BI: Investasi Jadi Kendala Utama Industri Manufaktur Indonesia

UANG | 12 Agustus 2019 15:01 Reporter : Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Sektor manufaktur dipandang sebagai salah satu penopang penting roda perekonomian Indonesia. Namun, masalah investasi menjadi penghambat berkembangnya industri tersebut di Tanah Air ini.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Dody Budi Waluyo menyebutkan jika industri manufaktur mati, maka tidak ada pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan berkelanjutan.

"Mengembangkan industri manufaktur yang lebih kuat dan lebih di masa depan sebagai fondasi ekspor dan peningkatan neraca transaksi berjalan bukanlah tugas yang mudah. Melakukan peran industri manufaktur perlu dukungan investasi," kata dia di Gedung BI, Jakarta, Senin (12/8).

Dia mengungkapkan, saat ini investasi menjadi permasalahan utama dalam sektor manufaktur. Selama kuartal II 2019, laju Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi hanya tumbuh 5,01 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 5,85 persen.

"Investasi pernah masa berjaya historis tumbuh 7-8 persen, investasi swasta bahkan bisa lebih dari itu. Jadi masih banyak room investasi tumbuh," ujarnya.

Menurut dia, pertumbuhan investasi yang rendah di Indonesia tak terlepas dari permintaan produksi yang juga masih belum tinggi. Hal ini pun turut menekan laju ekspor, yang selama kuartal II 2019 terkontraksi 1,81 persen.

"Dengan ekspor melambat permintaan produksi berkurang dan otomatis investasi berkurang dan akan menurunkan pendapatan devisa ekspor," ungkapnya.

Namun dia menekankan mendorong investasi saja tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan bank sentral maupun pemerintah. Namun juga perlu mengantisipasi pertumbuhan ekonomi global yang berpotensi mengalami penurunan. Seperti saat ini, sektor manufaktur unggulan seperti tekstil, otomotif, dan alas kaki perlu mendapat perhatian. Apalagi ketiga sektor tersebut memiliki pangsa pasar yang besar di negara maju.

"Perbaikan dalam iklim investasi mengarah pada industri manufaktur yang lebih kuat adalah kekuatan pendorong di belakang pertumbuhan ekonomi dan pengurangan defisit transaksi berjalan, dan dengan demikian menjadi perhatian utama bagi para pembuat kebijakan, di Bank Sentral. Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan lembaga terkait lainnya. Untuk mengatasinya diperlukan komitmen teguh dari semua pembuat kebijakan di negara ini. Paling tidak Bi melihat sektor unggulan, seperti tekstil, otomotif ,alas kaki, itu masih bisa jadi unggulan masuk ke negara negara maju," ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri manufaktur besar, sedang, maupun kecil melambat pada kuartal II 2019. Hal ini sejalan dengan kondisi global maupun ekspor yang juga mengalami perlambatan. Selama kuartal II 2019, produksi manufaktur besar dan sedang sebesar 3,62 persen, melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 4,45 persen.

Sementara itu, industri mikro dan kecil mencatatkan pertumbuhan produksi yang lebih tinggi dibandingkan industri besar dan sedang, yaitu sebesar 5,52 persen. Angka ini juga melambat jika dibandingkan dengan kuartal II 2018 yang tumbuh 6,88 persen.

(mdk/idr)