Rumah Adat Bali dengan Arsitektur dan Aturan Khasnya yang Patut Diketahui

Rumah Adat Bali dengan Arsitektur dan Aturan Khasnya yang Patut Diketahui
Rumah Adat Bali. Liputan6 ©2021 Merdeka.com
TRENDING | 11 September 2021 11:03 Reporter : Kurnia Azizah

Merdeka.com - Rumah adat Bali merupakan gambaran khas tradisional yang kental dengan nilai-nilai agama Hindu. Beragam keunikan dari sisi arsitektural atau aspek filosofis yang terkandung, membuat rumah adat Bali kian menarik.

Bahkan tak sedikit pesohor dan artis kenamaan yang menjadikan rumah adat Bali sebagai inspirasi tempat tinggal. Diketahui untuk membangun rumah adat ini, ada aturan yang sekilas tampak menyerupai fengshui dari Cina.

Naskah Hindu kuno yang disebut Lontar Asta Kosala Kosali jadi panduan utama untuk membangun rumah adat bali. Membahas aturan tata letak ruangan dan bangunan. Selain itu, ada naskah-naskah lain sebagai pelengkap. Naskah panduan tersebut juga telah dikembangkan sesuai dengan topografi lokal.

Rumah adat Bali identik dengan pura. Sebagai pintu gerbang utama untuk masuk ke area halaman atau gapura terluar, serta tempat peribadatan umat Hindu.

Keunikan lain dari rumah adat Bali, mempunyai pura keluarga, dinding lumpur bercat putih, dan bangunan beratapkan jerami.

Simak lebih lanjut mengenai rumah adat Bali beserta aturan arsitekturnya, seperti dihimpun dari berbagai sumber, Jumat (10/9).

2 dari 4 halaman

Arsitektur Rumah Adat Bali

rumah adat bali
Pura Lempuyang Ketatkan, Liputan6 ©2021 Merdeka.com

Biasanya rumah adat Bali berdiri kokoh di atas sebidang pekarangan, dengan berbagai unit bangunan.

Rumah adat Bali akan dilengkapi dengan bangunan seperti bale dangin atau pendopo upacara, pura, bale sakepat atau ruang serba guna, bale sakenam, lumbung atau jineng, aling-aling atau tembok pelindung, serta paon atau dapur.

1. Gerbang Rumah

Melansir dari Palm Living, rumah adat Bali umumnya memiliki pura yang kita sebut dengan 'Gapura Candi Bentar'. Gapura Candi Bentar adalah dua bangunan candi sebagai gapura, yang memiliki bentuk identik.

Gapura ini diletakkan sejajar sebagai pintu gerbang utama untuk memasuki halaman rumah. Biasanya dijadikan pintu masuk utama pura. Gerbang ini ditempatkan terpisah satu sama lain, serta tak ada penutup di atapnya.

Meski tanpa atap, tapi kedua bangunan candi itu terhubung satu sama lain dengan adanya pagar besi dan sejumlah anak tangga.

2. Arca

Selain pura, kentalnya Hindu di rumah adat Bali terletak pada berbagai arca. Ini menjadi simbol adat budaya di sana. Arca yang berada di rumah adat Bali disebut dengan Arca Kuladewata.

Arca merupakan media keagamaan, yakni sarana dalam memuja tuhan atau dewa-dewi. Berbeda dengan patung pada umumnya, arca juga hasil seni yang melambangkan keindahan.

3. Angkul-Angkul

Gerbang tradisional angkul-angkul merupakan sepasang dua balok bata merah dalam posisi berjajar dengan pintu kayu. Memiliki atap limas yang terbuat dari rumput kering.

Bangunan angkul-angkul ini biasanya lebih tinggi dari tembok yang mengelilingi rumah.
Selain itu, di sisi kanan dan kiri gerbang dilengkapi patung penjaga. Kerap kali berbentuk laki-laki dan perempuan dengan kedua telapak tangan di depan dada. Sebagai pose penyambutan, seakan mengucapkan Om Swastiastu.

4. Sanggah/Merajan

Keistimewaan rumah adat Bali selanjutnya dengan keberadaan sanggah atau merajan. Dikisahkan dalam konsep Tri Mandala, sanggah terletak di area utama, tepatnya di sisi timur laut rumah.

Dikutip dari laman Borneohouse, anggah ini biasanya menyimpan relief sejarah yang memuat pesan moral pada dinding luarnya.

3 dari 4 halaman

5. Bale Dangin

Bangunan selanjutnya yang ada di rumah adat Bali ialah Bale Dangin. Bangunan terbuka yang berdiri di area Madya atau sisi timur. Mempunyai dinding tunggal di sisi belakang.
Terdapat satu ranjang kayu besar untuk upacara ritual Manusa Yadnya, yang bertujuan membersihkan jiwa manusia.

Bale Dangin juga jadi tempat menyimpan berbagai peralatan upacara. Biasanya di bagian depan tiang penyangga atap, ada patung garuda berbadan manusia atau singa bersayap dua.

Simbol binatang tersebut dipercaya sebagai pelindung dari ilmu hitam, terutama saat keluarga menjalankan ritual Manusa Yadnya.

bali pura
©2012 Merdeka.com/sapto anggoro

6. Sake Enem

Bangunan di rumah adat Bali di dalam pekarangan berikutnya adalah Sake Enem. Ini bangunan untuk tamu yang desainnya hampir sama dengan Bale Dangin.

Memiliki struktur terbuka dengan dinding tunggal di sisi selatan. Selain itu ada tempat tidur kayu besar di tengahnya. Sebagian yang lain menggunakan tikar anyaman di lantai.

Sake Enem ditempatkan di daerah Nista atau sebelah selatan. Hal ini lantaran sikap berjaga-jaga, apakah tamu membawa aura baik atau buruk. Jadi bisa segera dinetralisir, jika membawa suasana buruk.

7. Meten atau Bale Daja

Meten ialah bangunan untuk anggota keluarga yang lebih tua. Yang terdiri dari satu kamar tidur dan teras. Terletak di daerah utama, yaitu sisi utara rumah.

Lantaran anggota keluarga tertua, biasanya adalah pendeta yang dihormati di kuil keluarga.
Keunikan rumah adat Bali yang terpancar di bangunan ini, ada elief burung merak atau lembu Bali. Terletak di pintu dan jendela.

Sapi ini termasuk hewan suci, simbol untuk orang terhormat dari budaya India. Sementara burung merak sebagai simbol orang terhormat dalam budaya Tionghoa.

8. Dapur atau Paon

Bangunan berikutnya di rumah adat bali ada dapur atau paon. Mengutip dari Bali Around, bangunan ini terletak di selatan. Karena berhubungan dengan Brahma (dewa api) yang berada di wilayah selatan.

9. Bale Dauh

Selanjutnya ada bangunan Bale Dauh untuk semua anggota keluarga, kecuali yang tertua. Ditempatkan di kawasan Madya, yakni sisi barat rumah.

Bale Dauh mempunyai beberapa kamar tidur dan satu teras. Bangunan ini jadi yang paling besar di antara yang lain. Dilengkapi banyak relief tumbuh-tumbuhan. Melambangkan kemakmuran dan kesatuan kesatuan keluarga.

rumah adat bali
Liputan6 ©2021 Merdeka.com

10. Jineng/Lumbung

Rumah adat Bali dilengkapi dengan lumbung padi yang disebut jineng. Bangunan gudang ini erletak di belakang Sake Enem, dekat paon.

Jineng diposisikan lebih tinggi dari bangunan lain. Terdapat tiang di setiap sudut bangunan yang tampak menyerupai rumah merpati besar dengan pintu. Tersedia tangga kayu untuk mengambil beras.

11. Aling-Aling

Sejatinya orang Bali terkenal akan keramahannya, terutama kala menyambut tamu. Bahkan disebutkan hampir tak pernah menutup gerbang.

Demi menjaga privasi, rumah adat Bali memiliki aling-aling, yaitu bangunan tembok kecil antara angkul-angkul (gerbang) dan halaman rumah.

4 dari 4 halaman

Filosofi Aturan Membangun Rumah Adat Bali

bali pura

©2012 Merdeka.com/sapto anggoro

Seperti disebutkan sebelumnya, aturan dalam membangun rumah adat Bali tertuang dalam panduan naskah Asta Kosala Kosali. Filosofi yang terkandung ialah terbangunnya keselarasan dan dinamisme dalam kehidupan.

Guna mencapai hubungan yang damai dan harmonis dalam tiga aspek atau Tri Hita Karana, yakni:

1. Pawongan: hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia.

2. Palemahan: hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan.

3. Parahyangan: hubungan Rohani atau harmonisasi antara manusia dengan Tuhan.

Asta Kosala Kosali jadi patokan utama sudut dan arah bangunan di dalam rumah adat Bali. Semisal, sudut timur laut adalah daerah keramat atau baik. Sehingga ditempatkannya candi. Sedangkan sudut barat daya dianggap daerah yang lebih rendah atau buruk, jadi untuk dapur.

Selain Asta Kosala Kosali, terdapat naskah-naskah lain sebagai pelengkap, seperti:

- Lontar Asta Bumi: berisi aturan tentang luas tanah dan letak rumah yang bagus.

- Lontar Asta Dewa

- Lontar Wisma Karma: berisi aturan nama, bentuk, dan fungsi setiap bangunan.

- Lontar Dewa Tattwa: berisi aturan upacara pembersihan sebelum rumah dibangun

Uniknya lagi, dimensi pengukuran rumah adat Bali tidak menggunakan meteran. Melainkan aturan pada anatomi tubuh seperti tangan, jari, lengan, dan kaki dari pemilik rumah.

Kemudian dibantu sang undagi sebagai pedande atau orang suci yang punya wewenang membantu pembangunan rumah atau pura. Sehingga dipercaya akan menghasilkan rumah yang proporsional dan keterikatan antara pemilik dengan bangunan rumah.


(mdk/kur)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami