BI : Ekonomi Syariah Akan Jadi Arus Baru Perkembangan Ekonomi RI

UANG | 13 November 2019 11:55 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Bank Indonesia (BI) terus mendukung langkah pemerintah untuk memajukan ekonomi syariah di Indonesia. Ini dilakukan agar ke depan ekonomi syariah dapat menjadi arus baru ekonomi di Tanah Air.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan Indonesia saat ini menjadi pemain besar di dalam ekonomi keuangan syariah di dalam negeri maupun di dunia. Tentu saja ini tidak terlepas dari peranan pemerintah selama ini.

"Komitmen tinggi dari Presiden Jokowi. Demikian juga Wakil Presiden yang sudah menggariskan ekonomi syariah akan menjadi arus baru perkembangan ekonomi di Indonesia," kata Perry di acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2019, di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (13/11).

Perry menyampaikan, komitmen pemerintah dalam memajukan keuangan ekonomi syariah terlihat jelas di dalam visi dan misi presiden. Hal itu tercermin apabila dilihat beberapa tahun terakhir yakni dengan berkembangnya ekonomi di pesantren, UMKM, dan industri halal di Indonesia yang demikian maju.

"Di bidang keuangan syariah pemerintah juga menerbitkan sukuk global, pemerintah yang terbesar di dunia BO juga terbitkan sukuk BI. Demikian juga keuangan sosial mobilisasi wakaf sebagai sumber ekonomi produktif ke depan," kata dia.

"Di situ BI punya komitmen kuat. Di sini kami dukung berbagai tidak hanya ekonomi syariah kami terus lakukan kampanye," sambung Perry.

Sejalan dengan itu, Perry juga mengajak seluruh pemangku kepentingan lainnya untuk sama-sama dalam memajukan ekonomi keuangan syariah ke depan. Dengan kekuatan bersama maka diharapkan ekonomi syariah ke depan akan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pemerintah.

"Kami mengajak semuanya bersatu memajukan ekonomi syariah. Dan mari kita sambut jadikan ekonomi syariah arus baru ekonomi Indonesia," tandas dia.

1 dari 2 halaman

Tangkal Pelemahan Ekonomi Global

Perry mengatakan, perkembangan ekonomi syariah di Tanah Air dapat memberi sinyal positif di tengah melambatnya perekonomian global. Sebab, potensi pasar keuangan syariah sendiri cukup besar untuk meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia.

"Perkembangan ekonomi syariah tidak hanya tingkatkan inklusi keuangan Indonesia, tapi juga dalam rangka menangkal kondisi pelemahan dunia," kata Perry.

Saat ini baru ada sekitar 40 persen inklusi keuangan dari ekonomi Indonesia. Dengan berkembangnya ekonomi syariah, maka untuk mencapai angka 100 persen bukan lagi tidak mungkin.

Apalagi pemerintah juga terus mendorong beberapa segmentasi yang menjadi kekuatan pasar ekonomi syariah. Di antaranya yakni melakukan pengembangan di lini pesantren, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), industri pariwisata, industri halal hingga yang lainnya.

"Itu adalah pasar potensi sumber dari daya dukung ekonomi segmen itu perlu dikembangkan. Sehingga jadi daya dukung ekonomi ke depan dalam rangka mitigasi hadapi dampak global ekonomi," tandas dia.

2 dari 2 halaman

Sistem Keuangan Syariah Indonesia Raih Peringkat 4 di Dunia

Islamic Finance Development Indicator (IFDI) yang disusun Refenitiv melaporkan, sistem keuangan syariah di Indonesia tahun ini berhasil menembus lima besar di dunia.

IFDI mengukur lima kriteria keuangan syariah suatu negara, yaitu pertumbuhan kuantitatif, pengetahuan (Knowledge), tata kelola (Governance), kesadaran (Awareness) dan Corporate Social Responsibility (CSR). Refenitiv sendiri terafiliasi dengan Thomson Reuters.

Tahun ini, faktor kunci yang membuat Indonesia unggul adalah berkat peningkatan di sektor Knowledge. Selain itu, ada pertumbuhan aset syariah di Indonesia.

"Indonesia sangat berkembang dalam menyediakan pendidikan keuangan Islami dan penelitian keuangan Islami. Ini menolong industri secara keseluruhan. Ada pula peningkatan aset keuangan Islami, jadi ada sekitar pertambahan lima persen," ujar Shaima Hassan, Propositions Manager, di Jakarta, Selasa (12/11).

Wanita asal Bahrain itu menyebut aset finansial syaria Indonesia tahun ini mencapai USD 86 miliar. Jumlah tersebut sangat besar namun masih bisa dikembangkan mengingat besarnya populasi Indonesia.

Menurutnya, jika sosialisasi soal keuangan Islami di Indonesia ditingkatkan, maka itu bisa mengundang investasi asing masuk ke Indonesia.

Negeri Jiran Malaysia berada di posisi pertama, disusul oleh Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA). Shaima Hassan menyebut tantangan di Indonesia adalah kurang tersedianya data CSR syariah dari perusahaan.

Peran pemerintah pun diapresiasi oleh Shaima atas regulasi-regulasinya. Selain itu, pemerintah juga didorong melibatkan perbankan syariah dalam pembiayaan pembangunan.

(mdk/bim)

Baca juga:
BI Dorong Pesantren untuk Go Digital
BI Gandeng BPS Hitung PDB Halal Indonesia
Bank Indonesia Inisiasi Pembentukan Holding Pesantren
Ekonomi Syariah Dipilih Jadi Solusi Hadapi Ketidakpastian Global, Ini Alasannya
Sistem Keuangan Syariah Indonesia Raih Peringkat 4 di Dunia
80 Persen PDB Indonesia Sesuai dengan Syariat Islam
Ketimpangan Dunia Saat ini Tertinggi Sejak Abad ke-19

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.