ATM Bersama Bantah Pembobolan Bank DKI oleh Satpol PP Dilakukan di Jaringannya

UANG | 22 November 2019 16:36 Reporter : Idris Rusadi Putra

Merdeka.com - Sebanyak 12 oknum anggota Satpol PP diduga membobol Bank DKI yang berdasarkan pengakuannya pada Kasatpol PP DKI Arifin. Mereka melakukan tindakannya sejak Bulan Mei, hingga menimbulkan kerugian hingga puluhan miliar rupiah.

Setelah berhasil menarik uang di ATM Bersama, saldo oknum tersebut di Bank DKI tidak berkurang. Akhirnya kasus ini sampai ke pihak kepolisian Polda Metro Jaya dan beberapa orang oknum Satpol PP diperiksa.

Namun demikian, PT Artajasa Pembayaran Elektronis sebagai penyedia jaringan layanan ATM Bersama membantah bahwa proses pencurian atau pembobolan bank dilakukan dalam jaringan ATM Bersama.

"Dari hasil penelusuran kami, masalah pencurian uang melalui ATM yang diberitakan tersebut tidak dilakukan dalam jaringan ATM Bersama," ucap Corporate Communications PT Artajasa Pembayaran Elektronis, Deni Saputra dikutip keterangannya di Jakarta, Jumat (22/11).

Dia menegaskan, transaksi yang dilakukan dalam jaringan ATM Bersama telah melalui uji transaksi untuk memastikan kelancaran alur transaksi dan dilengkapi dengan proteksi keamanan yang memadai dan berlapis, serta telah melalui tahapan sertifikasi ISO 27001 yaitu sertifikasi standard keamanan yang diakui secara internasional.

Dia menyebut, brand atau merk ATM Bersama memang sudah demikian dikenal manfaatnya oleh masyarakat luas sehingga setiap kali masyarakat melakukan tarik tunai di ATM bukan milik Banknya, maka masyarakat menyebutkan sebagai ATM bersama atau ATM yang bisa digunakan bersama-sama.

"Perlu disampaikan pula bahwa di Indonesia selain ATM Bersama, terdapat beberapa penyedia layanan berbagi jaringan ATM lainnya tentunya dengan brand atau merk yang berbeda," jelasnya.

1 dari 2 halaman

Kasus Bobol Bank DKI Karena Kesalahan Sistem

DPRD DKI Jakarta menduga telah terjadi kesalahan sistem perbankan terkait kasus dugaan pembobolan Bank DKI Jakarta. Kasus ini mengakibatkan kerugian Rp32 miliar,

"Kasus bobolnya uang di Bank DKI, menunjukkan sistem perbankan di sana ada yang keliru," kata Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Mohamad Taufik di Jakarta.

Karena itu, dia mengungkapkan, sistem perbankan di Bank DKI harus dievaluasi secara menyeluruh. Sehingga bisa meyakinkan nasabah bahwa bank DKI jauh dari persepsi rawan dibobol.

Pasalnya, politikus Gerindra ini menjelaskan, Direktur Utama Bank DKI yang baru memiliki visi besar dan mampu mengatasi hal tersebut. Apalagi, Bank DKI dipercaya mengelola dan menyimpan anggaran penyertaan DKI hingga Rp80 triliun per tahun dan dalam lima tahun, putaran uang bank DKI mencapai Rp400 triliun.

2 dari 2 halaman

Ada Oknum Nakal

Lebih lanjut, Taufik menduga ada oknum orang dalam Bank DKI dalam aksi dugaan pembobolan uang di Bank DKI yang dilakukan oknum Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta.

Taufik meminta manajemen Bank DKI membersihkan jajarannya dari oknum nakal tersebut. Bahkan, katanya, Direksi Bank DKI harus berani melaporkan anak buahnya yang diduga ikut bermain dalam pembobolan uang di Bank DKI itu.

"Periksa semua orang itu. Tangkap. Kalau Bank DKI merasa dirugikan, laporkan. Di internal juga ditelusuri. Dirut Bank DKI yang baru ini hebat, dia harus tegas memproses hukum oknum itu. Kalau masih terganggu oleh pembobolan begini, visinya tidak tercapai," ucapnya seperti dilansir dari Antara. (mdk/idr)

Baca juga:
M Taufik Sebut Kasus Bobol Bank DKI Karena Kesalahan Sistem
Diduga Bobol ATM Sampai Miliaran, 12 Anggota Satpol PP Dipecat
Kasatpol PP DKI Bebastugaskan 12 Anggota yang Diduga Bobol Mesin ATM
Diduga Bobol Uang di ATM, 12 Anggota Satpol PP DKI Dipecat
Anies Minta Satpol PP yang Terlibat Pembobolan Bank DKI Rp32 M Dibebastugaskan
Petugas Satpol PP Jakbar Diduga Bobol Bank DKI Rp32 Miliar