4 Cerita di balik pembuatan pesawat N219 buatan anak negeri diminati banyak negara

UANG | 24 Agustus 2017 06:00 Reporter : Saugy Riyandi

Merdeka.com - PT Dirgantara Indonesia merupakan industri pesawat terbang satu-satunya di Indonesia dan di wilayah Asia Tenggara. Sejak didirikan pada 26 April 1976, perusahaan ini telah memproduksi berbagai pesawat terbang, helikopter, senjata, dan menyediakan jasa pemeliharaan untuk mesin-mesin pesawat.

Produk buatan Indonesia ini mulai diakui banyak negara. Pesawat N219 ini resmi terbang perdana pada Rabu (16/8). Sebelum diterbangkan, pesawat tersebut sudah melakukan rangkaian pengujian pada 9 Agustus 2017 lalu.

Pesawat N219 itu diterbangkan di landasan pacu Bandara Husein Sastranegara, Jalan Pajajaran nomor 154 Bandung, sekitar pukul 09.13 WIB. Sorak sorai bangga ratusan karyawan dan tamu undangan mewarnai ketika pesawat berwarna putih tersebut untuk kali pertamanya lepas landas.

Flight test atau uji coba penerbangan N219 disaksikan langsung Kepala LAPAN Thomas Djamaludin, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santoso, Direktur Utama PT DI Budi Santoso serta pejabat teras PT DI.

Budi Santoso mengatakan, purwarupa pesawat N219 tersebut mengudara di langit-langit Bandung selama 20 menit. Adapun rute yang ditempuh yakni kawasan Batujajar dan Waduk Saguling Kabupaten Bandung Barat.

"Nanti pesawat akan kembali landing di sini," kata Budi disela-sela penyaksian flight test.

Pesawat buatan anak negeri, N219, ini diminati beberapa negara, salah satunya Thailand.

"Yang tertarik banyak. Thailand. Kanada karena memang kerja sama juga sama kami. Kroasia yang bilang kalau pesawat jadi kasih tahu. Tapi kami enggak bisa jual janji dulu yah," kata Budi.

Selain negara luar yang sudah membidik pesawat berkapasitas 19 orang, Indonesia juga merencanakan pemesanan seratus unit. Dikatakan Budi, pesawat ini memang diperuntukkan buat penerbangan perintis.

"Untuk Indonesia mendekati 100 pesawat. Terutama di Indonesia Timur. Peminat bukan untuk sipil saja," ujar Budi.

Merdeka.com merangkum fakta-fakta di balik pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia yang diminati berbagai negara.

Deretan kelebihan pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia

Jika lolos uji, PT DI siap produksi 12 pesawat N219 per tahun

Uji terbang N219 ke-2, bos PTDI banggakan proses produksi tak ada campur tangan asing

Menristekdikti sebut N219 bukti kembali kebangkitan kedirgantaraan nusantara

5 Fakta pesawat buatan PTDI, diremehkan hingga dipakai banyak negara

Pengembangan pesawat N219 buatan anak negeri telan Rp 1 triliun

1 dari 4 halaman

Kado HUT RI ke-72

Pesawat N 219. ©indonesian-aerospace.com

Pesawat N219 mendarat sempurna di Landasan Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Rabu (16/8) pagi. Landing pesawat dalam first flight test tersebut disambut sorak sorai dan tepuk tangan ribuan karyawan yang berada di pinggiran hanggar.

Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (PT DI), Budi Santoso, mengatakan flight test purwarupa pesawat pertama N219 ini memang dilakukan sebagai momentum peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72. "Ini kado ulang tahun untuk Indonesia yang akan memperingati hari jadinya pada 17 Agustus besok," terang Budi.

Pesawat jenis fixed wing tersebut diterbangkan oleh Captain Esther Gayatri Saleh yang merupakan Chief Pilot PT DI sekitar pukul 09.13 WIB. Mengitari langit-langit Bandung, pesawat lalu mendarat pukul 09.40 WIB.

Pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (DI) yang seluruhnya murni sentuhan anak bangsa ini setiba di landasan langsung disambut lagu 'Padamu Negeri'. Selain itu, ada juga teriakan 'Hidup Indonesia', dan 'Hidup PT DI'.

Captain Esther Gayatri Saleh yang didampingi Captain Adi Budi Atmoko sebagai first officer ketika turun langsung diberi pelukan dari para pejabat teras PT DI dan perwakilan dari LAPAN serta Kemenhub.

"Pesawat ini bagus. ‎Saya bangga ultah kemerdekaan, PT DI bisa memberikan produk yang semua dibuat anak bangsa," kata Captain Esther dengan wajah penuh haru.

2 dari 4 halaman

Bangkitnya dunia dirgantara RI

Pesawat N219 jalani uji terbang kedua. ©2017 merdeka.com/dian rosadi

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan, tahun ini adalah kebangkitan kembali kedirgantaraan Indonesia. Setelah PT Dirgantara Indonesia bersama peneliti Lapan dan ITB berhasil menerbangkan pesawat buatan dalam negeri N219, Rabu (16/8) kemarin.

"Di bawah Kemenristekdikti, direktorat inovasi teknologi meluncurkan N219 bersama dengan Lapan, PT Dirgantara Indonesia dan ITB ini telah berhasil menerbangkan pesawat N219," kata Nasir usai menjadi inspektur upacara peringatan hari Kemerdekaan di lapangan Puspitek, Tangerang Selatan, Kamis (17/8).

Menurut Nasir, yang membuatnya merasa bangga adalah pesawat N219 itu dibuat 100 persen dari karya anak bangsa. "Pesawat ini dibuat semua oleh anak bangsa, tidak ada keterlibatan orang asing, ini semua orang indonesia," ucapnya.

Dia mengatakan, berdasarkan keterangan sang pilot yang menerbangkan perdana pesawat N219 itu, mengaku pesawat itu sangat baik. "Pilot testernya menyampaikan pesawat ini adalah menurutnya sangat sukses, sangat baik," ujar dia.

Oleh karena itu dia menyebut tahun ini adalah tahun kebangkitan kembali kedirgantaraan Indonesia. "Kita sebut tahun ini adalah tahun kebangkitan kembali kedirgantaraan Indonesia. Karena tahun 1995 pernah terbang N250 ini terbang N219 yang juga sangat baik," terang dia.

3 dari 4 halaman

Habiskan Rp 1 triliun untuk pengembangan

Pesawat N219 jalani uji terbang kedua. ©2017 merdeka.com/dian rosadi

Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso mengatakan, biaya pengembangan pesawat N219 sampai resmi diuji terbangkan menghabiskan biaya investasi sebanyak Rp 827 miliar. Setelah diuji coba, serangkaian test juga harus dilakukan pesawat ini untuk bisa mendapatkan sertifikasi kelaikan udara.

Budi menyebutkan, pihaknya masih membutuhkan Rp 200 miliar lagi untuk mendapatkan sertifikasi kelaikan tersebut. "Total sudah Rp 827 miliar, ya kalau diperkirakan bisa mencapai Rp 1 triliun karena untuk mendapatkan sertifikasi tadi kan," kata Budi dalam jumpa pers uji terbang N219 di Kantor PT DI Bandung, Rabu (16/8).

Dari Rp 827 miliar yang sudah dikeluarkan, LAPAN menggelontorkan sekitar Rp 500 miliar. Sedangkan sisanya dari PT DI selaku pihak pemroduksi.

Menurut Kepala LAPAN Thomas Djamaludin pendanaan N219 tersebut sebenarnya memang sudah lama tercetus atau sejak 2006 lalu. Namun, mulai adanya percepatan untuk segera memproduksi baru tiga tahun ke belakang.

"Tahun 2011 ketika LAPAN membentuk pusat penerbangan mulai memikirkan pembiayaan. Barulah 2014 sampai 2017 mendapatkan anggaran. Mulai dibuatkan dan ditetapkan. 2014 -2017 itu akhirnya kita dapatkan Rp 523 miliar. ‎Ini tidak seluruhnya dari LAPAN. Ada juga dari PT DI yang investasi," jelasnya di tempat sama.

Sebelum uji terbang, purwarupa pesawat pertama N219 sudah melakukan serangkaian pengujian dimulai dari wing static test, landing gear drop test functional test pertama medium speed taxi dan pada 9 Agustus 2017, purwarupa pesawat N219 menjalani high taxi dan hopping yaitu pengujian berjalan dengan kecepatan tinggi di landasan dan mengangkat roda depan, dan kemudian mendarat lagi.

Pasca ujicoba terbang, ‎pesawat pertama N219 masih harus melalui tahap fatigue fight test dan fight test certification yang 3000 cycle dan 300 Flight Hours untuk mendapatkan Type Certificate di 2018.

Type certificate adalah sertifikasi kelaikan udara dari desain manufaktur pesawat. Sertifikat ini dikeluarkan oleh badan pengatur dalam hal ini yang berwenang di wilayah Indonesia adalah Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan.

Selanjutnya dimulailah tahapan serial production, sehingga pada 2019 nanti purwarupa pesawat pertama N219 sudah siap dan laik untuk memasuki pasar, dengan prioritas memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan harga yang kompetitif.

4 dari 4 halaman

Tanpa campur tangan asing

Pesawat N219 jalani uji terbang kedua. ©2017 merdeka.com/dian rosadi

PT Dirgantara Indonesia kembali melakukan uji terbang purwarupa pesawat N219 untuk kedua kalinya di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Rabu (23/8). Uji terbang kedua ini dilakukan tepat di hari ulang tahun PT DI ke-41 yang jatuh pada hari ini.

Acara uji terbang purwarupa pesawat pertama N219 yang kedua ini disaksikan oleh Direktur Utama PT DI, Budi Santoso beserta seluruh jajaran direksi, dewan komisaris PT DI, dan tamu undangan perwakilan dari sejumlah kementerian terkait.

Budi menyebut keberhasilan uji terbang N219 ini sangat penting bagi industri kedirgantaraan Indonesia. Menurutnya, hal ini merupakan pembuktian bahwa bangsa Indonesia mampu melakukan rancang bangun, pengujian, sertifikasi sampai produksi.

"Tidak ada technical assistance dari bangsa asing. Semua adalah hasil kerja keras olah pikir atau brainware bertahun-tahun dari para engineer Indonesia untuk merancang dan nantinya memproduksi pesawat N219," katanya.

Menurut Budi, purwarupa pesawat pertama N219 ini sudah melakukan serangkaian pengujian dimuiai dari wing static test, landing gear drop test, functional test engine off, medium speed taxi, high speed taxi dan hopping yaitu pengujian berjalan dengan kecepatan tinggi di landasan dan mengangkat roda depan, kemudian mendarat lagi. Pada uji terbang perdana 16 Agustus 2017, purwarupa pesawat pertama N219 telah berhasil dengan lancar dan sukses, melakukan penerbangan perdananya.

Budi melanjutkan, serangkaian tes, analisa, dan pengembangan ini tidak berhenti sampai first flight (terbang perdana) saja. Purwarupa pesawat pertama N219 masih harus melalui tahap fatigue test, flight test development dan flight test certification yang membutuhkan 3000 cycle fatigue test dan 300 flight hours untuk mendapatkan Type Certificate di 2018.

Type certificate adalah sertifikasi kelaikan udara dari desain manufaktur pesawat. Sertifikat ini dikeluarkan oleh badan pengatur dalam hal ini yang berwenang di wilayah Indonesia adalah Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan.

Selanjutnya dimulailah tahapan serial production untuk mendapatkan production certificate, sehingga pada 2019 nanti, purwarupa pesawat pertama N219 sudah siap dan laik untuk memasuki pasar, dengan prioritas memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan harga yang kompetitif.

"Untuk itu, setelah uji terbang ini, kita akan evaluasi lagi semuanya apa yang perlu kita perbaiki," pungkasnya.

(mdk/sau)