4 Debt Collector Fintech Ditangkap Atas Aduan Pornografi, Asusila dan Pengancaman

UANG | 8 Januari 2019 16:38 Reporter : Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Tim Direktorat Tindak Pidana Siber (Ditipidsiber) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri meringkus 4 debt collector fintech yang telah menjadi tersangka. Keempat tersangka tersebut ditangkap berdasar laporan korban atas aduan pornografi, pengancaman, asusila, pengancaman kekerasan dan menakut-nakuti melalui media elektronik.

Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Pol Rickynaldo Chairulmenyebutkan, keempat tersangka tersebut berasal dari PT VCard Technology Indonesia yang bergerak dalam usaha Fintech Per To Per Lending atau pinjam meminjam dengan merek Vloan.

"Sudah kita amankan ke empat orang ini berperan sebagai debt collector (penagih)," kata dia dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (8/1).

Tindak pidana tersebut terjadi sebab pada saat nasabah mendownload aplikasi pinjaman Vloan, maka nasabah akan mengikuti dan menyetujui seluruh aturan yang ada di aplikasi agar pinjaman dapat disetujui oleh perusahaan PT Vcard Technologi Indonesia (VLOAN). Salah satunya adalah seluruh data yang ada di HP nasabah dapat diakses oleh pihak perusahaan.

"Adapun motifasi dari para tersangka dalam melakukan tindak pidana tersebut, agar para nasabah merasa cemas dan khawatir dengan segala tindakan, baik yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan oleh para tersangka, dengan harapan dari tindakan yang mereka lakukan para nasabah yang menunggak akan langsung membayar tagihan pinjaman," ujarnya.

Keempat tersangka tersebut dikenakan pasal 40, 29 jo Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Kemudian pasal 45 ayat (1) dan (3) Jo Pasal 27 ayat (1) dan (3), Tentang Penghinaan dan Pencemaran Nama Baik.

Selain itu, tersangka juga dijerat dengan pasal 45B Jo Pasal 29 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Yang terakhir adalah pasal 369 KUHP dan atau Pasal 3, 4, 5 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

"Adapun kerugian dari para korban adalah, salah satu dari mereka ada yang harus diberhentikan dari pekerjaannya, menanggung malu akibat penyebaran utang pada seluruh kontak yang terdapat pada HP korban, merasa terintimidasi dengan perkataan kasar dari para tersangka dan menjadi korban pelecehan seksual dari tersangka yang mengirimkan berbagai konten serta perkataan pornografi dalam group Whatsapp yang mereka buat," tutupnya.

Barang bukti yang diamankan dari para tersangka berupa laptop, handphone serta simcard.

Berikut identitas tersangka :

- Indra Sucipto, laki-laki, 31 Tahun, Jakarta, 30 Juni 1987, pekerjaan Karyawan Swasta;

- Panji Joliandri, laki-laki, 26 Tahun, Bengkulu, 29 September 1992 , pekerjaan Karyawan Swasta;

- Roni Sanjaya, laki-laki, 27 tahun, Jakarta, 11 November 1991, pekerjaan Karyawan Swasta;

- Wahyu Wijaya, laki-laki, 22 Tahun, Padang Cermin, 22 November 1996, pekerjaan Karyawan Swasta.

Baca juga:
Naik 5 Kali Lipat, Tunaiku Kucurkan Kredit Rp 1 Triliun Hingga Akhir 2018
Di Semarang, Bayar PBB Pakai GO-PAY
Transportasi, Ritel, dan E-commerce Diklaim Jadi Pemicu Tumbuhnya OVO
Kemkominfo Blokir 738 Fintech Selama Tahun 2018
Tumbuh Signifikan, Pembiayaan Fintech 2018 Capai Rp 3,9 Triliun
Ini Tantangan dan Peluang UMKM Manfaatkan Fintech di Era Digital

(mdk/idr)