Aksi Bersih-bersih Menteri BUMN Bikin Saham Garuda Indonesia Menguat

Aksi Bersih-bersih Menteri BUMN Bikin Saham Garuda Indonesia Menguat
Garuda Indonesia. ©2016 Merdeka.com/iqbal s nugroho
EKONOMI | 12 Desember 2019 17:26 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Saham Garuda Indonesia (kode saham: GIAA) sempat anjlok pasca kasus penyelundupan motor Harley Davidson dan sepeda Brompton. Pada 6 Desember 2019 saham Garuda Indonesia berada di Rp498 per lembar saham dan pada 9 Desember 2019 menginjak turun di Rp484 per lembar saham.

Namun, dengan aksi bersih-bersih yang dilakukan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, seperti pencopotan Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara dan empat direksi lainnya yang ikut terlibat kasus penyelundupan, saham Garuda Indonesia tercatat pada tanggal 10 Desember 2019 naik mencapai Rp525 per lembar saham.

"Kalau dari saya lihatnya market memandang positif penggantian lima direksi tersebut, harga sahamnya sempat diapresiasi tinggi dari kemarin," ujar Analis, Riyan Artha, saat dihubungi Merdeka.com, Jakarta, Kamis (12/12).

Dia menjelaskan, pasar berharap dengan pencopotan lima direksi ini bisa membuat kinerja Garuda Indonesia meningkat sehingga berdampak pada performa bisnis dan keuangan.

Dilihat dari fundamental perusahaan, menurut Riyan, GIAA dinilai masih baik. Di mana, kinerja pendapatan tercatat meningkat sebanyak 10 persen di sembilan bulan pertama 2019. Peningkatan itu juga didorong oleh kenaikan pendapatan dari segmen penerbangan berjadwal sebesar 9 persen secara tahunan.

"Pendapatan yang meningkat ini merupakan dampak dari kenaikan harga tiket sejak satu tahun yang lalu dan hingga saat ini masih bertahan, di mana untuk passanger yield Garuda domestik per Oktober 2019 naik 35,8 persen, Citilink naik 55,9 persen," jelas Riyan.

Riyan menambahkan kenaikan harga tiket itu bisa mengimbangi penurunan jumlah penumpang sehingga pendapatan masih naik dan marjin juga semakin baik.

"Sejauh ini harga tiket Garuda Indonesia masih akan tetap stabil, jumlah penumpang yang tahun ini turun harusnya lebih baik di 2020 karena risiko dari demand shock yang terjadi di 2019 dilihat akan sedikit terjadi di 2020," ujarnya.

Baca Selanjutnya: Erick Thohir Berhentikan Ari Ashkara...

Halaman

(mdk/bim)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami