5 Proyek Ini Disebut Belum Berikan Pendapatan ke Negara

UANG | 14 Agustus 2019 19:55 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri menuding lima proyek yang dikerjakan oleh Presiden Jokowi tak memberikan pendapatan atau revenue bagi negara. Menurutnya, kelima proyek ini hanya membuat pemborosan atau buang-buang uang negara.

Proyek pertama adalah LRT Palembang. Proyek ini dibangun pada Oktober 2015 dan selesai pada Juli 2018. LRT yang diklaim tercepat di dunia ini, menelan dana investasi sebesar Rp 10,9 triliun.

"Apa itu bentuk-bentuk pemborosannya? Kelihatan ini pertama LRT di Palembang. Proyek triliunan hasilnya tidak ada. Asian Games habis, ya habis itu LRT. Bayar listrik Rp 9 miliar sebulan aja nggak bisa. Ngitungnya gimana itu proyek? Karena tidak ada tender itu, tunjuk. A bangun! Gitu," ujar Faisal di Kedai Tempo, Jakarta, Rabu (14/8).

Proyek kedua adalah jalan layang atau flyover khusus transjakarta koridor XIII sepanjang 9,3 Kilometer (Km) jurusan Tendean-Ciledug. Secara total pembangunan jalan tersebut memakan dana sebesar Rp 2,5 triliun.

"Flyover transjakarta koridor 13, Tendean-Ciledug. Cuma ada satu di dunia jalan khusus bus, yang bus nya datang tiap lima menit penumpangnya nggak sampai 20 orang. Di bawahnya macet semua. Ini lah cara kita membangun. Tapi ini tidak era Jokowi, Foke di perencanaannya," jelasnya.

Kemudian, ada juga proyek kereta bandara Soekarno-Hatta yang menelan dana sebesar Rp 5 triliun termasuk pembebasan lahan serta konstruksi. Menghabiskan dana banyak, nyatanya proyek ini tak banyak mendatangkan pendapatan bagi negara.

"Airport railing. Teman-teman kalau lihat ada 6 gerbong, 1 gerbong nggak lebih dari 10 orang. Lihat stasiunnya di Dukuh Atas dan Soekarno-Hatta, Lengang. Dan dibangun memang nggak tahu tujuannya. Barangkali tahun 3000 baru terasa," jelasnya.

Dua proyek lainnya kata Faisal Basri adalah, Bandara Kertajati di Jawa Barat dan juga tol laut. Kedua proyek tersebut sama-sama menelan dana investasi lumayan besar tapi berkontribusi rendah kepada negara.

"Kemudian Kertajati, kita tahulah. Tol laut sudah tidak kedengaran nasibnya. Tapi pengadaan kapalnya sudah selesai. (Mantan Menteri Perhubungan) Jonan sudah senang deh pokoknya pengadaan kapalnya sudah. Kalau kita bangunnya gini terus, sementara kebutuhan naik, utangnya ya akan naik terus," tandasnya.

(mdk/idr)

TOPIK TERKAIT