Ada Tekanan Global, Pendapatan Negara di 2019 Tak Capai Target

Ada Tekanan Global, Pendapatan Negara di 2019 Tak Capai Target
UANG | 7 Januari 2020 12:35 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Kementerian Keuangan mencatat pendapatan negara sementara sepanjang 2019 mencapai Rp1.957,2 triliun atau 90,4 persen dari target APBN 2019 sebesar Rp2.165,1 triliun. Angka ini naik sebesar 0,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2018 yang hanya Rp1.943,7 triliun.

"Pendapatan negara mengalami tekanan karena rembesan pelemahan global terlihat dari pendapatan perpajakan kita. Pendapat negara kita hanya tumbuh 0,7 persen. Artinya tahun 2019 kita mengumpulkan 1.957,2 Triliun atau 90,4 persen dibandingkan target awal," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN Kita di Kantornya, Jakarta, Selasa (7/1).

Sri Mulyani menjelaskan, penerimaan negara itu berasal dari penerimaan perpajakan yang sebesar Rp1.545,3 triliun atau sudah mencapai 86,5 persen dari target APBN 2019. Angka ini pun tumbuh tipis 1,7 persen dibandingkan realisasi periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1.518,8 triliun.

Selain itu, dari pendapatan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp405 triliun atau setara dengan 107,1 persen dari target APBN 2019. Angka ini turun tipis 1,0 persen dari realisasi tahun lalu sebesar Rp409,3 triliun

"Sementara dari PNBP kita masih cukup baik meskipun tadi kita sebutkan untuk SDA mengalami tekanan dari komoditas, tapi kita tetap berhasil mendapatkan PNBP sebesar Rp405 triliun atau di atas target Rp378,3 triliun atau 107,1 persen," jelas dia.

Di samping itu, dana hibah berhasil terkumpul mencapai Rp6,8 triliun atau tumbuh sebesar 1.560 persen dari target APBN 2019 sebesar Rp400 miliar. "Hibah kita mencapai Rp6,8 triliun, ini jauh lebih tinggi yang tadinya diperkirakan hanya Rp400 miliar," tandas dia.

1 dari 1 halaman

Defisit 2019 Capai Rp353 Triliun

capai rp353 triliun rev1

Kementerian Keuangan mencatat defisit APBN sementara sepanjang 2019 sebesar Rp353 triliun atau setara dengan 2,20 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Defisit tersebut berasal dari belanja negara sebesar Rp2.310 triliun, sementara pendapatan hanya mencapai sebesar Rp1.957 triliun.

Sri Mulyani mengatakan, defisit sebesar Rp353 triliun tersebut lebih tinggi dari target defisit APBN 2019 yang hanya 1,93 persen atau sebesar Rp296 triliun. Namun, angka ini masih bersifat sementara sebab pihaknya masih akan melakukan perhitungan kembali.

"Realisasi ini memang lebih besar dari target awal yang defisit Rp296 triliun, naik dari target 1,84 persen terhadap PDB jadi 2,2 persen terhadap PDB," ujarnya.

Defisit APBN hingga akhir 2019 tersebut didorong realisasi pertumbuhan penerimaan yang lebih rendah dari realisasi pertumbuhan belanja negara. Hal ini dikarenakan adanya tekanan pada penerimaan negara akibat dari pelemahan ekonomi global. (mdk/azz)

Baca juga:
Lewati Target APBN, Defisit 2019 Capai Rp353 Triliun
Sri Mulyani Banggakan Inflasi 2,72 Persen di 2019 Terendah dalam 20 Tahun Terakhir
Penerimaan Pajak Diprediksi Hanya Capai Rp1.348,7 Triliun di 2019
Utang Pemerintah Terus Bertambah Menjadi Rp4.814,31 Triliun di November 2019
Per November 2019, Defisit APBN Tercatat Sentuh 2,29 Persen
Strategi Sri Mulyani Jaga Defisit 2,2 Persen Saat Shortfall Pajak Diramal Rp441 T

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami