Ari Askhara dan Eks Direksi Garuda Indonesia Dipecat dari Komisaris Anak & Cucu Usaha

UANG | 12 Desember 2019 21:30 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Komisaris PT Garuda Indonesia Tbk kembali mengeluarkan surat pemberhentian Ari Askhara di berbagai posisi di anak dan cucu usaha perseroan. Instruksi ini tercantum dalam Surat Dewan Komisaris Garuda Indonesia Nomor Garuda/DEKOM-102/2019 yang ditujukan kepada direksi pada 9 Desember 2019.

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga ketika dikonfirmasi, membenarkan hal itu. "Iya benar (Surat Dewan komisaris)," kata Arya kepada Liputan6.com, Kamis (12/12).

Arya juga menegaskan bahwa pencopotan Ari Askhara di komisaris berbagai anak dan cucu usaha Garuda Indonesia tersebut sebagai konsekuensi kasus penyelundupan Harley Davidson. "Sudah pasti (Karena kasus penyelundupan Harley)," tegas dia.

Dalam surat tersebut, dinyatakan Ari Askhara sebelumnya menjabat di 6 perusahaan. Semuanya sebagai Komisaris Utama. Tak hanya Ari Askhara, sejumlah direksi lainnya juga menjabat sebagai komisaris di beberapa anak dan cucu usaha Garuda Indonesia.

1 dari 2 halaman

Daftar Jabatan Ari Askhara Cs

Berikut daftar posisi komisaris beberapa direksi Garuda Indonesia yang diberhentikan Dewan Komisaris:

1. Ari Askhara (eks Direktur Utama)

Komisaris Utama PT GMF AeroAsia (anak)

Komisaris Utama PT Citilink Indonesia (anak)

Komisaris Utama PT Aerofood Indonesia (cucu)

Komisaris Utama PT Garuda Energi Logistik & Komersil (cucu)

Komisaris Utama PT Garuda Indonesia Air Charter (cucu)

Komisaris Utama PT Garuda Tauberes Indonesia (cucu)

2. Bambang Adisurya Angkasa (eks Direktur Operasi)

Komisaris PT Gapura Angkasa (anak)

Komisaris Utama PT Sabre Travel Network Indonesia (anak)

Komisaris PT Aero Globe Indonesia (cucu)

Komisaris PT Aerotrans Service Indonesia (cucu)

3. Mohammad Iqbal (eks Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha)

Komisaris Utama PT Gapura Angkasa (anak)

Komisaris PT Aerojasa Perkasa (cucu)

Komisaris Aerojasa Cargo (cucu)

Komisaris PT Citra Lintas Angkasa (cicit)

Komisaris Garuda Tauberes Indonesia (cucu)

4. Iwan Joeniarto (eks Direktur Teknik dan Layanan)

Komisaris Utama PT Aerosystem Indonesia (anak)

Komisaris PT Aero Wisata (anak)

Komisaris PT Aerofood Indonesia (cucu)

Komisaris PT Garuda Energi Logistik & Komersil (cucu)

Komisaris Utama PT Garuda Daya Pratama Sejahtera (cucu)

Komisaris PT Garuda Indonesia Terapan Cakrawala Indonesia (cucu)

5. Heri Akhyar (eks Direktur Human Capital)

Komisaris PT Aerofood Indonesia (cucu)

Komisaris Utama PT Aeroglobe Indonesia (cucu)

Komisaris Utama GIH Indonesia (cucu)

Komisaris PT GOH Korea (cucu)

Commissioner of Strategic Function PT GOH Jepang (cucu)

Komisaris PT Garuda Indonesia Air Charter (cucu)

Komisaris PT Garuda Daya Pratama Sejahtera (cucu)

Komisaris Utama PT Garuda Indonesia Terapan Cakrawala Indonesia (cucu)

2 dari 2 halaman

Aksi Bersih-bersih Menteri BUMN Bikin Saham Garuda Indonesia Menguat

Saham Garuda Indonesia (kode saham: GIAA) sempat anjlok pasca kasus penyelundupan motor Harley Davidson dan sepeda Brompton. Pada 6 Desember 2019 saham Garuda Indonesia berada di Rp498 per lembar saham dan pada 9 Desember 2019 menginjak turun di Rp484 per lembar saham.

Namun, dengan aksi bersih-bersih yang dilakukan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, seperti pencopotan Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara dan empat direksi lainnya yang ikut terlibat kasus penyelundupan, saham Garuda Indonesia tercatat pada tanggal 10 Desember 2019 naik mencapai Rp525 per lembar saham.

"Kalau dari saya lihatnya market memandang positif penggantian lima direksi tersebut, harga sahamnya sempat diapresiasi tinggi dari kemarin," ujar Analis, Riyan Artha, saat dihubungi Merdeka.com, Jakarta, Kamis (12/12).

Dia menjelaskan, pasar berharap dengan pencopotan lima direksi ini bisa membuat kinerja Garuda Indonesia meningkat sehingga berdampak pada performa bisnis dan keuangan.

Dilihat dari fundamental perusahaan, menurut Riyan, GIAA dinilai masih baik. Di mana, kinerja pendapatan tercatat meningkat sebanyak 10 persen di sembilan bulan pertama 2019. Peningkatan itu juga didorong oleh kenaikan pendapatan dari segmen penerbangan berjadwal sebesar 9 persen secara tahunan.

"Pendapatan yang meningkat ini merupakan dampak dari kenaikan harga tiket sejak satu tahun yang lalu dan hingga saat ini masih bertahan, di mana untuk passanger yield Garuda domestik per Oktober 2019 naik 35,8 persen, Citilink naik 55,9 persen," jelas Riyan.

Riyan menambahkan kenaikan harga tiket itu bisa mengimbangi penurunan jumlah penumpang sehingga pendapatan masih naik dan marjin juga semakin baik.

"Sejauh ini harga tiket Garuda Indonesia masih akan tetap stabil, jumlah penumpang yang tahun ini turun harusnya lebih baik di 2020 karena risiko dari demand shock yang terjadi di 2019 dilihat akan sedikit terjadi di 2020," ujarnya.

Reporter: Ilyas Istianur Praditya

Sumber: Liputan6

Baca juga:
Ari Askhara Lengser, Garuda Indonesia Kembali Beri Kru Rute Internasional Penginapan
Mulai Hari ini, Garuda Indonesia Diskon Tiket Rute Domestik Hingga 40 Persen
Sekarga Sebut Kunjungan ke Prancis Karena Diajak Manajemen Garuda Indonesia
Aksi Bersih-bersih Menteri BUMN Bikin Saham Garuda Indonesia Menguat
Perkuat Struktur Bisnis, Garuda Indonesia Berencana Hapus Penerbangan ke Eropa
Cuitan @Digeeembok Viral, Begini Respons Serikat Pekerja Garuda Indonesia
Jokowi Sebut Kasus Dugaan Pelecehan Seksual di Garuda Urusan Polisi

(mdk/bim)

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.