Bertemu Ma'ruf Amin, Mantan PM Jepang Bahas Kerjasama Infrastruktur dan SDM

UANG | 20 November 2019 13:57 Reporter : Intan Umbari Prihatin

Merdeka.com - Wakil Presiden Ma'ruf Amin bertemu dengan Mantan Perdana Menteri Jepang Yasuo Fukuda bersama 26 pengusaha, untuk membahas terkait perkembangan dan infrastruktur Indonesia. Dalam Pertemuan tersebut, Ma'ruf didampingi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

"Diskusi kami sangat membangunkan dan pembangunan MRT kerjasama kedua negara. MRT telah diselesaikan pada beberapa bulan yang lalu, kami akan berusaha untuk pembangunan kereta api juga," kata Yasuo Fukuda usai bertemu Ma'ruf di Kantor Wapres, Jalan Merdeka Utara, Rabu (20/11).

Fukuda mengatakan tidak hanya kerja sama terkait infrastruktur saja yang akan dilakukan, namun juga pengembangan sumber daya manusia (SDM) sesuai dengan misi Presiden Joko Widodo (Jokowi). "Kami juga berdiskusi dalam kerjasama di bidang industri untuk membuka lapangan kerja baru," kata Fukuda.

Meski demikian, belum ada kesepakatan antara pihaknya dengan Indonesia. Pertemuan tersebut hanya bagian dari kunjungan bilateral antara Jepang-Indonesia.

"Jadi, tidak ada kesepakatan spesifik ataupun transaksi tertentu. Hal seperti ini tidak ada," ungkap Fukuda.

1 dari 1 halaman

Indonesia-Jepang Pernah Jalin Kerja Sama Tenaga Kerja

Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri dengan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Jepang untuk Indonesia, Masafumi Ishii sebelumnya sepakat menjalin kerja sama di bidang penempatan tenaga kerja berketerampilan spesifik atau Spesified Skilled Worker (SSW) untuk bekerja di Jepang. Hal tersebut dilakukan pada Selasa, 26 Juni 2019.

"Ini kesempatan bagi kita untuk mengisi jabatan-jabatan di sektor formal yang banyak dibutuhkan di Jepang," kata Hanif Dhakiri usai melakukan penandatanganan MoC dan MoU.

Hanif Dhakiri menyatakan, selama ini Jepang relatif tertutup bagi TKA. Namun. mengingat adanya problem populasi di Jepang, kini Jepang telah membuka diri untuk bekerja sama bidang penempatan tenaga kerja yang sebelumnya masih kerja sama pemagangan.

Hanif mengungkapkan, saat ini hingga beberapa tahun ke depan, Jepang akan mengalami shortage tenaga kerja dan aging society. Dengan kondisi tersebut, untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja usia produktif, maka Jepang harus merekrut tenaga kerja asing. Kebijakan baru dikeluarkan pemerintah Jepang dengan menerbitkan regulasi keimigrasian berupa residential status baru bagi SSW (TKA) yang akan bekerja ke Jepang.

"Dengan residential status tersebut, Pemerintah Jepang membuka peluang kerja pada 14 sektor bagi tenaga kerja asing SSW. Total kuota SSW untuk seluruh negara, termasuk Indonesian ada 345.150 tenaga kerja," kata Hanif Dhakiri.

Adapun, sektor-sektor pekerjaan yang dibutuhkan antara lain, Care worker; Building Cleaning Management; Machine Parts and Tooling Industries; Industrial Machiner; Industry Electric, Electronics; and Information Industries Construction Industries Shipbuilding and Ship Machinery Industri; Automobile repair and maintenance; Aviation Industry; Accomodation Industry; Agriculture; Fishery and Aquacultur; Manufacture of food and beverages; dan Food Service Industry. (mdk/azz)

Baca juga:
Pemerintah Pastikan Kelapa Sawit Masuk Dalam Perjanjian Dagang RI-Uni Eropa
Ma'ruf Amin Minta Myanmar Beri Kemudahan Perusahaan RI Ekspansi Bisnis
Strategi Menhan Prabowo Perkuat Pertahanan Indonesia Agar Tak Diganggu Asing
Prabowo Bakal Kirim Taruna Belajar Militer di Malaysia
Indonesia dan India Tingkatkan Kerjasama Pendidikan dan Pelatihan Pertahanan
Kunjungi Korea, Jokowi 'Jemput Bola' Investasi Mobil Listrik Hyundai di RI