Bank Indonesia Contek India dan China Kelola Data Pengguna Fintech

UANG | 23 September 2019 15:22 Reporter : Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Jumlah perusahaan dan pengguna Fintech di Indonesia tiap waktu terus meningkat. Pengelolaan data yang tepat perlu dilakukan guna menghindari penyalahgunaan ke depannya.

Bank Indonesia (BI) berjanji akan terus melakukan pengelolaan data fintech. Hal ini dilakukan untuk terselenggaranya layanan keuangan yang aman baik bagi penyelenggara fintech maupun konsumennya.

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengklaim telah mencari referensi untuk manajemen data pelanggan fintech di Indonesia. Sejauh ini, India dan China akan dijadikan contoh, sebab telah terlihat berhasil melakukannya.

"Ada beberapa data yang dibangun untuk publik, untuk pemerintah pusat, seperti India dan China. Indonesia perlu belajar dari India beberapa data menjadi data publik," kata dia di JCC Jakarta, Senin (23/9).

Perry menjelaskan bahwa tujuannya ini tidak hanya untuk memusatkan data, tetapi juga untuk menciptakan tata kelola. Intinya adalah harus ada juga kesepakatan dari pelanggan mengenai manajemen data tersebut.

"Jadi semua data identitas, tanggal lahir harus diminta dengan izin konsumen. Perusahaan swasta bisa menggunakan data lain. Model di India bisa digunakan di Indonesia," ujarnya.

Tujuan pengelolaan data tidak hanya untuk melindungi pelanggan, sektor swasta juga dapat menggunakan data yang telah dikelola dengan alasan untuk berinovasi. Tetapi sekali lagi, itu harus berdasarkan persetujuan konsumen.

"Saat membangun data harus ada persetujuan dari konsumen dan itu digunakan oleh industri," tutupnya.

Baca juga:
Bos OJK Kaget Ada Orang Pinjam Online 20 Kali dalam Semalam
OJK Atur Kode Etik untuk Perusahaan dan Konsumen Fintech
Dukung Perkembangan Ekonomi Digital, BI Permudah Perizinan Fintech
Menko Darmin Harap Fintech Bisa Rambah ke Daerah Terpencil
Sri Mulyani Sebut Akses Teknologi di Luar Jakarta Masih Rendah
Fintech Amartha Salurkan Pendanaan Rp1,35 Triliun

(mdk/idr)