3 Hal Ini Picu Masyarakat Rentan Tergoda Fintech Ilegal

3 Hal Ini Picu Masyarakat Rentan Tergoda Fintech Ilegal
Ilustrasi fintech. © business insider
UANG | 13 April 2021 11:57 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - Vice President Digital Banking Development and Operation Division Bank Rakyat Indonesia Kholis Amhar, memaparkan tiga faktor pemicu masyarakat mudah tergoda fintech ilegal. Pertama, pemasaran fintech cukup masih dilakukan di seluruh media sosial.

"Pertama karena pemasaran fintech itu sangat masif dan mereka bisa menyediakan solusinya dari server di luar negeri," ujar Kholis dalam diskusi daring, Jakarta, Selasa (13/4).

Kemudian, faktor kedua adalah kebutuhan masyarakat yang meningkat pesat di tengah pandemi Virus Corona. Sementara di sisi lain, banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan.

"Kemudian juga ada perilaku masyarakat dipicu Covid-19. Di mana kebutuhan dana sehari-hari itu meningkat, banyak kehilangan pekerjaan tapi kebutuhan meningkat," jelas Kholis.

Dia menambahkan, faktor ketiga adalah, literasi keuangan yang minim namun penetrasi internet cukup tinggi. Penetrasi terus dilakukan fintech ilegal dengan menampilkan iklan yang menggiurkan.

"Rendahnya literasi keuangan masyarakat sementara penetrasi teknologi tinggi. Ada penawaran pencairan dana yang cepat dan syarat yang mudah serta kemudahan akses maka mendorong terjadinya transaksi melalui fintech ilegal," tandasnya. (mdk/azz)

Baca juga:
BI Luncurkan Sandbox 2.0 Dukung Inovasi Startup Fintech
Atome Financial Akuisisi Perusahaan Pembiayaan Mega Finadana
ShopeePay Bisa Bayar Aplikasi Sampai Game di Google Play Store
Akseleran Klaim Salurkan Pinjaman Rp 110 Miliar per Februari 2021
Mayoritas UMKM Belum Berbadan Hukum, Fintech P2P Lending Jadi Andalan Pendanaan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami