Anggota Komisi XI DPR Beberkan Dampak Jika Indonesia Masuk Jurang Resesi

Anggota Komisi XI DPR Beberkan Dampak Jika Indonesia Masuk Jurang Resesi
UANG | 6 Agustus 2020 14:28 Reporter : Muhammad Genantan Saputra

Merdeka.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 minus 5,32 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Angka itu jauh merosot dibanding pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 yang tumbuh 2,97 persen (yoy) maupun kuartal II 2019 yang mampu tumbuh 5,05 persen (yoy).

"Minusnya pertumbuhan ekonomi Indonesia diyakini masih akan berlanjut pada kuartal III-2020. Bila ekonomi pada kuartal III kembali mencatatkan pertumbuhan negatif. Kondisi ini semakin menyulitkan Indonesia terlepas dari jerat resesi," kata Anggota Komisi XI Fraksi Gerindra, Heri Gunawan kepada merdeka.com, Kamis (6/8).

Heri menuturkan, fenomena ini merupakan yang pertama kalinya sejak krisis tahun 1998. Dia bilang, suatu negara disebut mengalami resesi jika pertumbuhan ekonomi negatif dalam dua kuartal berturut-turut.

"Secara tak langsung, pemerintah sudah mengindikasikan Indonesia bisa masuk ke jurang resesi pada kuartal III-2020, menyusul negatifnya pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi atau minus sejak kuartal II-2020," ucapnya.

Heri kemudian menyoroti dampak jika Indonesia resesi. Di antaranya adalah daya beli turun, dan dunia usaha akan merasakan imbasnya. Perusahaan akan melakukan penghematan besar-besaran.

"Akibatnya, gelombang PHK tak bisa dihindari hingga angka kemiskinan yang bertambah," kata dia.

Kemudian, konsumsi rumah tangga sebagai pendorong ekonomi domestik otomatis akan menurun. Selain itu, masyarakat juga akan mulai menghemat pendapatannya sehingga daya beli akan menurun. "Sulit cari kerja selain daya beli yang menurun, para pencari kerja akan semakin sulit. Perusahaan yang tak kuat menanggung resesi, akan mengurangi jumlah karyawannya bahkan menutup usahanya," kata dia.

Sementara, perusahaan yang masih mampu bertahan, diprediksi tak akan menerima karyawan baru. Dia mengacu dari survei data BPS yang dilakukan sejak Januari sampai April 2020 di mana jumlah perusahaan yang memasang iklan lowongan kerja menurun drastis.

Pemerintah juga memprediksi angka pengangguran diprediksi naik 2,92 juta orang dalam skenario berat dan naik 5,23 juta orang dalam skenario sangat berat. "Kemiskinan meningkat, angka kemiskinan juga akan meningkat. Pemerintah memproyeksi angka kemiskinan bertambah 1,89 juta orang pada skenario berat dan bertambah 4,86 juta orang pada skenario sangat berat di tahun ini," ujarnya.

Baca Selanjutnya: Saran untuk Pemerintah...

Halaman

(mdk/azz)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami