Bank Indonesia Inisiasi Pembentukan Holding Pesantren

UANG | 12 November 2019 16:54 Reporter : Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Bank Indonesia (BI) menginisiasi pembentukan usaha induk (holding bisnis) pesantren nasional. Hal ini dilakukan bersama 110 pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia. Holding pesantren bertujuan untuk mewujudkan kemandirian ekonomi pesantren guna mendukung pesantren sebagai basis arus ekonomi Indonesia.

"Usaha induk pesantren yang didukung manajemen dan tata kelola yang baik diharapkan dapat mendukung aktivitas usaha dengan skala yang lebih besar dalam konteks pengembangan unit usaha pesantren," kata Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo, dalam Sarasehan Nasional Pesantren, sebagai rangkaian kegiatan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2019, di JCC Senayan, Jakarta, Selasa (12/11).

Dody menjelaskan usaha induk pesantren merupakan integrasi beberapa unit usaha pesantren guna memperkuat keberadaan dari sisi pemodalan, pengembangan pasar hingga akses informasi. Inisiasi usaha induk pesantren merupakan salah satu implementasi 4 langkah strategis yang disusun BI bersama dengan Kementerian Agama dalam mendorong kemandirian pesantren.

Langkah strategis tersebut bertujuan untuk mendudukan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mandiri dan mendorong aktivitas unit usaha pesantren dalam skala yang lebih luas. "BI sebagai akselerator, memastikan bahwa arah pengembangan unit usaha tersebut berada di jalan yang tepat dan memberikan hasil yang nyata," ujarnya.

Adapun keempat langkah tersebut adalah, pertama, penyusunan standardisasi laporan keuangan unit usaha pesantren. Kedua, pemberdayaan unit usaha pesantren melalui pilot project kegiatan usaha potensial. Ketiga, pengembangan virtual market untuk mendorong lini usaha pesantren. Keempat, pengembangan holding pesantren yang berfungsi sebagai perusahaan skala nasional yang menjaga kepentingan pesantren sebagai unit produksi nasional.

Program pengembangan kemandirian ekonomi pesantren telah diimplementasikan kepada lebih dari 250 pesantren secara nasional sejak 2017. Dalam kesempatan tersebut, juga diluncurkan deklarasi bisnis pesantren.

Ke depannya, kata Dody, pengembangan kemandirian pesantren masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan daya saing. Tantangan pertama, jumlah penduduk muslim Indonesia yang terbesar di dunia dan memiliki preferensi yang tinggi terhadap produk-produk bersertifikat halal.

"Tantangan kedua, pesatnya pertumbuhan ekonomi digital seiring tingginya akseptansi kaum milenial terhadap layanan jasa dan keuangan melalui saluran digital," ujarnya.

Untuk itu, program pengembangan pesantren diperkuat dengan upaya memperkuat unit usaha guna menyediakan produk-produk bersertifikat halal serta menjadikan pesantren tidak hanya sebagai obyek dan pasar dalam era ekonomi digital yang berkembang pesat seperti sekarang ini.

"Tetapi juga (pesantren) menjadi subyek atau penggerak utama dalam iklim ekonomi digital, terutama pada lingkup produk dan layanan berbasis syariah," tutupnya.

1 dari 1 halaman

Ini Cara Dorong Pesantren dan Santri Agar Jadi Penggerak Ekonomi Nasional

Ketua SiMac atau Santri Millenial Centre, Nur Rahman mendorong para santri untuk mengambil peran dalam pembangunan ekonomi nasional. SiMac atau Santri Millenial Centre adalah sebuah wadah perjuangan Santri di dalam membangun Ekonomi Kerakyatan berbasis keumatan. Wadah ini menargetkan Target jutaan Santri Usahawan di seluruh Indonesia.

"Pesantren dan santri diharapkan tak hanya menjadi pusat pendidikan dan kajian agama tapi juga sebagai motor penggerak ekonomi berbasis keumatan," kata Nur Rahman.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Kelompok Usaha Rakyat Indonesia (AKURINDO), Febri Wibawa Parsa, mengatakan bahwa setiap santri dan kaum muda yang menjadi anggota SiMaC akan dibekali kartu GUS IWAN atau Gerakan Santri Wirausahawan.

"Kartu ini menjadi sarana bagi para santri entrepreneur pada akses modal, akses pasar, Jaminan usaha serta advokasi pelatihan dan pendampingan," tutur Febri.

Sebelumnya, Cawapres nomor urut 01, Ma'ruf Amin meresmikan Kedai Kopi Abah di Jalan Karapitan No 22, Kota Bandung. Peresmian kedai kopi Abah ini menjadi salah satu bagian implementasi Gagasan Arus Baru Ekonomi Indonesia yang digagas Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ini.

Dalam ambutannya, Kyai Maruf menegaskan menjadi santri itu jangan menjadi beban. Santri dan santriwati lanjut Kyai Maruf harus kreatif di bidang ekonomi supaya mandiri. Melalui wadah Santri Millenial Center (SiMaC), dirinya menginisiasi Gerakan Santri Wirausahawan (GUS IWAN) dengan produk Kopi Abah.

Menurut Maruf Amin, gagasan Arus Baru Ekonomi Indonesia merupakan sebuah gagasan untuk memperkuat ekonomi umat, pentingnya umat ini bisa kuat ekonominya karena masyarakat Indonesia ini mayoritas adalah umat.

"Saya mengajak semua lapisan masyarakat tak terkecuali santri dan santriwati untuk menggerakan ekonomi berbasis keumatan ini. Karena ekonomi umat kuat secara otomatis ekonomi Indonesia juga akan kuat," tegas dia.

(mdk/bim)

Baca juga:
Pemerintah Gandeng Bukalapak Tingkatkan Wirausaha Digital
Panglima Santri Usulkan Presiden Jokowi Bentuk Kementerian Pesantren
Ribuan Santri di Tasikmalaya Gelar Istighasah Peringati Hari Santri Nasional
Guru Besar UIN: Pesantren Pahamnya Moderat, Berdampingan Dengan yang Berbeda
Ponpes Lirboyo Gelar Pameran Sejarah, Ada Kitab Ngaji Kuno dan Keris Peninggalan Kiai
BI Dorong Santri Ikut Kembangkan Ekonomi Digital
Potret Santri Mantan Pecandu di Ponpes Rehabilitasi Narkoba Hikmah Syahadah