Berawal Hobi, Disyon Toba Sukses Dirikan Consina Bermodal Rp 50.000

UANG | 15 Agustus 2019 05:30 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Pemandangan indah alam pegunungan tak mungkin terlupakan bagi tiap insan pendaki. Hasil jerih perjuangan tuntas terbayarkan. Rasa ini pun menimbulkan kecintaan. Termasuk untuk Disyon Toba.

Kecintaannya pada kegiatan mendaki gunung tumbuh sejak kelas 2 SMA. Hal ini pula yang memberi kesuksesan pada pria kelahiran 1974 tersebut. Hobi naik gunung membawa Disyon Toba mendirikan bisnis peralatan pendakian, Consina.

Consina terbentuk dari keprihatinan Disyon akan sulitnya mencari peralatan pendakian. Tas, tenda, sepatu dan lain-lainnya.

"Zaman itu hanya ada dua merek produk luar outdoor. Produk luar itu kebanyakan sumbernya dibikin juga dari Indonesia, di antaranya produk Amerika dan Eropa," kata Disyon saat ditemui merdeka.com akhir pekan lalu.

Bermodal dari uang jajan dan pinjaman keluarga sebesar Rp 50.000, Disyon memulai produksi sendiri di 2001. Teman-teman menjadi sasaran pangsa pasarnya.

Produk awal dibuat saat itu berupa tas pinggang. Desain yang dibuat sangat sederhana. Tak dinyana, produknya banyak disukai kolega.

Seiring waktu berjalan produk yang dijual makin beragam. Seperti ransel besar, tenda, sepatu dan segala macam.

consinacasablanca.wixsite.com/consinaadventuretrip

Bahan-bahan yang digunakan saat pertama kali produksi, dimulai dari olahan limbah pabrik impor. "Bahan limbah itu ternyata menghasilkan model yang bagus dan bahan itu tidak ada di Indonesia," ujar dia.

Dengan bahan limbah pabrik itu, konsumen yang membeli menyangka, Consina merupakan merek dari luar negeri. Produk yang diterjunkan ke pasar selalu habis dalam waktu singkat. Consina menyetok produk rata-rata 50 buah, dan semakin hari terus meningkat.

Halangan yang Pernah Dihadapi

Kesuksesan Consina saat ini, bukan tanpa 'keringat dan darah'. Halangan dan rintangan pun pernah dialami oleh Disyon.

"Saat tahun 1999 terjadi kerusuhan di Jakarta. Produksi menjadi menurun, karena bahan baku yang susah dicari saat itu." ungkapnya.

Di 1999, Disyon mengalami kesusahan untuk mencari bahan baku. Kerusuhan di Indonesia membuat pemasok dari luar maupun dalam negeri takut untuk mengirimkan bahan-bahan tersebut. Dalam kondisi saat itu, penggunaan internet sangat terjangkau, belum sebagus yang dirasakan masyarakat sekarang ini.

"Saat itu, kita akhirnya pakai bahan yang kurang bagus, dan itu menyebabkan kualitas menurun," ujarnya.

Setelah kerusuhan, Disyon mendatangi pameran bahan baku yang ada di China. Puji Tuhan, bahan baku kembali dia dapatkan. Pemasok asal Jakarta pun mulai menawarkan barang. Consina pun kembali berjualan.

Pengalaman Disyon Paling Berkesan

Di balik proses membangun Consina, Disyon juga memiliki pengalaman yang berkesan. Di 1998, Disyon pernah tertembak oleh senapan polisi saat sedang terjadi kerusuhan. Waktu itu dia sedang membawa sejumlah uang sebagai modal untuk Consina. Peluru tepat mengarah ke punggungnya (bagian tulang burikat).

"Jadi sebelum kelas saya ikut demo (Trisakti) dulu, bawa duit Rp 50 juta di tas belakang, tidak ada yang tahu itu bawa duit. Ternyata chaos kan itu, tembak segala macam, memang dari siang tidak ada kuliah karena demo nya besar," ucapnya.

Sebelumnya Disyon menunggu sekitar 5-10 detik. Merasakan apakah dia akan terjatuh apa tidak. Ternyata dia baru menyadari bahwa peluru hanya terbuat dari karet. Setelah itu, dia pun pergi keluar kampus. Tetapi polisi masih berjaga dan terdengar tembak menembak di depan gerbang kampusnya.

"Saya lari ke pos satpam, cuma ada saya sama ada wartawan CNN, cuma bule. Dia jago tuh," kata Disyon.

Karena keadaan yang tidak kondusif, Disyon mulai berpikir harus menyelamatkan uang yang dibawanya. Dia kemudian keluar dari kampus itu. Takut ada orang yang menangkapnya baik orang asing maupun pihak kepolisian.

Asal Usul Nama Consina

Nama Consina, diceritakan Disyon, juga mempunyai cerita. Consina ialah hasil ide kreatif dari sang kakak yang telah tiada.

Awalnya, kakak Disyon ingin membangun usaha bersama ketiga temannya itu. Tetapi takdir berkata lain. "Consina singkatan dari nama Cornelius, Simon dan Nathan," jelasnya.

Di kalangan penggemarnya, Disyon tidak pernah menjelaskan sedetail apa arti nama Consina tersebut. Dia mengatakan, "kalau dijelaskan asal mulanya bisa panjang, kan ini dari cerita tentang keluarga," ujarnya.

Disyon menambahkan consina identik dengan lambang Pohon Cemara. Awalnya bentuk cemara yang dipakai berbentuk lurus saja tidak ada liku-likunya. Disyon menjelaskan, cemara yang saat ini sudah ada bentuk lika-likunya dibagian pohon.

"Dulu pertama kali awal sangat kaku sekarang udah dinamis," jelasnya.

Tantangan Consina Saat ini

Tantangan yang dihadapi oleh Consina saat ini adalah proses pemasarannya. Menurut Disyon, dalam proses pemasaran saat ini, surat kabar dan televisi sudah bukan zamannya lagi.

"Sarena kan jalur promosi sekarang sudah beda ya," ucapnya.

consinacasablanca.wixsite.com/consinaadventuretrip

Kini orang-orang melakukan pemasaran dengan menggunakan media sosial. Tetapi Disyon juga menjelaskan, "kalau di media sosial sudah banyak yang menggunakan dan percuma sudah bayar mahal hanya tayang beberapa hari saja."

Pesan untuk Para Pendaki Gunung

Meski disibukan dengan bisnis Consina, Disyon tetap menyempatkan melakukan hobinya mendaki gunung. Saat mendaki gunung dia tidak pernah melihat sampah-sampah itu hilang dari jalur pendakian.

"Saya melihat begitu miris ketika ada sampah yang tidak pernah selesai, saya keluar jalur sana sini sampah, sudah seperti Bantar Gebang," tuturnya.

Dia mengatakan, jalur pendakian tidak pernah luput dari sampah. Mulai bungkus indomie hingga puntung rokok banyak ditemukan. Menurutnya, meskipun dalam potongan kecil, tetapi jumlahnya banyak.

Maka dari itu, Disyon mengajak para pendaki yang bergabung dalam Consina untuk melakukan aksi bersih-bersih. Berkat inisiatifnya, para pendaki pun mengikutinya.

Aksi Disyon dan kawan-kawan viral di media sosial. Consina pun mendapat tawaran kerjasama dari perusahaan melalui kegiatan tanggungjawab sosial.

"Kita berharap apa yang kita lakukan di alam ini, menjadi tren dan menularkan kepada komunikasi yang lain," ujarnya.

Disyon menceritakan, pendaki harus memiliki perasaan yang peduli terhadap lingkungan sekitar. Kepedulian bisa dimulai dari diri kita sendiri agar bisa ditularkan ke masyarakat.

"Seiring makin banyaknya pendaki juga diharapkan menjadi pendaki yang bertanggung jawab."

Reporter Magang: Chicilia Inge

Baca juga:
Deretan Kota Terbaik di Dunia untuk Pengusaha Wanita, Jakarta Peringkat Berapa?
Modal Rp8 Juta Bisa Buka Waralaba Makanan Ini, Keuntungan Sebulan Rp4,7 Juta
Bisnis Paling Cocok Dijalankan Milenial dengan Modal Rp10 Juta, 3 Bulan Balik Modal
AFI Gelar Pameran Waralaba di JCC, Transaksi Diprediksi Capai Rp800 M
Jalankan Bisnis Obat, Mantan Guru Kimia Jadi Wanita Terkaya di Dunia
Cerita Wirausaha Dody dan Kaos Unchal, Ikon Bogor yang Berjiwa Tangguh
Wujudkan Mimpi Jadi Make Up Artist Lewat Aplikasi Ini

(mdk/bim)