10 Destinasi Wisata Prioritas Bakal Dilengkapi PLTS

UANG | 13 November 2019 13:30 Reporter : Siti Nur Azzura

Merdeka.com - Sebanyak 10 destinasi wisata prioritas di Indonesia yang sudah ditetapkan oleh pemerintah akan segera diterangi dengan energi baru terbarukan (EBT), yaitu pemaksimalan tenaga surya.

"Pariwisata menjadi salah satu sektor yang ditargetkan dapat memanfaatkan sumber energi baru terbarukan (EBT), khususnya tenaga surya untuk sumber energi listrik sehari-hari," kata Staf Ahli Bidang Lingkungan Hidup dan Tata Ruang, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Saleh Abdurrahman di Jakarta, dikutip Antara, Rabu (13/11).

Kesepuluh destinasi wisata tersebut adalah Danau Toba, Belitung, Kepulauan Seribu, Tanjung Lesung, Borobudur, Bromo Tengger Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, dan Morotai (Maltara).

"Jadi ini 10 destinasi prioritas akan kita maksimalkan pemanfaatan PLTS, karena daerah wisata itu harus sebanyak banyaknya menggunakan energi terbarukan," imbuhnya.

Langkah ini merupakan salah satu perwujudan cita-cita besar dalam pengelolaan energi yang ramah lingkungan. Pada tahun 2025 Pemerintah menargetkan penggunaan EBT mencapai 23 persen dari total bauran energi seluruhnya, di mana PLTS diproyeksikan dapat menyumbang sebanyak 2.023,3 MW di tahun 2025 yang berasal komulatif RUPTL, Target Penambahan Sinergi BUMN, Pemasangan PLTS Atap, serta penggunaan APBN (Kementerian ESDM dan K/L lainnya).

Untuk mencapai target 23 persen pada 2025 tersebut Saleh memaparkan setidaknya Indonesia sudah memiliki suplai energi lebih dari 400 MTOE dengan lebih dari 115 GW kapasitas terpasang pada pembangkit listrik yang dapat menghasilkan 2.500 kWh perkapita dalam setahun. Dan pada saat itu rasio elektrifikasi di Indonesia sudah mencapai 100 persen.

"Bagaimana kita mencapai target tersebut, salah satunya dengan PLTS," jelas Saleh.

1 dari 1 halaman

Penggunaan PLTS

Dalam RUPTL, penggunaan PLTS ditargetkan terus meningkat tiap tahunnya. Jika pada tahun 2019 PLTS di targetkan menghasilkan 126,8 MW, pada tahun 2022 meningkat menjadi 553,6 MW dan terus meningkat menjadi 993,5 MW di tahun 2025.

Di luar RUPTL, Saleh juga menjelaskan bahwa ada pasar energi yang juga potensial dalam penggunaan PLTS misalnya PLTS Atap, smelter maupun industri lainnya. Dari pasar energi ini diharapkan dapat menambah pasokan energi sebanyak 201 MW di tahun 2025.

Pemanfaatan sumber energi yang ramah lingkungan ini pula sejalan dengan Paris Agreement yang ditandatangani pada 22 April 2016 di Paris oleh Indonesia melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).

"Presiden Joko Widodo dalam COP 21 yang dilaksanakan pada tanggal 21 Desember 2016 juga berkomitmen mereduksi emisi sebesar 29 persen dengan menggunakan kemampuan sendiri dan 41 persen dengan dukungan internasional," ungkap Saleh. (mdk/azz)

Baca juga:
Dorong Industri Gunakan PLTS, Menteri Jonan Bakal Buat Aturan Baku
Asosiasi Keluhkan Banyaknya Regulasi Hambat Pembangunan PLTS
Peneliti: Pengembangan Energi Surya di Indonesia Masih Tertinggal
PLN Cari Mitra Kembangkan PLTS Terapung di Cirata
Penuhi Kebutuhan Listrik, Ponpes Wali Barokah LDII di Kediri Bangun PLTS
Menteri Jonan Minta 6.500 SPBU Pertamina Gunakan Pembangkit Surya