Alasan Perum Bulog Tak Bisa Serap Hasil Panen Petani Secara Optimal

Alasan Perum Bulog Tak Bisa Serap Hasil Panen Petani Secara Optimal
Petani. ©2019 Merdeka.com
EKONOMI | 18 Mei 2021 17:45 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Direktur Perum Bulog, Budi Waseso menegaskan bahwa pihaknya sebenarnya mampu menyerap banyak beras dari petani saat panen, untuk cadangan beras pemerintah (CBP). Hanya saja, Bulog terganjal sejumlah aturan yang telah ditetapkan pemerintah seperti kadar air hasil panen.

"Aturannya sudah ditentukan karena ini untuk CBP ada aturannya, kadar air misalnya sekian," kata Budi Waseso dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR RI dengan Perum Bulog, Jakarta, Selasa (18/5).

Budi Waseso mengatakan, Bulog memiliki kemampuan menyerap beras dari petani hingga 3,6 juta ton. Beberapa waktu lalu bahkan Bulog mampu menyerap 3,1 juta ton beras dari seluruh Indonesia.

Dari serapan beras tersebut setiap tahunnya ada 2,6 juta ton yang disalurkan melalui program bantuan sosial pemerintah. Namun, sejak tahun 2019, program restra tersebut sudah tidak ada. Sehingga stok cadangan beras yang ada di Bulog tetap menumpuk.

"Kita buat apa serap, kalau enggak ada penyalurannya," kata dia.

Cadangan beras yang ada saat ini pun hanya digunakan untuk kebutuhan operasi pasar sebesar 185 ribu ton. Lalu untuk kebutuhan bencana alam 600 ribu ton.

Maka, untuk dapat menyerap beras dari petani dan menjaga kualitas beras di gudang, Bulog membutuhkan kebijakan baru. Regulasi yang menciptakan penyaluran beras di gudang Bulog.

Bila tidak menemukan solusi, beras petani tidak terserap. Kalau terpaksa diserap, maka stok beras akan terus menumpuk dan rusak tak bisa dipakai. "Memang ini akan berulang selama belum solusi di hilirnya belum ada," kata dia.

Baca Selanjutnya: Beras untuk PNS...

Halaman

(mdk/idr)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami