Banyak Peminat, Industri Makanan Halal Punya Potensi Paling Besar

UANG | 14 November 2019 13:48 Reporter : Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Industri makanan halal memiliki potensi yang paling besar dibanding sektor lain. Tidak hanya diminati oleh orang muslim, makanan berlabel halal juga mulai diminati oleh non muslim.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan potensi industri makanan halal pada 2023 mencapai USD 1,8 triliun. Seiring dengan terus bertambahnya jumlah penduduk muslim di dunia yang saat ini telah mencapai 1,84 miliar atau sekitar 24,4 persen dari populasi dunia.

"Permintaan barang dan jasa halal juga akan terus meningkat dan makin besar. Ini potensi yang harus dilihat dan diperbesar lagi," kata Perry dalam acara INHALIFE di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (14/11).

Dia menjelaskan, ekonomi halal dalam skala global sangat berpotensi karena adanya nilai tinggi yang dihasilkan tak hanya bagi muslim namun juga non muslim. Industri halal telah menjadi pilihan gaya hidup banyak orang.

"Bahwa ekonomi halal tidak hanya berpusat pada agama saja, tapi juga nilai kualitas yang tinggi dalam menghasilkan produk halal," ujarnya.

"Karena itu ekonomi halal semakin besar tidak hanya di negara muslim saja, tapi juga non muslim. Thailand misalnya, (mengembangkan) industri makanan halal, Korea Selatan (mengembangkan) kosmetik halal," dia menambahkan.

Dia mencontohkan, industri makanan halal pada steak daging sapi. Steak yang dilabeli halal, lanjutnya, tidak hanya menarik minat muslim untuk memakannya melainkan juga non muslim sebab mereka percaya daging tersebut diolah dengan cara yang baik.

"Sapi yang jadi sumber dagingnya setiap hari dibudidayakan oleh peternaknya dengan baik. Jadi sapi ini tumbuh secara baik sesuai prinsip syariah. Dan cara penyembelihan sapi juga diperhatikan, jadi steak sapi halal lebih enak," ujarnya.

Selain makanan, sektor lainnya juga akan terus. Yaitu industri pariwisata halal akan bernilai USD 274 miliar, dan industri mode halal akan bernilai USD 361 miliar.

1 dari 1 halaman

5 Strategi

Bank Indonesia (BI) telah menyiapkan 5 strategi untuk mendorong industri halal di Indonesia. Di antaranya, Competitiveness (daya saing), Certification (sertifikasi), Coordination (koordinasi), Campaign (publikasi) dan Corporation (kerja sama).

"Implementasi lima jurus tersebut dapat menjadi kunci untuk menjadikan Indonesia tidak hanya sebagai pasar tetapi juga sebagai basis produksi industri halal global," kata Perry.

Dia menjelaskan, Competitiveness (daya saing) dapat dilakukan melalui pemetaan sektor-sektor potensial yang dapat dikembangkan, seperti sektor makanan dan minuman, fashion, wisata, dan ekonomi digital. Sementara itu, Certification (sertifikasi) diperlukan untuk memperluas akses pasar.

"Oleh karena itu, para pengambil kebijakan dan pelaku perlu bersama mendorong agar barang dan jasa yang dihasilkan memperoleh sertifikasi halal," ujarnya.

Kemudian Coordination (koordinasi) dan sinergi kebijakan dan program antara pemerintah, Bank Indonesia dan lembaga terkait diperlukan untuk menjadikan ekonomi syariah sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Adapun Campaign (Promosi) diperlukan untuk memperkenalkan kepada publik bahwa gaya hidup halal bersifat universal, tidak hanya untuk muslim, namun juga untuk non muslim.

"Dan yang terakhir, Corporation (kerja sama) antara pemangku kepentingan industri halal nasional dan internasional adalah juga prasyarat untuk membangun dan mengembangkan industri halal global," tutupnya. (mdk/azz)

Baca juga:
5 Strategi Dorong Perkembangan Industri Halal di Indonesia
Fitur Syariah LinkAja Bisa untuk Bayar Iuran BPJS Ketenagakerjaan
Ma'ruf Amin Minta Indonesia Jadi Produsen Produk Halal
Fitur Syariah LinkAja Ditargetkan Rampung Akhir Tahun Ini
Sistem Keuangan Syariah Indonesia Raih Peringkat 4 di Dunia
Temui Wapres Ma'ruf, Tokopedia Bahas Layanan Berbasis Syariah