Alasan Hiu Paus Sering Muncul di Perairan PLTU Paiton

UANG » BANYUWANGI | 22 September 2019 14:30 Reporter : Siti Nur Azzura

Merdeka.com - Lanal Banyuwangi yang berada di bawah komando Lantamal V Surabaya, jajaran Koarmada II berhasil membebaskan Hiu Tutul (Rynchodon Typus) yang masuk dan terjebak di kanal inlet PLTU Paiton Probolinggo, menuju laut lepas pada Kamis (19/9) lalu.

Protection of Forest and Fauna (Profauna) mengapresiasi upaya pembebasan Paitonah, hiu paus yang berhasil diselamatkan dari kanal inlet wilayah di sekitar PLTU Paiton, Jawa Timur.

"Kami secara obyektif sangat mengapresiasi tindakan penyelamatan hiu paus tersebut dan membawanya kembali ke laut lepas, karena sebenarnya tidak banyak orang yang peduli terhadap hal tersebut," kata Ketua Profauna Indonesia Rosek Nursahid melalui keterangan resminya, Minggu (22/9).

Nursahid menjelaskan, ada masa-masa di mana hiu paus kerap terdampar ke wilayah penangkapan darat. Pada bulan Agustus hingga September, kawanan ikan ini akan mengarah ke Timur menuju perairan Probolinggo. Kemudian mereka bergerak ke perairan Situbondo pada bulan Desember hingga Januari, dan diprediksi bermigrasi ke Luar Selat Madura menuju Benua Australia atau ke Sulawesi hingga Filipina.

Perpindahan kawanan ini bergantung dari sumber makanan (plankton dan ikan kecil). Salah satu tempat yang menjadi sumber makanan adalah perairan sekitar PLTU Paiton. Dengan masih banyaknya mangrove dan terumbu karang yang menjadi tempat ikan serta adanya muara beberapa sungai yang kaya akan nutrien, membuat hiu paus sering muncul di sekitar perairan PLTU Paiton.

Karena itu lanjut Nursahid, perlu diteliti atau ditelusuri apa penyebab hiu paus tersebut tertarik masuk ke daerah sekitar PLTU Paiton. Ini penting untuk mencegah kejadian tersebut berulang, karena biasanya apabila sudah terdampar masuk ke wilayah inlet, akan sulit bagi hiu paus tersebut kembali ke habitatnya di laut lepas.

"Secara teori, salah satunya adalah karena hiu paus tersebut kehilangan navigasi (hilang arah), akibat pengaruh sonar dari kapal-kapal yang berlayar di laut lepas," imbuhnya.

Ada juga karena faktor alam, yakni gelombang laut menyebabkan hiu paus terseret ombak ke perairan tangkap. Faktor lainnya adalah karena polusi, menyebabkan sumber makanan semakin sulit dicari, sehingga hiu paus harus berenang lebih jauh untuk mengejar makanan mereka.

Baca juga:
PT PP Bangun PLTU di NTT dan Sulawesi Utara
LIPI: Pembangunan PLTU Tak Pengaruhi Kesehatan Secara Langsung
KPBB Minta Pemerintah Perketat Aturan Pembuangan Asap PLTU Batubara
PLN Sebut Pembangkit Listrik Bukan Sumber Polusi Udara di Jakarta
PLTU Skala Besar Beroperasi 2020, PLN Janjikan Tarif Listrik Turun
Produksi Pembangkit Listrik Geo Dipa Kuartal I Tak Capai Target, ini Sebabnya

(mdk/azz)