Bank Dunia Sarankan Indonesia Adopsi Sistem Asuransi Modern

UANG | 11 Desember 2019 16:21 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - Kepala Ekonomi Bank Dunia untuk Indonesia Frederico Gil Sander mengatakan, influencer media sosial akan menjadi jutawan di masa depan. Namun demikian, dia mengingatkan para influencer memiliki asuransi hari tua untuk mengamankan pendapatannya.

"Mirip seperti asuransi kesehatan, harus ada dana pensiun. Karena seperti yang kita ketahui, influencer medsos akan menjadi jutawan masa depan," ujar Frederico di Energi Building, Jakarta, Rabu (11/12).

Pekerja informal yang memiliki penghasilan menengah ke atas umumnya tak mendapat bantuan sosial untuk kesehatan dari pemerintah, sehingga banyak influencer tidak memiliki asuransi kesehatan. Padahal penghasilannya di atas rata-rata. Hal tersebut tercermin dalam film yang dibintangi oleh Chiko Jerikho, Bukaan 8.

"Penghasilannya terlalu tinggi untuk menerima bantuan sosial seperti PKH sehingga menerima bantuan sosial tidak bisa. Tetapi menurut rekomendasi Bank Dunia, ini akan mendapat paket asuransi dasar ini termasuk asuransi kesehatan dasar BPJS dan mungkin termasuk asuransi pengangguran," jelasnya.

Untuk membantu influencer mandapat jaminan hari tua, Bank Dunia menyarankan, Indonesia mengadopsi sistem asuransi modern. Sehingga, ke depan jika terjadi sesuatu terhadap keuangan pekerja informal seperti influencer masih memiliki dana melanjutkan hidup.

"Indonesia bisa mengadopsi program perlindungan sosial modern. Di dalam program perlindungan sosial moder, pemerintah akan membayar kredit yang akan memberi pensiun kecil untuk pekerja informal ini," jelasnya.

1 dari 1 halaman

Pertumbuhan Asuransi Masih Rendah

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terus berupaya mendorong agar pertumbuhan industri asuransi di Tanah Air dapat lebih besar lagi. Sektor tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pembiayaan jangka panjang dalam pembangunan infrastruktur.

"Asuransi itu jadi salah satu penopang industri keuangan kita. Karena dengan makin banyak dana tersedia itu akan makin banyak juga dana untuk membangun pembangunan Indonesia termasuk infrastruktur," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Lucky Alfirman di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/12).

Lucky mengakui, sejauh ini memang pertumbuhan industri asuransi di Indonesia masih sangat rendah. Bahkan jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga Indonesia masih sangat minim.

Oleh karena itu, untuk mendorong pertumbuhan asuransi pihaknya akan melakukan edukasi secara meluas. Dengan demikian, diharapkan tingkat kesadaran berasuransi di masyarakat akan semakin tinggi. (mdk/azz)

Baca juga:
AXA Financial Luncurkan Produk Asuransi Penyakit Kritis
Sehat itu Mahal, Amankan Keuangan Sebelum Penyakit Menyerang
AAJI Usul Masyarakat Mampu Tak Lagi jadi Peserta BPJS Kesehatan
Dilema Memilih Asuransi Pendidikan atau Tabungan Pendidikan? Ini Bedanya!
Dampak Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan, Antara Defisit dan Kemiskinan
Asosiasi Asuransi: Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Sesuai dengan Tingkat Risiko

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.