Berkas Tak Lengkap, Bulog Tunda Ekspor Beras Kemasan ke Arab Saudi

Berkas Tak Lengkap, Bulog Tunda Ekspor Beras Kemasan ke Arab Saudi
UANG | 27 Februari 2020 12:08 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Budi Waseso mengatakan, pihaknya menunda pengiriman beras kemasan (sachet) ke Arab Saudi, yang dijadwalkan hari ini. Hal tersebut karena masih ada proses administrasi yang belum diselesaikan.

"Seyogyanya memang hari ini diberangkatkan ke Arab Saudi. Tapi masih ada administrasi yang belum lengkap sehingga masih harus dilengkapi," ujar Budi saat ditemui di Gudang Bulog Pulogadung, Jakarta, Kamis (27/2).

Budi mengatakan, untuk tahap pertama perusahaan pelat merah tersebut diminta mengirimkan beras kemasan sebesar 10.000 ton. Harga beras tersebut dikenakan Rp15.000 per Kilogram (Kg).

"Untuk tahap pertama kita diminta mengirim 10.000 ton. Dengan harga 15.000 per kg. Bisa dihitung nilainya berapa," jelasnya.

Dia menjelaskan, ekspor tersebut untuk memenuhi permintaan masyarakat Indonesia yang tinggal di Arab Saudi. Sebab, WNI di Arab Saudi selama ini sulit untuk mendapat beras jenis produksi Indonesia di negara tersebut.

"Sebenarnya sudah banyak permintaan, bahkan beras sachet itu, produksinya untuk ekspor. Di Arab Saudi mengharapkan beras ini bisa segera dikirim khususnya untuk masyarakat Indonesia yang ada di Arab Saudi, itu maunya memang beras Indonesia," tandasnya.

1 dari 1 halaman

Siapkan 500.000 Ton Beras untuk Operasi Pasar

ton beras untuk operasi pasar rev1

Sementara itu, Bulog menyiapkan sekitar 500.000 ton beras untuk operasi pasar selama Ramadan 2020. Beras tersebut berasal dari stok Bulog yang ada saat ini sebesar 1,7 juta ton.

"Ini untuk kebutuhan puasa Lebaran dengan belum ada panen 2 bulan atau 1 bulan ke depan. Kita prediksi kita akan mengeluarkan kurang lebih 500.000 ton dari 1,7 juta," ujarnya.

Budi mengatakan, stok beras akan tetap terjaga walau pun pihaknya melakukan ekspor beras. Sebab, Bulog kini sudah tidak diharuskan memasok beras untuk rastra serta Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

"Tapi kita sudah siap menghadapi ini semua, sehingga catatan saya, karena sekarang kan sudah tidak ada rastra, BPNT, Bulog, tidak mendapatkan, kita tetap karena kita untuk stabilisasi harga, ya kita tetep operasi pasar," jelasnya.

Mantan Kepala BNN tersebut menambahkan, hingga kini harga beras masih cukup stabil di seluruh daerah Indonesia. Bulog memantau setiap pusat penjualan beras masih memiliki stok yang cukup memadai.

"Di pasar, di ritel-ritel, termasuk supermarket itu beras banyak sekali. Sehingga itu yang kembuat sekarang ini harga masih relatif stabil walaupun ada kenaikan tipis. Kenaikan kenapa? karena memang tidak ada produksi," jelasnya. (mdk/azz)

Baca juga:
Bulog Masih Simpan Beras Impor Tahun 2017 Sebanyak 900.000 Ton
Bulog Pastikan Stok Beras Aman Hingga Lebaran 2020
Bulog Usul Impor 200 Ribu Ton Gula Sebelum Lebaran 2020
Meski Harganya Tinggi, Stok Beras di Pasar Dipastikan Masih Aman
Kedai Jenderal Kopi Nusantara, Langkah Budi Waseso Hilangkan Ganja di Aceh
Gudang Hampir Penuh, Bulog Mulai Salurkan 600.000 Ton Beras Hingga Lebaran

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami