Ada BSI, Indonesia Diharapkan Tak Lagi Impor Mukena dan Jilbab

Ada BSI, Indonesia Diharapkan Tak Lagi Impor Mukena dan Jilbab
Pasar Tanah Abang. ©2015 merdeka.com/imam buhori
EKONOMI | 17 Maret 2021 13:45 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - Direktur Utama Sri Rejeki Isman, Iwan S Lukminto menyambut baik adanya Bank Syariah Indonesia (BSI) yang merupakan hasil merger bank syariah perbankan BUMN. Dia berharap, dengan adanya perbankan syariah milik negara ini, Indonesia tak lagi mengimpor fesyen muslim seperti jilbab dan mukena.

Menurut Iwan, keberadaan perbankan syariah terbesar di Indonesia yang baru dibentuk pada Februari lalu, mampu memberikan dukungan kepada industri dalam negeri. Sebab, Indonesia dengan penduduk muslim terbesar di dunia masih banyak mengandalkan impor.

"Perbankan syariah awalnya dari mana? dari Arab. Negara Arab berdagang saja, sebab dia produsen minyak. Kita ini yang produsen dan berdagang juga. Jadi ada IKM yang produksi dan UKM yang berjualan," ujarnya, Rabu (17/3).

Iwan mengatakan, Bank Syariah Indonesia harus mampu memberikan dukungan pendanaan bagi IKM dan UKM. Supaya uang yang ada, bisa berputar di dalam negeri yang kemudian akan berdampak bagi perekonomian nasional.

"Ekosistem ini perlu kita bentuk bersama. Uang ini harus muter di kita jangan impor. Misalnya di fesyen mukenah, jilbab banyak impor. Ini nggak halal. Ini roh nya sudah salah tidak jujur. Kita perlu mengedukasi bersama," jelasnya.

Iwan mengatakan, saat ini industri dalam negeri khususnya pakaian halal sudah mewajibkan adanya sertifikasi untuk bahan yang akan digunakan. Termasuk jika dibutuhkan penggunaan bahan kimia diharuskan untuk melewati sejumlah rangkaian tes halal.

"Industri halal kita sudah melakukan untuk pemakaian kimia, bahan baku kita sertifikasikan juga. Ada juga untuk potensi digital transaksi perlu kita kembangkan ini akan mempermudah. Hemat saya, untuk menjadikan masyarakat memakai produk syariah perlu juga kita promosikan komplit dengan industrinya sehingga growth nya tepat dan besar," paparnya.

Iwan juga menyambut baik adanya perbankan syariah di Indonesia. Bank Syariah Indonesia diharapkan mampu bersaing secara internasional. "Ini ibarat bayi lahir, langsung lari. Dan saya rasa ini the largest merger. Sebab, baru dibentuk langsung punya aset capital yang besar," tandasnya. (mdk/azz)

Baca juga:
Bos BSI: Penetrasi Perbankan Syariah RI Masih Rendah
Indonesia Bakal Punya Penduduk Muslim Dewasa 184 Juta di 2025
Erick Thohir Akui Indonesia Terlambat Terapkan Keuangan Syariah
BSI Target Penjualan Sukuk Ritel SR014 Capai Rp500 Miliar
Wapres Ma'ruf Ungkap 3 Tantangan Pengembangan Ekonomi Syariah
Wapres Ma'ruf: Pengembangan Ekonomi Syariah Perlu Sinergi Hukum yang Positif

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami