ABK Indonesia Terjebak Gengsi, Tergoda Gaji Tinggi

ABK Indonesia Terjebak Gengsi, Tergoda Gaji Tinggi
UANG | 8 Mei 2020 18:00 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Mimpi bekerja di perusahaan luar negeri dengan gaji tinggi jadi impian banyak orang, tak terkecuali nelayan penangkap ikan. Bisa mengarungi laut lepas di luar teritorial NKRI meski hanya sebagai awak kapal. Tak lupa menumpang pesawat untuk sampai ke pelabuhan di luar negeri.

"Mereka ada prestise sendiri kalau bekerja di luar negeri karena katanya bisa naik pesawat," ungkap Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW)-Indonesia, Moh Abdi Suhufan saat berbincang dengan merdeka.com, Jakarta, Jumat (8/5).

Tak hanya menumpang pesawat, mereka juga merasa bangga bisa melihat kehidupan negeri orang. Sebab biasanya awak kapal banyak berasal dari kampung yang jauh dari hiruk-pikuk ibukota.

Sehingga, saat mendapatkan tawaran bekerja di kapal asing, tak sedikit dari mereka yang tertarik. Apalagi bekerja di perusahaan kapal asing bakal dibayar dengan mata uang asing. Jika dirupiahkan, jumlahnya lebih tinggi dari pendapatan bekerja sebagai awak kapal di dalam negeri.

Dua negara dengan standar upah awak kapal ikan terendah yakni China dan Taiwan. Di China standar upah awak kapal Rp3 juta per bulan. Sementara di Taiwan Rp4,5 juta per bulan.

Sayangnya mereka lupa, upah yang tinggi kerap berbanding lurus dengan resiko pekerjaan. Mereka tidak pernah tahu resiko bekerja di kapal perikanan luar negeri. "Sayangnya mereka tidak pernah tahu tentang resiko bekerja di kapal perikanan luar negeri," kata Abdi.

Sebagai koordinator LSM, Abdi menilai perlu ada edukasi bagi awak kapal yang berencana bekerja di kapal asing. Mereka harus mengetahui sistem kerja di kapal ikan perusahaan asing. Dia tak ingin ABK Indonesia tergiur dibayar dengan dolar, tetapi setelah menandatangani perjanjian kerja malah diperlakukan tidak pantas.

"Jangan hanya melihat enaknya saja, tapi mereka enggak tahu kalau bekerja di sana bisa disiksa, seperti minum air AC, makan umpan," ungkapnya.

Untuk itu, dia menilai, para ABK yang akan bekerja di luar negeri mendapatkan edukasi sebelum berangkat. Harus ada pengetahuan resiko yang mungkin terjadi bekerja di kapal asing.

Baca Selanjutnya: Perekrutan ABK...

Halaman

(mdk/azz)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami