Ajukan 3 Nama, Menteri Erick Sebut Dirut Inalum Anyar Ditentukan dalam 2 Hari

UANG | 12 November 2019 13:34 Reporter : Supriatin

Merdeka.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir menyerahkan tiga nama calon Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) kepada Presiden Joko Widodo. Penyerahan nama ini menyusul penentuan Direksi Utama PT Bank Mandiri dan PT Bank Tabungan Negara.

"Hari ini kia ajukan Inalum, nanti tunggu keputusannya mungkin satu dua hari," kata Menteri Erick usai rapat Tim Penilai Akhir (TPA) di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (12/11).

Menteri Erick enggan merinci nama tiga calon Dirut PT Inalum yang diusulkan kepada Presiden Jokowi. Dia juga menolak berkomentar dari mana asal tiga calon tersebut.

"Ya tidak bisa ngomong," kata dia.

Sebagai informasi, Presiden Jokowi sudah memutuskan nama-nama yang akan menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank Mandiri dan PT Bank Tabungan Negara. Menteri Erick berharap, keduanya bisa menangani persaingan di dunia perbankan di tengah arus globalisasi.

"Data perbankan kan terbuka pada 2020, modal disetor juga menjadi hal yang signifikan ke depan. Ini yang kami perhatikan," kata dia.

Dia melanjutkan, ke depan para dirut harus bisa menyesuaikan model bisnis dengan perkembangan teknologi. Terlebih saat ini sebagian masyarakat banyak yang menggunakan e-payment.

"Di mana-mana sudah cashless, di kantor bank sudah tidak antre, banyak isu yang harus direvisi ulang," ucapnya.

1 dari 2 halaman

Usai Divestasi Saham Freeport, Aset Inalum Melesat Jadi Rp162 Triliun

Induk holding BUMN pertambangan, PT Inalum (Persero) membukukan aset sebesar Rp162 triliun pada akhir 2018. Angka ini melesat 74 persen dibanding 2017 setelah divestasi saham PT Freeport Indonesia.

"Tahun 2017 setelah inbreng asetnya Rp93 triliun, kemudian sesudah membeli Freeport menjadi Rp162 triliun," kata Direktur Utama Inalum, Budi Gunadi Sadikin pada peresmian lembaga riset tambang di Jakarta, Jumat (1/2).

Aset Inalum pada 2016 tercatat sekitar Rp23 triliun, kemudian setelah holding tambang pada tahun 2017 melesat menjadi Rp93,2 triliun dan pada akhir 2018 menjadi Rp162 triliun setelah melakukan pembelian saham PT Freeport Indonesia.

Seperti ditulis Antara, besaran kas yang dibukukan oleh holding pertambangan ini juga tercatat naik 25 persen menjadi Rp23 triliun dibandingkan 2017 sebesar Rp18,3 triliun.

Selain aset yang tumbuh melesat, Budi menjelaskan bahwa utang yang dibukukan mengalami peningkatan sebesar 417 persen dari Rp14 triliun pada 2017 menjadi Rp72,7 triliun pada 2018.

Sementara itu, ekuitas perseroan juga tercatat meningkat dari Rp66 triliun pada 2017, menjadi Rp74,3 triliun pada 2018.

Budi menambahkan pada tahun ini, Inalum akan fokus pada pengerjaan empat proyek hilirisasi yang terdiri dari pembangunan pengolahan bauksit menjadi alumina bersama PT Aneka Tambang Tbk di Kalimantan Barat, pembangunan pengolahan batubara menjadi gas dan produk turunan lainnya yang akan dilakukan oleh PT Bukit Asam Tbk di Riau.

Selanjutnya, pembangunan smelter tembaga yang akan dilakukan oleh PT Freeport Indonesia dan penjajakan pengolahan nikel menjadi bahan utama yang dapat digunakan oleh industri baterai.

Ada pun holding industri pertambangan resmi dibentuk pada 27 November 2017 di mana Inalum menjadi induk usaha holding dan PT Aneka Tambang Tbk., PT Bukit Asam Tbk., PT Timah Tbk dan PT Freeport Indonesia sebagai anggota holding.

2 dari 2 halaman

Bos Inalum: Freeport Tak Akan Bagi Dividen Selama Dua Tahun

PT Freeport Indonesia (PTFI) tak akan membagikan dividen kepada pemegang sahamnya, termasuk kepada pemilik mayoritas PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) selama dua tahun, yakni pada 2019-2020.

"Sudah dihitung, 'bottom line' kita nggak pakai dividen dua tahun, 2021 mulai ada sedikit," kata Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin seperti ditulis Antara di Jakarta, Rabu (9/1).

Menurutnya, hal tersebut dikarenakan menurunnya produksi, akibat adanya perpindahan produksi dari tambang terbuka (open pit) ke bawah tanah (underground). Budi menyampaikan, produksi dan penerimaan akan mulai membaik pada 2023, yang diprediksi mencapai USD 2 miliar.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral atau ESDM, Bambang Gatot Ariyono, memperkirakan bahwa penerimaan PT Freeport Indonesia (PTFI) turun pada 2019.

"Penerimaan Freeport (akan) turun pada 2019, baik revenue maupun pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA)," ujar Bambang.

Dia lebih lanjut menjelaskan bahwa kemungkinan penurunan tersebut terjadi dikarenakan rencana Freeport yang akan masuk ke tambang dalam.

"Tahun 2020 (Freeport) masuk ke tambang dalam, sehingga nanti diharapkan pada tahun itu revenue maupun EBITDA-nya akan naik," kata Bambang.

(mdk/bim)

Baca juga:
Erick Thohir Bakal Siapkan Dirut Baru PT Inalum
Ditinggal Bos Jadi Wakil Menteri, Kapan Bank Mandiri dan Inalum Punya Dirut Baru?
Inalum Sudah Siapkan Dana Akuisisi 20 Persen Saham Vale
Erick Thohir Diharap Pilih Bos Inalum yang Mengerti Industri Pertambangan
Jadi Wamen BUMN, Bos Inalum dan Bank Mandiri Siapkan Pengunduran Diri
Bos Mandiri dan Inalum Dikabarkan Jadi Wakil Menteri BUMN
Pemerintah Tugaskan Inalum Akuisisi 20 Persen Saham Vale