Ada APBN Perubahan 2020, Pemerintah Dinilai Tak Mudah Hadapi Tantangan

Ada APBN Perubahan 2020, Pemerintah Dinilai Tak Mudah Hadapi Tantangan
UANG | 13 Mei 2020 10:16 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Ketua Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Said Abdullah mengatakan perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 dilakukan pemerintah dinilai tidak akan mudah, utamanya menghadapi tantangan ke depan. Sebab, pemerintah harus bisa memenuhi kebutuhan pembiayaan dengan mengandalkan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp654,5 triliun.

Defisit APBN semula dipatok pada kisaran Rp307,2 triliun (1,76 persen), kini menjadi Rp853 triliun (5,07 persen). Pemerintah harus menambal defisit dengan utang, karena sempitnya ruang fiskal.

"Tidak banyak yang bisa dikerjakan Pemerintah dalam utak atik APBN," kata dia di Jakarta, Rabu (16/5).

Selain banyak belanja yang sifatnya mandatori karena perintah UUD 1945 dan undang undang, seperti anggaran pendidikan 20 persen, anggaran kesehatan 5 persen, dan dana desa 10 persen, juga masih terdapat belanja rutin yang utak atiknya tidak longgar. Ini lah salah satu tantangan ke depan yang tidak mudah.

"Dalam situasi ekonomi domestik dan global mengalami slowing down, kita berharap masih banyak investor yang berminat dengan global bond yang diterbitkan pemerintah. Hingga 3 April 2020, justru banyak investor non residen melepas SBN senilai Rp135,1 triliun. Keadaan ini akan menjadi tantangan pemerintah," tutur Said.

Seperti diketahui sebelumnya, Pemerintah telah mengusulkan perubahan APBN 2020 kepada DPR RI. Desain makro APBN tahun 2020 komposisinya adalah pendapatan negara dipatok turun, semula Rp 2.233,2 triliun menjadi Rp1.760,9 triliun dan belanja negara naik, semula Rp2.540,4 triliun menjadi Rp2.613,8 triliun. Perubahan ini berkonsekuensi pada melebarnya angka defisit APBN.

Baca Selanjutnya: Menurut Said bila pandemi Covid-19...

Halaman

(mdk/azz)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami