas perikemanusiaan itu. Maka kemudian redalah kejahatan-kejahatan yang menjijikan tersebut".

Meski cara penumpasan kejahatan itu sadis, banyak masyarakat yang mengapresiasi. Sebab, masyarakat yang sebelumnya takut bepergian karena kejahatan preman yang merajalela, akhirnya bebas menjalani aktivitasnya kembali tanpa rasa takut.

(mdk/mff)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini