Ada Diskriminasi Kelapa Sawit, Neraca Dagang RI Masih Surplus USD 587 Juta ke Eropa

UANG | 15 April 2019 14:43 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - Kampanye hitam kelapa sawit Indonesia oleh Eropa akan diputuskan bulan depan atau Mei 2019 oleh parlemen Eropa. Meski demikian, kebijakan kampanye hitam kelapa sawit oleh Eropa secara otomatis berlaku meski tidak dibahas dan disetujui seluruh parlemen Eropa.

Untuk diketahui, kampanye hitam sawit mulai diajukan ke parlemen Eropa pada 13 Maret 2019. Hal ini pun mengundang berbagai reaksi dari pemerintah, petani dan pengusaha karena dianggap akan mengganggu ekspor Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia terhadap Uni Eropa tidak mengalami perubahan signifikan, setelah Komisi Eropa meloloskan kebijakan pelarangan penggunaan minyak kelapa sawit.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, secara umum neraca perdagangan Indonesia ke kawasan tersebut sejak awal tahun hingga Maret 2019 masih mencatatkan surplus sebesar USD 587 juta. Ekspor tercatat sebesar USD 3,6 miliar sementara impor USD 3,02 miliar.

"Secara umum neraca perdagangan kita masih positif," ujar Suhariyanto saat memberi keterangan pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Jumat (15/4).

Walapun demikian, kampanye hitam sawit memberi pengaruh pada neraca dagang per negara kawasan Eropa. Misalnya, dengan Inggris, perdagangan Indonesia harus mengalami penurunan sebesar 22 persen serta Belanda 39 persen.

"Demikian juga Jerman, Italy, Spanyol, Russia juga turun. Kita tahu terjadi karena negative campaign CPO (Crude Palm Oil). Saya yakin pemerintah sudah antisipasi dengan membuat berbagai kebijakan," tandasnya.

Baca juga:
Indonesia Impor AC, Anggur Hingga Kurma di Maret 2019
Wapres JK Bantah Indonesia Alami Deindustrialisasi
BPS Catat Ekspor RI di Maret 2019 Naik 11,71 Persen
Maret 2019, Neraca Perdagangan Indonesia Surplus USD 0,54 Miliar
Jokowi Soal Defisit Neraca Perdagangan: Impor Petrochemical Terbesar
Mendag Enggar Larang Pengusaha Ekspor Rotan Mentah

(mdk/azz)