Alasan Pelajar Indonesia di Luar Negeri Ogah Pulang ke Tanah Air

UANG | 18 Oktober 2019 17:52 Reporter : Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Menempuh pendidikan di luar negeri hingga kini masih menjadi cita-cita sebagian masyarakat Indonesia. Mereka pergi dengan idealisme bahwa setelah tamat, mereka kembali dan mengabdikan diri di Tanah Air.

Koordinator PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Dunia Fadlan Muzakki menyebut bahwa ada juga pelajar Indonesia yang ogah kembali setelah usai mengenyam ilmu. Sebab mereka merasa kondisi di Tanah Air belum sepenuhnya mendukung mereka untuk menerapkan ilmu.

"Banyak teman-teman yang sebenarnya mereka mau kembali ke Indonesia. Belum ada wadah atau tempat untuk mereka," ujar dia dalam diskusi di Jakarta, Jumat (18/10).

Hambatan yang pertama yaitu lulusan luar negeri yang kembali harus mengikuti proses penyetaraan ijazah. Proses ini bisa memakan waktu yang lama sehingga membuat para tamatan luar negeri merasa dipersulit.

"Kalau mereka kuliah kedokteran, mereka mau pulang ke Indonesia, mereka dipersulit. Misalkan untuk penyetaraan mereka butuh 3-5 tahun," ungkapnya.

Hambatan berikut dari sisi penerapan teknologi di Indonesia yang masih belum maju. Sementara mayoritas pelajar Indonesia, belajar di luar negeri dengan teknologi tinggi.

"Jurusan biosciense atau IT, mereka belajar dengan teknologi tinggi. Ketika balik ke Indonesia kaget karena teknologinya misalkan di luar negeri di China, Jerman, Amerika mereka sudah pakai teknologi tahun 2019. Kembali ke Indonesia mereka pakai teknologi 1998," ujar dia.

"Sehingga walaupun mereka lebih advance dalam keahlian dan kemampuan ketika kembali mereka bingung mau seperti apa. Dan dikira sama masyarakat mereka tidak bisa apa-apa. Sehingga mereka tidak terserap oleh bursa kerja," imbuhnya.

Upah juga menjadi poin pertimbangan bagi mereka yang ogah pulang kampung. Lulusan luar negeri cenderung membandingkan upah di luar negeri dengan upah di Indonesia. "Ketika mereka kembali mereka tidak dihargai dengan jumlah upah yang sebenarnya cukup jika kita lihat dari perspektif gaji standar di Indonesia," urai dia.

Perhitungan upah di luar yang secara kurs lebih tinggi dari Indonesia membuat mereka menilai upah di Indonesia sangat rendah. Padahal, jika dilihat secara teliti, upah di Indonesia sebenarnya cukup. "Mereka ke Eropa, Amerika yang kursnya di atas Indonesia. Misalkan mereka digaji Rp60 juta sampai Rp100 juta, walaupun biaya hidup mereka juga di sana tinggi. Kembali ke Indonesia mereka dapat gaji di kisaran Rp8 juta sampai Rp15 juta."

"Mereka tidak berpikir bahwa gaji Rp8 sampai Rp15 juta di Indonesia itu sudah cukup. Dengan demikian mereka sudah pesimis duluan sebelum mencoba terjun ke lapangan kerja baru," lanjut dia.

Menghadapi kenyataan ini, dia mengusulkan kepada pemerintah untuk menyediakan sarana pendukung, atau wadah sebagai tempat para lulusan luar negeri menerapkan ilmu. "Pemerintah selama beberapa tahun terakhir sedang mempersiapkan SDM. Yang harus dipersiapkan oleh pemerintah memang SDM-nya, tetapi selain dari itu, sarana dan prasarana ketika SDM itu sudah unggul," kata dia.

"Ketika mereka balik, kalau sarana dan prasarana di Indonesia tidak memadai, tidak wadah bagi mereka yang ada mereka yang sudah unggul pergi ke keluar negeri," tandasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data terakhir PPI (Persatuan Pelajar Indonesia), saat ini terdapat 162.000 pelajar Indonesia di luar negeri. Mereka tersebar di 60 negara.

Baca juga:
2 Masalah Mendasar Tenaga Kerja Indonesia di Era Disrupsi
Pemerintah Dinilai Terlalu Dini Putuskan Besaran Kenaikan UMP 2020
3 Pekerjaan Rumah Bidang Ekonomi Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin
4 Hal yang Dinilai Bikin Daya Saing Ekonomi Indonesia Turun
Bukan Kekayaan Alam, Inilah Kunci Kemajuan Negara Terkini Versi Menteri Airlangga
Sri Mulyani Sebut Daya Saing RI Turun Karena Kualitas SDM Masih Rendah

(mdk/idr)